Ekonomi Mudik Tidak Ancam Inflasi Malang

Oleh: Choirul Anam 18 Juni 2018 | 20:12 WIB
Ekonomi Mudik Tidak Ancam Inflasi Malang
Candi Singosari di Kabupaten Malang/Istimewa

Bisnis.com, MALANG — Kegiatan mudik berdampak positif dalam menumbuhkan perekonomian daerah dan tahun ini lebih istimewa karena tidak disertai dengan ancaman peningkatan inflasi.

Ekonom dari Universitas Brawijaya Malang Dias Satria mengatakan pertumbuhan ekonomi jelas meningkat pada daerah tujuan mudik, namun untuk kepastian perlu melihat pada kuartal III/2018.

“Namun dengan adanya aktivitas mudik, mestinya daerah lebih menyiapkan diri dengan me-rebranding potensi ekonomi lokal,” ucapnya di Malang, Senin (18/6/2018).

Dengan adanya re-branding, maka kecintaan para pemudik terhadap produk lokal akan menguat bersama ketika mereka kembali ke kampung halaman.

“ Inilah esensi sebuah multiplier ekonomi dan pembangunan yg inklusif. Bahwa partisipasi masyarakat yang luas perlu untuk didorong agar andil dalam aktivitas ekonomi mudik,” ucapnya.

Kegiatan mudik tahun ini juga tidak mengancam inflasi dengan adanya aktivitas pemesanan tiket secara online sehingga tidak mendongkrak harga karena permainan calo.

Harga kebutuhan pokok juga relatif stabil karena tata niaganya yang relatif baik serta pasokannya yang mencukupi.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Candra Fajri Ananda menambahkan sektor yang diuntungkan dari kegiatan mudik, yakni  sektor jasa, didalamnya ada perdagangan, hotel, restoran, serta telekomunikasi.yang tentu memegang porsi utama.

Lewat kegiatan mudik, ekonomi daerah tentu akan bergairah. Yang menjadi masalah, tinggal kesiapan daerah sendiri untuk mampu menangkap peluang tersebut.

Produk-produk daerah, hotel-hotel yang baik, bersih, restoran yang baik dan menyajikan kuliner yang memikat, tentu diperlukan agar para pemudik membelanjakan uangnya.

Jika daerah tertentu seperti Kota Malang dan sekitarnya tidak siap, maka akan kalah bersaing dengan daerah tetangganya sehingga maka berkah dana pemudik tidak akan berdampak pada daerah tersebut. Justru daerah tetangga yang menjadi pesaing akan mendapatkan berkah.

“Angka pasti dari perputaran uang karena aktivitas mudik, angka pastinya sulit dihitung, namun saya memperkirakan Rp2 triliun-an untuk Kota Malang, Kab. Malang, dan Kota Batu, sedangkan untuk Jatim, tentu lenbih tinggi, sekitar Rp10 triliun-an,” ujarnya.

Tahun ini, perputaran uang ke daerah dari aktivitas mudik diperkirakan lebih tinggi bila dibandingkan dengan tahun lalu yang periode liburannya lebih lama.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Jatim Dwi Cahyono mengatakan hotel-hotel dan restoran tentu antusias dan bersiap menyambut tamu di libur Lebaran karena pada Ramadan mengalami paceklik karena berkurangnya tamu.

Dengan momen yang bagus libur Lebaran, maka hotel dan restoran tidak menyia-nyiakan sehingga mempersiapkan dengan baik agar tamu betah tinggal di hotel di Malang dan sekitarnya maupun di Jatim secara umum.

Kesiapan yang sama juga pada objek-objek wisata, baik yang menggunakan tiket maupun yang gratis. Di Jatim, ada 782 objek wisata.(k24)

Editor: Demis Rizky Gosta

Berita Terkini Lainnya