Petani Tebu di Situbondo Demonstrasi Pabrik Gula, Ini Aspirasinya

Selain rencana aksi keterlambatan pembayaran penjualan tebu, petani juga menuntut kenaikan harga tebu.
Pekerja mengangkut tebu dari lahan./Antara-Prasetia Fauzani
Pekerja mengangkut tebu dari lahan./Antara-Prasetia Fauzani

Bisnis.com, SITUBONDO - Para petani tebu di Situbondo, Jawa Timur, menjadwalkan akan melakukan unjuk rasa ke Pabrik Gula (PG) Assembagoes pada Rabu (3/8/2022) ini karena unit usaha PT Perkebunan Nusantara XI belum membayar penjualan tebu selama tiga periode terakhir.

Para petani tebu yang akan berunjuk rasa menuntut keterlambatan pembayaran penjualan tebu ke PG Assembagoes, yakni petani di Kecamatan Jangkar, Asembagus, dan Banyuputih.

"Tidak seperti biasanya, PG Assembagoes sudah tiga periode belum membayar penjualan tebu petani, yakni mulai periode 44 hingga memasuki periode 47 hari ini. Kami tidak tahu kenapa terlambat pembayarannya, makanya besok petani akan demo PG," kata Hariyadi, salah seorang petani asal Desa/ Kecamatan Jangkar, Situbondo, Selasa (2/8/2022).

Menurut ia, biasanya petani menerima uang hasil penjualannya ke PG Assembagoes dua hari setelah tebu mereka ditimbang dan digiling ke pabrik gula di Kecamatan Asembagus itu.

"Ini sudah tiga periode belum terbayarkan, tentunya ini berdampak pembayaran upah kepada kuli tebang dan tebang angkut (truk tebu). Kasihan mereka juga terdampak upahnya tidak kami bayar karena keterlambatan pembayaran dari PG," ucapnya.

Selain rencana aksi keterlambatan pembayaran penjualan tebu petani, kata Hariyadi, petani juga menuntut kenaikan harga tebu. Karena, lanjut dia, PG Assembagoes masih stagnan membeli tebu petani seharga Rp64.000 per kuintal.

"Padahal, informasi dari teman-teman, di tempat lain tebu petani dibeli Rp70.000 per kuintal . Semestinya bulan ini harga tebu sudah dinaikkan sesuai rendemen pada bulan ini," katanya.

Sementara itu, Asisten Manajer AKU PG Assembagoes Situbondo Bima Sinarmoyo menyampaikan permintaan maaf kepada para petani atas keterlambatan pembayaran.

"Keterlambatan pembayaran tebu petani karena memang ada keterlambatan penyediaan dana (dropping) dari kantor pusat (PT Perkebunan Nusantara XI) di Surabaya," tuturnya.

Mengenai harga pembelian tebu petani oleh PG Assembagoes, menurut Bima, menyesuaikan dengan rendemen tebu yang sampai sekarang masih rata-rata 6,7 persen karena kadar air berlebih yang diakibatkan cuaca tidak menentu, dan terjadi hujan.

"Perusahaan kan membeli tebu petani juga menyesuaikan kualitas tebu. Memang di wilayah Asembagus tidak hujan, tapi di beberapa lokasi lain terjadi hujan sehingga berpengaruh pada kadar gula dalam batang tebu," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Newswire
Editor : Miftahul Ulum
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper