Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Malang Raya Berpotensi Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru di Jatim

Ada modal pertumbuhan ekonomi yang positif di 2021 dan indikator inflasi yang terjaga rendah, maka pada tahun ini ekonomi Malang Raya bisa tumbuh lebih baik.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 14 Januari 2022  |  06:34 WIB
Kepala Perwakilan BI Malang, Azka Subhan Aminurridho, saat membuka Forum Ekonomi Malang Raya secara hybrid di Malang, Kamis (13/1/2022). - Istimewa
Kepala Perwakilan BI Malang, Azka Subhan Aminurridho, saat membuka Forum Ekonomi Malang Raya secara hybrid di Malang, Kamis (13/1/2022). - Istimewa

Bisnis.com, MALANG — Malang Raya, yakni Kota Malang, Kab. Malang, dan Kota Batu, berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Jatim menggantikan Gresik–Bangkalan–Mojokerto–Surabaya–Sidoarjo–Lamongan atau Gerbang Kertasusila karena sumber pertumbuhan sudah berubah.

Ketua Ikan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Malang, Wildan Syafitri, mengatakan sumber pertumbuhan ekonomi saat ini sudah berubah, tidak lagi dari sektor manufaktur melainkan dari SDM dalam bentuk riset, inovasi, dan lainnya yang membutuhkan teknologi tinggi.

“Seperti Kota Malang yang terkenal sebagai kota ekonomi kreatif, bisa men-drive ekonomi di daerah sekitarnya untuk berkembang dan bertumbuh bersama,” katanya, pada Forum Ekonomi Malang Raya secara hybrid di Malang, Kamis (13/1/2022).

Dia juga menegaskan, dengan modal pertumbuhan ekonomi yang positif di 2021 dan indikator inflasi yang terjaga rendah, meski inflasi yang terlalu rendah tidak baik bagi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, maka pada tahun ini ekonomi Malang Raya bisa tumbuh lebih baik.

Namun tantangannya, supply chains masih bermasalah sehingga bisa mengganggu pasokan kebutuhan pangan dan energi yang bisa berdampak inflasi. Tantangan lainnya, dukungan infrastruktur juga belum optimal, masalah pengangguran, dan ketimpangan.

“Masalah ketimpangan terjadi karena pertumbuhan orang kaya lebih cepat dari pertumbuhan untuk menekan jumlah orang miskin. Ini perlu kolaborasi antardaerah dan antar-stakeholders agar masalah-masalah tersebut bisa segera dituntaskan,” ucapnya.

Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, memberikan pernyataan senada. Menurut dia, menjelang akhir tahun 2021, perekonomian Malang Raya mulai bangkit dari keterpurukan.

Ekonomi yang lesu selama lebih dari 2 tahun terakhir menunjukkan kegairahannya kembali. Hal ini ditandai dengan beberapa indikator ekonomi yang beranjak naik, salah satunya adalah terjadinya inflasi pada periode Oktober-Desember 2021, hal ini menandakan perbaikan daya beli masyarakat dan geliat ekonomi.

Optimisme gairah perekonomian 2022 diharapkan akan memperluas kesempatan kerja, sehingga “PR” Malang Raya pada 2021 pada aspek pengangguran dan kemiskinan akan terkikis seiring dengan pemulihan ekonomi.

“Peran pemerintah daerah melalui instrumen fiskal pada program-program ekonomi produktif dan percepatan penyerapaan anggaran pada awal 2022 akan menjadi kunci perwujudan optimisme pemulihan ekonomi Malang Raya,” katanya.

Selain itu, layanan publik terkait perizinan yang semakin mudah dan cepat akan mendorong dunia usaha “berlari” padai 2022. Mal Pelayanan Publik yang sudah diresmikan diharapkan mampu menjawab percepatan dan kemudahan layanan publik, khususnya perizinan usaha.

Bahan bakar untuk memanaskan gairah ekonomi agar terus membara pada 2022, yakni optimalisasi Malang Creative Center (MCC) yang rencananya akan dioperasikan pada pertengahan 2022. Hal ini akan terus memacu ekonomi kreatif menjadi lokomotif baru dalam membawa gerbong perekonomian malang raya di masa mendatang.

“Satu hal yang tak kalah penting untuk percepatan pemulihan ekonomi 2022 di Malang raya adalah kerja sama antar daerah untuk menyelesaikan persoalan kemacetan dan degradasi lingkungan. Perwujudan sinergi pentahelix antara pemerintah daerah, akademisi, media, komunitas, dan swasta akan menjadi “the dream team” dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan Malang Raya,” ucapnya.

Kepala Perwakilan BI Malang, Azka Subhan Aminurridho, memperkirakan pada 2021 ekonomi Malang akan tumbuh positif dan tahun ini pertumbuhannya semakin tinggi jika vaksinasi berjalan baik sehingga Covid bisa dikendalikan dengan baik.

Ekonomi Malang Raya, kata dia, berkontribusi 7,91 persen pada ekonomi di Jatim. Pada 2021, ekonomi Kota Malang diperkirakan tumbuh 3,3 persen-4,1 persen, Kab. Malang 3,2 persen-4 persen, dan Kota Baru 3,8 persen-4,1 persen persen.

Sedangkan pada tahun ini, diperkirakan pertumbuhannya lebih besar, yakni Kota Malang 5,09 persen-5,89 persen, Kab. Malang 5,2 persen-6,04 persen, dan Kota Batu 5,39 persen-6,19 persen.

Sektor yang mendorong pertumbuhan ekonomi, yakni industri pengolahan, perdagangan besar/eceran, pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, dan lainnya.

Wali Kota Malang, Sutiaji, menegaskan ekonomi kreatif dan UMKM dapat menjadi pemantik ekonomi di Malang Raya. Oleh karena itulah, perlu dikembangkan marketplace lokal untuk mewadahi pelaku UMKM agar bisa memperluas pasar produk mereka. (K24)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim malang jawa timur
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top