Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Desa Jutawan di Madiun Lahir dari Porang

Saat orang kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19 pada 2020 lalu, 68 warga Desa Durenan mampu membangun rumah hasil dari panen porang.
Abdul Jalil
Abdul Jalil - Bisnis.com 13 April 2021  |  09:18 WIB
Seorang petani porang dari Desa Durenan, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Mujiono, 56, menunjukkan umbi porang setelah dipanen, Senin (12/4/2021). - JIBI/Abdul Jalil
Seorang petani porang dari Desa Durenan, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Mujiono, 56, menunjukkan umbi porang setelah dipanen, Senin (12/4/2021). - JIBI/Abdul Jalil

Bisnis.com, MADIUN - Desa Durenan, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, kini berubah menjadi desa jutawan. Hal ini setelah sebagian besar warga desa tersebut menanam porang.

Kepala Desa Durenan, Purnomo, mengatakan banyak warga yang beralih menjadi petani porang dalam tiga tahun terakhir. Saat ini ada sekitar 500 petani porang di Desa Durenan. Hal ini setelah mengetahui hasil dari bertani porang hasilnya cukup menggiurkan.

Saat orang kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19 pada 2020 lalu, 68 warga Desa Durenan mampu membangun rumah hasil dari panen porang. “Bangun rumah itu hasil dari menjual porang. Itu hasil tahun 2020 lalu. Ini menjadi bukti bahwa perekonomian masyarakat terkerek dari aktivitas porang ini,” jelas dia saat ditemui JIBI, Senin (12/4/2021).

Purnomo menuturkan sejak menjadi salah satu komoditas andalan, banyak warga yang beralih menanam tanaman porang. Saat ini, didata masih ada sekitar 500 hektare yang belum ditanami porang. Padahal lahan di desanya yang sudah ditanami porang baru mencapai 350 hektare.

Bertani porang, kata dia, memang cukup mudah. Tetapi, modalnya yang lumayan banyak karena harga bibitnya juga mahal.

Dia menuturkan justru selama masa pandemi ini yang terdampak adalah warga perantuan. Sedangkan untuk petani porang tidak mengalami dampak yang berarti bagi perekonomian mereka. “Arahnya semua warga bisa menanam porang, karena porang ini menguntungkan dan sudah ada buktinya,” ujar dia.

Purnomo mengklaim sejak porang menjadi komoditas yang menjanjikan justru berdampak pada penurunan angka kemiskinan. Pada tahun 2015, angka kemiskinan mencapai 42 persen, sedangkan tahun 2020 lalu angka kemiskinan tinggal 20 persen.

Seorang warga Desa Durenan, Mujiono, 56, mengatakan dirinya memiliki lahan sekitar setengah hektare dengan tanaman porang sebanyak 4.900 pohon. Dari menanam porang itu, setiap tahun bisa mendapatkan hasil mencapai Rp36 juta. “Yang terakhir kemarin dapat Rp36 juta. Tahun-tahun sebelumnya juga segitu,” kata Mujiono.

Dia mengaku uang hasil penjualan porang itu telah dimanfaatkan untuk membangun rumah, membeli sepeda motor, hingga membeli lahan kebun untuk mengembangkan tanaman porang.

“Untuk kebutuhan harian, saya mengandalkan hasil panen tanaman lain, seperti jeruk, durian, petai, dan lainnya. Karena tahu bahwa porang panennya sekali dalam setahun,” jelasnya.

Mujiono menuturkan petani porang yang sukses dengan hasil panen hingga puluhan juta rupiah tidak hanya dirinya. Sebagian besar warga desa yang menanam porang juga mendapatkan keuntungan serupa.

Bahkan, kini sebagian anak muda enggan bekerja keluar daerah dan lebih memilih menjadi petani porang.

“Seperti anak saya, baru lulus SMA, tetapi kini fokus bertani porang. Dia tidak ingin bekerja keluar daerah. Cukup diberi lahan untuk mengembangkan tanaman porang,” kata dia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim madiun Porang

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top