Peternak Ayam Petelur Blitar Keluhkan Harga Jagung

Oleh: Choirul Anam 10 Oktober 2018 | 17:33 WIB
Peternak Ayam Petelur Blitar Keluhkan Harga Jagung
Pekerja mengambil telur di kandang ayam/ANTARA-Adeng Bustomi

Bisnis.com, MALANG—Peternak ayam petelur Blitar mendesak pemerintah untuk menyediakan jagung dengan harga yang wajar agar kelangsungan usaha peternakan rakyat terjaga di tengah melambungnya harga bahan pakan ternak yang menembus Rp5.300/kg itu.

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar Sukarman mengatakan peternak kesulitan mendapatkan jagung dengan harga yang wajar. Panen jagung di sentra Jawa Timur seperti Tuban, Ponorogo, Trenggalek sebagian besar diserap oleh feed mill di Jawa lewat pedagang yang mempunyai purchase order (PO) pabrik

“Sentra panen Nganjuk, Kediri, dan Blitar sebagian besar sudah dikontrak oleh perusahaan benih jagung, sebagian masuk pergudangan,” katanya dihubungi dari Malang, Rabu (10/10/2018).

Karena itulah, peternak yang membeli jagung kepada pedagang langganan sulit mendapatkan jagung dengan harga yang terjangkau karena bersaing dengan harga jagung PO pabrik yang mahal dan terus naik sehingga tidak terjangkau oleh peternak.

“Sudah lebih satu bulan periode Agustus- September peternak membeli jagung di kisaran harga Rp4.700/kg- Rp5.200/kg,” ucapnya.

Karena itulah, kata dia, peternak berharap untuk memdapatkan jagung dengan harga yang wajar. Kebutuhan jagung 1-2 minggu dari sebagian anggota Koperasi Putera Blitar dan asosiasi, saat ini mencapai 10.000 ton.

Peternak bersedia membayar kontan dengan harga Rp4.600/kg, setidaknya paling 3-7 hari setelah jagung tiba di gudang peternak. “Saya sudah berkirim ke Dirfjen PKH yang saya kirim pada 2 Oktober 2018, namun belum memperoleh respon positif,” ujarnya.

Petermak mengaku pusing  dengan harga jagung sebagai bahan pakan utama ayam petelur yang tinggi, yakni  antara Rp5.000 /kg- Rp5.300/kg dan langka. Harga itu  jauh bila dibandingkan harga acuan yang mencapai Rp3.150/kg  di petani dan Rp4.000 di tingkat konsumen/peternak.

Hal itu terjadi karena harga telur terus anjlok. Selasa (9/10/2018), harga telur ayam menembus Rp16.000-Rp16.300/kg, jauh bila dibandingkan harga acuan yang baru, yakni Rp18.000-Rp20.000/kg di tingkat peternak.

“Saat peternak kesulitan mendapatkan jagung seharusnya pemerintah hadir untuk membantunya,” katanya.

Pemerintah memang selalu berujar jika produksi jagung sudah swasembada sehingga tidak memerlukan lagi impor. Namun fakta di lapangan, jagung ternyata sebagian besar  diserap perusahaan feed mill lewat pedagang saat panen di sentra-sentra produksi sehingga peternak kesulitan memperoleh jagung dengan harga yang wjar.

“Jika peternak tidak memungkinkan dapat menyerap jagung lokal dengan harga yang wajar, mestinya diberikan kesempatan untuk impor terbatas agar kelangsungan usaha peternakan ayam petelur bisa terjadi,” ucapnya.

Namun upaya tersebut jelas tidak  mudah karena Mentan sudah mengklaim produksi jagung nasional sudah mencapai swasembada. Dengan begitu, maka tidak perlu lagi impor.

Karena itulah, dia berharap, permasalahan harga telur dan pasokan jagung segera dapat diatasi oleh pemerintah. Jika tidak, maka peternak berencana melakukan demo ke Jakarta dan menuntut Menteri Pertanian Amran Sulaiman agar dapat menyediakan jagung ke peternak dengan harga yang wajar.

Impor jagung secara terbatas tersebut, kata dia, sebenarnya bisa dilakukan oleh Bulog. Hal itu sesuai dengan pula dengan tugas pokok dan fungsinya yang menjaga stabilitas harga kebutuhan pangan.

Yang juga ditunggu peternak, aksi Bulog dalam melakukan pembelian telur langsung ke peternak sehingga harganya bisa terangkat, tidak jatuh terperosok terlalu dalam.

Untuk kebutuhan DOC, kata dia,  sudah ada titik terang. Dirjen PKH Kementan meminta peternak secara kolektif melalui koperasi yang membeli DOC sehingga jumlahnya banyak dan langsung bisa mengakses ke perusahaan. Dirjen PKH bersedia menjadi penjamin sehingga peternak dapat mendapatkan DOC dengan harga yang lebih murah.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya