Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Bahan Makanan di Malang Turun, Indikator Tantangan Pemulihan Ekonomi

Sepuluh komoditas teratas yang mengalami penurunan harga pada September 2021 yakni cabai rawit, anggur, kelengkeng, telur ayam ras, pir, tempe, bawang merah, cabai merah, tomat, dan kacang panjang.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 02 Oktober 2021  |  09:01 WIB
Harga Bahan Makanan di Malang Turun, Indikator Tantangan Pemulihan Ekonomi
Pekerja membuat tempe dari kedelai impor di sentra industri tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Kamis (23/9/2021). Fluktuasi harga kedelai impor yang tergolong tinggi yakni berada di kisaran Rp9.700 per kilogram membuat perajin tempe setempat memperkecil ukuran tempe serta menaikkan harga dari Rp1.500 menjadi Rp2.000 per bungkus untuk mengatasi pembengkakan biaya produksi yang dialami dalam enam bulan terakhir. - Antara/Ari Bowo Sucipto.
Bagikan

Bisnis.com, MALANG — Kota Malang mengalami deflasi pada September 2021 yang dipicu a.l turunnya bahan-bahan makanan.

Kepala BPS Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini, mengatakan deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya sebagian indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,85 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,04 persen; dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen. Kelompok pengeluaran dengan indeks stabil adalah kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan; dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran.

“Sementara kelompok yang menahan laju deflasi, yakni kelompok pakaian dan alas kaki yang inflasi sebesar 0,12 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,41 persen; kelompok transportasi sebesar 0,58 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,52 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,36 persen,” katanya, Jumat (1/10/2021).

Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–September) 2021 sebesar 0,56 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2021 terhadap September 2020) sebesar 1,15 persen.

Sepuluh komoditas teratas yang mengalami penurunan harga pada September 2021, kata dia, yakni cabai rawit, anggur, kelengkeng, telur ayam ras, pir, tempe, bawang merah, cabai merah, tomat, dan kacang panjang.

Sedangkan 10 komoditas teratas yang mengalami kenaikan harga, yakni kol putih/kubis, handuk, panci, ketimun, lada/merica, celana pendek pria, kapas, buah naga, tas travel/koper, dan tarif kendaraan roda dua online.

Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai penyebab deflasi terbesar sebenarnya dari kelompok bahan makanan dan minuman.

Turunnya harga komoditi pangan seperti cabai, bawang merah, telur ras berdampak pada deflasi. Turunnya bahan komoditas pangan karena pasokan yang melimpah karena panen, namun di sisi lain daya beli masyarakat yang turun.

“Artinya, dalam konteks pandemi, proses recovery perekonomian masih berjalan dengan lambat,” katanya.

Jika ekonomi mulai bergerak cepat maka ada kemungkinan permintaan akan komoditi pangan akan meningkat, khususnya di sektor kuliner dan ini harus diimbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat. oleh karena itu, percepatan dalam penyaluran BLT dan program subsidi lainnya perlu dilakukan karena ini nanti akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi. Sebagian besar pengamat memprediksi efek pantul pertumbuhan pada semester 1/2021 akan melemah.

Rendahnya daya beli masyarakat terhadap komoditas pangan, kata dia, bisa jadi karena merela berhemat karena menyambut program pembelajaran tatap muka sehingga harus membeli seragam baru dan peralatan lainnya

“Seharusnya dengan PPKM yang sudah longgar, aktivitas ekonomi cepat bergerak, yang harapannya dapat meningkatkan permintaan, karena kalau tidak ada inflasi maka ekonomi dinilai tidak atraktif sehingga investor enggan menanamkan modalnya,” ujarnya.

Menurut dia, 60 persen lebih pertumbuhan ekonomi di Malang Raya didukung dari konsumsi rumah tangga. Jika konsumsi rumah tangga lemah dapat dipastikan pertumbuhan ekonomi rendah, sehingga dibutuhkan kehadiran pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat.(K24)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim malang
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top