Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Mistono Eksis Jualan Kopi Luwak Didukung Bank Jatim

Kopi robusta asal Dampit dan Tirtoyudo, mempunyai kekhasan karena rasanya yang tebal, kuat, gurih, ada rasa kacang-kacangan, dan karamel tipis-tipis.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 12 Juli 2022  |  18:45 WIB
Kisah Mistono Eksis Jualan Kopi Luwak Didukung Bank Jatim
Kopi robusta beans yang dibeli Mistono dipilah sebelum diroasting. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, MALANG — Kopi luwak yang diproses dari kotoran hewan nokturnal ini cukup dikenal di pasar dunia maupun Tanah Air. Namun karena produk ini berharga premium, maka tidak banyak yang eksis karena kendala pasar spesifik.

“Banyak pelaku trader kopi luwak yang bangkrut karena sulit memasarkan produk,” kata Mistono, pedagang kopi luwak asal Dampit, Malang, Jawa Timur, Selasa (12/7/2022).

Dengan harga Rp1,5 juta/kg maka banyak orang berpikir ulang untuk membeli kopi luwak. Mereka lebih memilih kopi dengan harga yang terjangkau. Apalagi untuk keperluan café dan semacamnya yang dituntut mencari kopi dengan harga yang kompetitif.

Dia beruntung, termasuk salah satu pedagang kopi luwak yang berhasil bertahan. Kuncinya, produk kopi harus berkualitas sehingga dapat memenuhi selera pasar yang sangat tersegmentasi itu.

Mistono menjual kopi luwak yang berasal dari Tirtoyudo, Kab. Malang. Kopi robusta asal Dampit dan Tirtoyudo, mempunyai kekhasan karena rasanya yang tebal, kuat, gurih, ada rasa kacang-kacangan, dan karamel tipis-tipis.

“Kekhasannya lagi, kopi robusta asal daerah ini mempunyai nilai historis yang tinggi, karena kali pertama di tanam kolonial Belanda dan berhasil,” ujarnya.

Dengan pangsa pasar yang terbatas, kata dia, maka dirinya tidak muluk-muluk untuk meningkatkan omzet. Sejak 2005 saat dirinya memulai bisnis ini, hanya mampu menjual kopi luwak robusta sebanyak 60 kg/tahun.

Kopi sebanyak itu untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke Korea Selatan. Ekspor dilakukan lewat pembeli lokal. Kemudian, Mistono berupaya mengembangkan usaha kopi. Terlebih pada 2019, dengan bendera CV Kopi Luwak Dampit, diajak Bank Jatim untuk mengikuti pertemuan business to business di Bali.

“Sudah ada kesepakatan dengan Joger. Joger bersedia bekerja sama dengan kami, menjual kopi di gerai Joger. Joger juga membantu mem-branding dengan kata-kata sehingga lebih dapat menarik pembeli,” ucapnya.

Namun kesepakatan bisnis tersebut gagal terealisasi karena pandemi datang yang berdampak Bali sepi wisatawan. Oleh karena itu, bersamaan dengan meredanya pandemi, dirinya akan mencoba mencari informasi terkait kelanjutan kesepakatan bisnis tersebut.

Dia juga berinisiatif mengembangkan produksi kopi karena dirinya memiliki lahan yang luas, yakni 1.200 hektare. Dari lahan seluas itu, 10 hektare rencananya akan ditanami ulang. Untuk memulai usaha tersebut, dia mencari kredit ke Bank Jatim, senilai Rp120 juta.

Terkait pasar, kata dia, sudah ada gambaran. Importer asal Korea Selatan bersedia menyerap kopi robusta beans sebanyak 60 ton/tahun.

Potensi ekspor tersebut, kata dia, dapat dipenuhi dengan menyerap kopi di Dampit, bisa pula dipenuhi dari usaha menanam kopi sendiri di lahan milik keluarga mereka.

Importer asal Korea Selatan sudah menyatakan berminat untuk berinvestasi di usaha perkebunan kopi miliknya. Jika tidak, bisa dipenuhi dari bank, terutama Bank Jatim.

“Tapi tentu harus dihitung betul, terutama terkait kepastian penyerapan kopi, juga nilai investasi dari usaha penanaman kopi karena tanaman tersebut baru berproduksi pada tahun ke dua,” ujarnya.(K24)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jelajah Kopi kopi bank jatim malang
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top