Hilirisasi Pertanian dan Pariwisata Bisa Jadi Bekal Jatim Hadapi Tantangan Global

Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur mendorong agar pemerintah menyiapkan sinergi dan kebijakan ekonomi khususnya untuk hilirisasi pertanian.
Pekerja tampak beraktivitas di sentra produksi PT Garam (Persero)./Dok. PT Garam
Pekerja tampak beraktivitas di sentra produksi PT Garam (Persero)./Dok. PT Garam

Bisnis.com, SURABAYA - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur mendorong agar pemerintah menyiapkan sinergi dan kebijakan ekonomi khususnya untuk hilirisasi pertanian dan pertambangan serta akselerasi sektor pariwisata agar perekonomian tetap terjaga bahkan tumbuh lebih baik.

Deputi Kepala Bank Indonesia Rizki Ernadi Wimanda mengatakan, untuk mendukung pertumbuhan tinggi di tengah tantangan ekonomi global, maka dibutuhkan sinergi kebijakan ekonomi seperti hilirisasi pertanian dan pertambangan serta akselerasi di sektor pariwisata.

"Peluang hilirisasi masih sangat tinggi, yang didukung oleh sumber daya alam (SDA) dan SDM yang masih tinggi. Kapasitas smelter juga akan bertambah yang didorong oleh komitmen kebijakan pemerintah," katanya dikutip dalam rilis Deseminasi Laporan Nusantara 2023, Senin (4/12/2023).

Dia mengatakan setidaknya ada tiga tantangan yang harus dihadapi dalam melakukan hilirisasi sektor industri, yakni tingkat ketergantungan bahan baku impor yang masih tinggi, linked local value change rendah, dan biaya investasi tinggi untuk green ekonomi.

Sedangkan di sektor pariwisata, ada tantangan seperti variasi atraksi wisata terbatas, dan kapasitas tidak sebanding dengan pengunjung, serta konektivitas bandara dan stasiun yang terbatas dan service charge bandara yang dinilai terlalu mahal. "Namun sektor pariwisata ini punya peluang besar dengan ketersediaan hotel dan restoran serta akses jalan tol yang bagus, didukung stasiun dan bandara," imbuhnya.

Rizki memaparkan, hampir seluruh negara dihantui oleh ketidakpastian global yang dapat terimplikasi pada melambatnya perekonomian domestik dan global disertai divergensi antarnegara.

"Tantangan pertama adalah penurunan inflasi diperkirakan akan berjalan lambat meski belum ke sasaran inflasi, tingkat suku bunga bank sentral yang masih tinggi, lalu penguatan mata uang US dolar, serta pelarian modal dari negara emerging market ke negara maju," jelasnya.

Di tengah tantangan itu, lanjut Rizki, Indonesia masih memiliki prospek ekonomi dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,7% - 5,5% dan inflasi 2,5% - 1%. Begitu juga dengan nilai tukar Rupiah yang diperkirakan akan tetap stabil disertai stabilitas eksternal yang terjaga.

“Prospek ekonomi Jatim tahun depan juga di level yang tidak jauh beda dengan proyeksi nasional,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Peni Widarti
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper