Pengembangan UMKM, Kolaborasi Bikin Makin Bertaji

Produk kerajinan Parama Art sangat beragam, apa saja ada bergantung pesanan. Kelas pasar yang disasar juga dari kalangan bawah hingga menengah.
Dwi Ana Lisiati pemilik Parama Art saat berada di ruang pamer produk tas dari kain perca di Surabaya, Senin (22/1/2024)./Bisnis-Syaharuddin Umngelo
Dwi Ana Lisiati pemilik Parama Art saat berada di ruang pamer produk tas dari kain perca di Surabaya, Senin (22/1/2024)./Bisnis-Syaharuddin Umngelo

Bisnis.com, SURABAYA - Membuat bisnis itu mudah, mempertahankan usaha agar terus berkelanjutan itu yang menantang. Pengalaman itu disampaikan, Dwi Ana Lisiati, perempuan yang sudah 10 tahun terakhir menggeluti usaha kerajinan yang dibangun dari nol.

"Saya mulai dari nol, membuat kerajinan dari barang bekas," jelasnya saat ditemui Bisnis di rumah sekaligus tempat produksi usaha bernama Parama Art, Senin (22/1/2024).

Kediaman yang terletak di Bratang Wetan IC/14B, Surabaya, itu berada di gang dengan suasana khas perkampungan perkotaan. Rumah berjejer, tembok antarhunian berdempet, gang meliuk dari jalan utama, cukup untuk berpapasan kendaraan roda dua dengan seorang pejalan kaki.

Dua orang perempuan paruh baya sedang duduk lesehan merangkai kain perca saat kami tiba di sana. Mereka mengelesot di ruang tamu. Tangannya aktif membuat lipatan dari potongan kain sehingga membentuk bunga.

"Alhamdulillah sekarang punya dua karyawan yang membantu," kata Dwi Ana, saat ditanya soal aktivitas dua orang perempuan di rumahnya itu. Mereka bekerja fleksibel, bisa harian dan borongan, tergantung pesanan.

Bunga-bunga yang dirangkai pekerja nantinya dibuat untuk menghias sandal jepit. Selanjutnya produk itu dijual di beberapa gerai yang disediakan Pemerintah Kota Surabaya, satu di antaranya di kawasan Kebun Binatang Surabaya (KBS).

Produk kerajinan Parama Art sangat beragam, bahkan bisa dibilang apa saja ada bergantung pesanan. Kelas pasar yang disasar juga dari kalangan bawah hingga menengah. Sebut saja sebagai contoh, sandal berhias kain batik untuk pasar massal, juga dompet batik, bando, dsb. Produk lain seperti tas kulit ukir, tas berbahan rumput mendong, untuk segmen khusus.

"Kalau segmen menengah saya tidak bikin massal, beda seperti sandal dan dompet batik," jelas ibu satu anak yang juga memajang produknya di IG @galery_parama_art.

Dia menggambarkan untuk harga tas kulit bisa Rp1,5 juta, sedangkan sandal berhias Rp30.000-an, dan dompet Rp5.000. Selain eksklusivitas produk, detail pengerjaan hingga kemasan menjadikan harga berbeda.

Jualan produk yang dibuat terbatas juga berbeda dengan produk massal. Meski sama-sama mengandalkan ruang pajang, ruang pamer, maupun galeri, tempat dan momen di mana kegiatan ekshibisi dilakukan turut memengaruhi barang yang ditawarkan.

"Saya ikut misi dagang Pemprov Jatim, Bank Jatim, barang dikurasi dulu. Diadu kualitas dengan UMKM lain. Dikemas sedemikian rupa, lalu dipilih mana yang bisa diikutkan," jelasnya menggambarkan bagaimana pola pemasaran selama ini.

Dwi Ana menuturkan mengikuti pameran selain bisa menyasar segmen pembeli spesifik juga memperluas pasar. Tak jarang selepas kegiatan ada saja pesanan yang masuk. Ada juga yang mengajak kolaborasi.

"Semisal ada UMKM makanan, butik, pembatik karena melihat kemasan kami bagus, minta dibuatkan," tutur nasabah KUR Bank Jatim dengan nilai kredit Rp30 juta untuk tenor tiga tahun.

Pengembangan UMKM, Kolaborasi Bikin Makin Bertaji

Dwi Ana Lisiati pemilik Parama Art./Bisnis

Menurutnya kolaborasi juga membuat usahanya bertahan selama 10 tahun terakhir. Dukungan KUR dari perbankan bisa memperkuat modal, pendampingan dan fasilitasi pameran dari Pemkot Surabaya mendekatkan diri dengan pasar, Pemprov Jatim yang mengajak misi dagang ke luar daerah memperluas pasar.

Perempuan kelahiran 1987 yang berkat kerajinan membukukan transaksi sekitar Rp10 juta per bulan ini berharap fasilitasi dan kolaborasi bisa terus dipertahankan. Ruang pamer publik, galeri Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), lapak UMKM yang disediakan pemerintah di ruang publik sangat membantu.

"Kalau jualan hanya lewat foto, media sosial kurang, mengingat kerajinan itu detailnya harus melihat langsung. Ya, itu harapannya pameran untuk UMKM harus sering," ujarnya.

Dalam kesempatan berbeda, Direktur Mikro, Ritel, dan Menengah Bank Jatim (BJTM) Arief Wicaksono mengatakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang di bawah binaan Bank Jatim ada 350.000 usaha. Selain membantu permodalan, pelaku usaha juga didampingi dan diberdayakan.

"Pelaku UMKM yang levelnya di bawah nantinya dikawal hingga dapat naik kelas," jelasnya.

Bank Jatim mendapat kuota KUR sebesar Rp700 miliar pada 2021, tersalurkan 88,7 persen dari pagu, menjangkau 4.928 debitur. Selanjutnya, pada 2022 BJTM memperoleh kuota Rp2,5 triliun, tersalurkan 95,19%, dengan jumlah debitur 19.159 orang.

Adapun pada 2023 kuota KUR Bank Jatim Rp2,89 triliun, tersalurkan 96% dengan nasabah 22.253 orang.

Menurut Arief, perseroan sangat dipercaya untuk menjadi mitra KUR. Terlebih lagi, tahun ini juga dipercaya menyalurkan KUR Syariah. "UMKM punya peran penting dan strategis dalam perekonomian Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Jadi harus didukung keberadaannya,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Miftahul Ulum
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper