Tren Produksi Tanaman Tebu Jatim Meningkat, Ini Harapan Gubernur Khofifah

Peningkatan produksi ini diharapkan dapat menjadi modal bagi Indonesia mewujudkan swasembada gula, dan Jatim sebagai barometer gula nasional.
Grafis produksi tanaman tebu Jatim 2022. -Ist
Grafis produksi tanaman tebu Jatim 2022. -Ist

Bisnis.com, SURABAYA — Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur mencatat tren produksi tanaman tebu Jatim dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan sehingga tahun ini telah menyumbang sebanyak 47,65 persen dari total produksi tanaman tebu nasional. 

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan peningkatan produksi ini diharapkan dapat menjadi modal bagi Indonesia mewujudkan swasembada gula, dan Jatim sebagai barometer gula nasional. Untuk itu, ia mengingatkan petani untuk terus merawat komunikasi dan koordinasi dengan beberapa instansi yang memiliki pusat penelitian maupun pabrik gula.

“Selain itu, saya mendorong agar petani tebu mau memanfaatkan transformasi digital dalam setiap proses pengolahan tebu agar dapat termonitor, mulai dari mencari bibit yang baik, proses panen termasuk transparansi kadar redemen gula, sekaligus kualitas akan ikut meningkat karena lebih produktif dan efisien,” ujarnya, Selasa (13/12/2022).

Adapun data Dinas Perkebunan Jatim mencatat jumlah produksi tanaman tebu Jatim pada 2020 mencapai sebanyak 13,8 juta ton dengan rata-rata tingkat rendemen 7,15 persen. Kemudian pada 2021 produksi tanaman tebu sebanyak 14,7 juta ton atau dengan rendemen 7,35 persen. Sedangkan tahun ini, produksi tebu mencapai 17,36 juta ton.

Sementara, produksi gula di Jatim pada 2022 berdasarkan data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian tercatat 1,19 juta ton atau menyumbang 49,55 persen dari produksi gula nasional 2,4 juta ton.

Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Heru Suseno mengklaim bahwa peningkatan produksi tebu petani rakyat ini merupakan hasil dari inovasi program Timbangan Tebu (Integrasi Ketersediaan Bahan Baku dan Manajemen Tebang Angkut Berdasarkan Klaster PG Berbasis Tebu). 

"Inovasi ini mensinergikan masing-masing peran dari setiap pemangku kebijakan," katanya.

Dia menjelaskan, program timbangan tebu tersebut diimplementasikan dengan memberikan bantuan kepada petani antara lain melalui kegiatan bongkar ratoon, rawat ratoon, perluasan areal tebu dan kebun Keragaan Pengembangan Warung Tebu. 

"Program ini mendorong terbentuknya pendekatan klasterisasi pabrik gula menjadi 6 klaster antara lain Klaster Madiun, Klaster Mojokerto, Klaster Malang, Klaster Kediri, Klaster Probolinggo, dan Klaster Situbondo," jelasnya.

Menurutnya, melalui pendekatan klasterisasi pabrik gula diharapkan lalu lintas pengiriman tebu dari kebun ke pabrik dapat lebih efektif dan efisien sehingga tidak mengurangi potensi penurunan rendemen akibat waktu perjalanan yang terlalu panjang dan agar tebu dapat memenuhi kategori Manis, Bersih dan Segar (MBS).

“Dengan adanya integrasi berbasis klaster ini, maka komitmen pabrik gula dalam menggiling tebu di wilayah klaster semakin meningkat,” imbuhnya.

Heru menambahkan, pihaknya juga terus melakukan monitoring ke pabrik gula serta memberikan edukasi kepada petani tebu melalui Pelatihan Budidaya Tebu yang baik dan benar sesuai Good Agricultural Practice (GAP) melalui kerja sama dengan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Peni Widarti
Editor : Peni Widarti
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper