Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Memahami Gaya Risma Mengelola Covid-19

Risma menyadari pentingnya sehat tersebut. Oleh karenanya pada 20 Maret, Wali Kota mengeluarkan surat edaran peningkatan kewaspadaan terhadap Covid-19 di Surabaya.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  08:17 WIB
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kanan) menyampaikan pemaparan saat Rapat Analisa Dan Evaluasi Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Di Wilayah Kota Surabaya di Gedung Sawunggaling, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/5/2020). Rapat itu diikuti jajaran kepolisian,TNI dan Aparatur Sipil Negara (ASN). - Antara/Didik Suhartono\n
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kanan) menyampaikan pemaparan saat Rapat Analisa Dan Evaluasi Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Di Wilayah Kota Surabaya di Gedung Sawunggaling, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/5/2020). Rapat itu diikuti jajaran kepolisian,TNI dan Aparatur Sipil Negara (ASN). - Antara/Didik Suhartono\\n

Bisnis.com, SURABAYA - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini selama 10 tahun terakhir mampu menata Kota Pahlawan lebih hijau, memiliki banyak taman, hutan kota, sehingga dikenal dikancah internasional.

Kebijakan menyediakan ruang publik berwawasan lingkungan itu bertujuan agar 3,15 juta penduduk kota merasa nyaman. Tak heran kiranya bila saat akhir pekan, 613 taman-taman maupun jalanan bebas kendaraan merupakan ruang sosial favorit warga kota ini.

Namun semua aktivitas itu dilakukan sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Saat corona terjadi di China akhir Desember 2019, menyebar ke penjuru dunia, dan kini menginfeksi 2.095 orang di Surabaya, maka gerak kota ini dipaksa melambat.

Ruang publik, taman, jalanan dibatasi aksesnya. Tujuannya agar pergerakan orang berkurang dan diharapkan penularan virus corona bisa ditekan. Sehingga bila lebih banyak orang sehat maka kualitas hidup diharapkan lebih baik.

Risma menyadari pentingnya sehat tersebut. Oleh karenanya pada 20 Maret, Wali Kota mengeluarkan surat edaran peningkatan kewaspadaan terhadap Covid-19 di Surabaya. Hand sanitizer didistribusikan, sekolah diliburkan, area publik ditutup, pusat bisnis diminta menjalankan protokol kesehatan.

Selanjutnya gencar dilakukan penyemprotan diisinfektan massal yang dimulai sejak 16 Maret. Memasang bilik sterilisasi di beberapa tempat strategis. Mendistribusikan bantuan ke warga wajib karantina, mendirikan dapur umum, menambah kapasitas rumah sakit, ruang karantina dan berbagai fasilitas pendukung lain.

Setelah berjalan tiga bulan, dari Maret hingga Mei, ada 1.730 orang aktif dirawat di Surabaya akibat corona. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memasuki putaran ketiga, menjejak di pekan kelima.

Ada sejumlah kejadian menonjol dalam periode itu, beberapa di antaranya konfirmasi pedagang positif corona di pasar tradisional, mal maupun pabrik rokok. Sempat pula viral warga berjubel berbelanja menjelang lebaran tiba, mengabaikan protokol kesehatan.

"Di [masyarakat] bawah tidak takut corona, [mereka berprinsip] saya harus hidup, [harus] bisa makan," demikian Risma menggambarkan mengapa ada pengabaian protokol kesehatan di sejumlah titik di Surabaya.

Seperti lazimnya Kota Metropolitan, daerah yang dipimpin Risma ini juga memiliki wilayah dengan kemampuan ekonomi terbatas. Ada kampung kumuh, ada orang yang bekerja harian, karyawan pabrik maupun kelas menengah pegawai.

"Saya kini bisa mengelompokan siapa pasien [dari latar belakang sosial ekonomi seperti apa]," kata Risma dalam Webiner Liputan6 yang digelar, Selasa (26/5/2020).

Berdasar kondisi tersebut Risma mengatakan tidak bisa memaksa semua tinggal di rumah, sebagai bagian upaya memutus rantai Covid-19. Daya dukung yang dimiliki pemerintah daerah juga tidak akan mampu menanggung hajat hidup penduduk.

"Ini tidak untuk menyakiti tenaga medis," katanya soal tak mengambil sikap tegas ke semua kalangan. Namun demikian, Risma menegaskan mobilitas penduduk tetap dibatasi, ketua RW dan RT dilibatkan dan itu berjalan dengan baik.

Adapun di sisi kesehatan, Surabaya telah mengalami kelebihan pasien Covid-19. Dua dokter dan tiga perawat wafat karena pandemi ini. Kebutuhan alat pelindung diri diakui tidak bisa dipenuhi sendiri oleh pemerintah.

"Saya mencoba karena APD kebutuhan cukup besar, mencoba adil, kalau dapat batuan 2000 APD, akan bagi ke seluruh rumah sakit. Ada 20 rumah sakit rujukan, 30 rumah sakit nonrujukan. Kita dahulukan rujukan," jelasnya.

Menurutnya menghadapi pandemi Covid-19 sangat diperlukan disiplin menjalankan pola hidup sehat agar meringankan beban berat tenaga medis.

Meski lonjakan pasien di Surabaya masih tinggi, Risma meyakini tren tersebut bakal segera melandai seiring gencarnya tes cepat. Sudah dilakukan 17.000 kali tes cepat di Surabaya.

Didasari fakta sosial ada kelas ekonomi yang perlu tetap beraktivitas, tidak ada yang tahu batas akhir pandemi, daya dukung keuangan daerah terbatas, Risma menyiapkan rencana pemulihan ekonomi.

"Kami menata pasar, agar tetap sentra perekonomian bergerak, memang itu tidak cukup, karena ada beban PHK. Kami tetap menyiapkan ke depan konsep untuk peluang dan kesempatan kerja, proyek atau kegiatan," tegasnya.

Namun demikian, rencana pemulihan ekonomi belum bisa dijelaskan detail. Sebab ia menegaskan sikap,"Saya menghormati tenaga medis yang masih berjuang."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim surabaya jawa timur
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top