Cegah Kenaikan Harga Telur dan Ayam, Pj Wali Kota Malang Instruksikan TPID Lakukan Intervensi Pasar

Pj Wali Kota Malang menginstruksikan TPID untuk melakukan intervensi pasar demi cegah lonjakan harga.
Kebutuhan pokok di pasar tradisional./Ilustrasi-Bisnis
Kebutuhan pokok di pasar tradisional./Ilustrasi-Bisnis

Bisnis.com, MALANG - Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menginstruksikan kepada TPID untuk melakukan intervensi dalam rangka mencegah terjadinya kenaikan harga pangan akibat naiknya harga jagung ini, terutama bagi komoditas telur dan daging ayam ras.

“Meski harga daging ayam dan telur saat ini berada di level aman, akan tetapi penting bagi TPID Kota Malang untuk memikirkan upaya mencegah harga agar tidak naik hingga ke tingkat konsumen,” ujarnya di sela-sela Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Kemendagri secara daring di Ruang Ngalam Command Center (NCC) Balai Kota Malang, Senin (29/1/2024).

Sejak awal Januari yang lalu, kata dia, Mendagri sudah mengingatkan untuk mewaspadai kenaikan harga jagung karena dikhawatirkan akan berpengaruh juga pada harga telur dan daging ayam. 

“Mumpung harganya belum naik, maka perlu kita lakukan intervensi untuk mencegah hal itu terjadi," ujarnya.

Untuk menjaga laju tingkat inflasi rendah, pihaknya berencana untuk melakukan sinergitas dengan daerah-daerah lain dengan tingkat komoditas yang surplus, seperti misalnya dengan Kabupaten Probolinggo untuk komoditas bawang, juga dengan Kabupaten Malang untuk komoditas cabai dan jagung.

Rencananya, usulan ini akan disampaikan dalam High Level Meeting TPID Kota Malang guna pembahasan lebih lanjut terkait dengan realisasinya. 

Mendagri, Tito Karnavian, dalam rapat tersebut mengapresiasi pada seluruh pihak yang terus berupaya dalam menjaga laju tingkat inflasi agar terkendali.

Saat ini tingkat inflasi nasional masih cukup terkendali, dimana tingkat inflasi bulan Desember 2023 sebesar 2,61% (yoy) turun dari inflasi November 2,86%. Meski begitu sejumlah komoditas masih menjadi penyumbang kenaikan inflasi di sejumlah daerah, seperti misalnya beras, yang menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi terbesar sebesar 0,53% (yoy).

"Intinya yang paling utama adalah kita tetap bekerja untuk mengendalikan inflasi yang saat ini cukup terjaga dengan baik. Tapi kita selalu mengupdate karena selalu berubah, dan saat ini komoditas yang menjadi perhatian kita bersama adalah bawang putih, beras, telur ayam ras, dan juga jagung, terutama jagung pakan untuk ternak," jelasnya.

Laju kenaikan tingkat inflasi komoditas beras saat ini, kata dia, masih dapat dikendalikan dengan diberikannya bantuan pangan beras dan gerakan lainnya yang juga efektif menahan laju inflasi pangan. 

Bantuan dari pemerintah terkait dengan pendistribusian komoditas beras ini, yakni kegiatan Stabilisasi Pasokan Harga Pasar (SPHP) yang dilakukan oleh Perum Bulog yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah dalam rangka pengendalian inflasi, khususnya kelompok makanan dengan membentuk 'Hub atau Stockist' di pasar. 

Kota Malang menjadi salah satu daerah yang melakukan kegiatan SPHP ini melalui program Warung Tekan Inflasi Mbois Ilakes yang sebelumnya dilakukan di tiga pasar di Kota Malang, yaitu Pasar Dinoyo, Pasar Besar, dan Pasar Blimbing.

Melalui penyaluran SPHP ini Harga Eceran Tertinggi (HET) dapat terjaga hingga konsumen akhir. Realisasi SPHP pada per 28 Januari 2024 sejumlah 121.294 Ton.

"Langkah-langkah dari Badan Pangan saya kira cukup banyak untuk menstabilkan harga, mulai dari SPHP beras dan cadangan beras komersial, penyaluran bantuan pangan, dan juga penyaluran bahan telur dan daging ayam untuk penanganan stunting, gerakan pangan murah di sejumlah titik di 38 provinsi dan juga fasilitasi distribusi pangan dari surplus ke daerah minus," ucapnya.

Menurut dia, jagung juga menjadi komoditas yang patut untuk diwaspadai. Tercatat, harga jagung melonjak tinggi per-26 Januari 2024, harga rata-rata sudah mencapai Rp8.290/kg, naik 13,56% dibanding 1 Januari 2024.

Harga ini sudah 65,8% lebih tinggi dibandingkan Harga Acuan Pembelian (HAP). Disparitas harga antardaerah tinggi ini, dia menilai,.masalahnya ada di pasokan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat, saat ini terjadi defisit jagung pada Januari 2024 ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Choirul Anam
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper