Ekspor Perhiasan Asal Jawa Timur Mengalami Koreksi

Oleh: Peni Widarti 25 Juni 2018 | 21:36 WIB
Ekspor Perhiasan Asal Jawa Timur Mengalami Koreksi
Perhiasan emas./Bloomberg-Billy H.C. Kwok

Bisnis.com, SURABAYA — Komoditas perhiasan/permata Provinsi Jawa Timur yang selama ini menjadi kontributor terbesar dalam kinerja ekspor Jatim menunjukkan tren penurunan 22,63% pada Mei 2018.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono menjelaskan ekspor perhiasan pada Mei 2018 tercatat US$202,19 juta menurun 22,63% dibandingkan April 2018 yang mencapai US$261,33 juta.

"Secara kumulatif Januari-Mei 2018 juga mengalami penurunan 4,5% selama periode Januari-Mei 2018 yakni hanya tercapai US$1,3 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mampu mencapai US$1,4 miliar," katanya saat merilis kinerja ekspor-impor Jatim, Senin (25/6/2018).

Dia mengatakan penurunan kinerja ekspor tersebut lebih disebabkan oleh turunnya volume ekspor dari 171.000 kg pada April 2018 menjadi hanya 118.000 kg pada Mei 2018.

"Padahal harga perhiasan permata di pasar dunia sedang bagus-bagusnya tapi volume penjualannya turun" katanya.

Dia memperkirakan saat ini industri perhiasan permata di Jatim masih dalam proses produksi seiring dengan adanya impor bahan baku perhiasan ke Jatim yang juga meningkat.

"Kalau dilihat dalam kinerja impor kita pada Mei 2018, komoditas perhiasan/permata mengalami kenaikan yang tinggi 1.183% dibandingkan impor April 2018, mungkin perhiasan emas dalam bentuk bongkah ini yang akan diproduksi di sini," jelasnya.

Teguh menambahkan, meski mengalami penurunan yang drastis, komoditas perhiasan permata masih menjadi penyokong kinerja ekspor non migas Jatim secara keseluruhan.

"Selain perhiasan permata juga ada kayu dan batang dari kayu yang menyumbang ekspor kita yakni sebesar US$132,97 juta serta lemak dan nabati US$114,85 juta," imbuhnya.

Adapun BPS Jatim mencatat kinerja ekspor pada Mei 2018 mencapai US$1,82 miliar atau naik 11,12% dibandingkan April 2018. Tujuan ekspor tersebut kebanyakan ke Jepang, Amerika Serikat, China serta negara-negara Asean dan Uni Eropa.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya