2020, Suparma Genjot Produksi Tisu dengan Mesin Baru

PT Suparma Tbk tahun depan fokus pada penyelesaian proyek pengembangan unit mesin untuk menggenjot produksi tisu dengan kapasitas terpasang mencapai 54.000 MT mengingat tren permintaan tisu terutama untuk sektor hotel, restoran dan kafe (horeka) terus meningkat.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 15 November 2019  |  15:30 WIB
2020, Suparma Genjot Produksi Tisu dengan Mesin Baru
Direktur PT Suparma Tbk Hendro Luhur (tengah) saat memamerkan sejumlah produk tisu Suparma dalam RUPS, Kamis (14/11/2019) - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, SURABAYA - PT Suparma Tbk tahun depan fokus pada penyelesaian proyek pengembangan unit mesin untuk menggenjot produksi tisu dengan kapasitas terpasang mencapai 54.000 MT mengingat tren permintaan tisu terutama untuk sektor hotel, restoran dan kafe (horeka) terus meningkat.

Direktur Suparma, Hendro Luhur mengatakan pada April 2020, perseroan rencananya mulai menerima mesin PM10 yang memiliki investasi US$32,1 juta. Setelah pemasangan mesin, diperkirakan unit mesin ini akan beroperasi secara komersial mulai Oktober 2020.

“Kenapa kami fokus pada produk tisu? Ini karena tisu marginnya paling bagus, begitu juga dengan pasarnya. Sambil menunggu mesin No.10 tahun depan, untuk memenuhi pasar tisu, maka kita produksi pakai mesin No.1 – No.3 yang sebelumnya digunakan untuk kertas bungkus cokelat,” jelasnya saat paparan public, Kamis (14/11/2019).

Dia mengatakan dalam beberapa tahun belakangan ini, bisnis horeka mengalami pertumbuhan yang positif. Kondisi tersebut berdampak pada industry kertas tisu yang ikut meningkat.

“Penjualan tisu kami telah memberikan kontribusi sekitar 25% dari total sales dan ini terus meningkat. Kontribusi yang terbesar adalah kertas dupleks 40%, dan disusul kertas laminasi 35%,” katanya.

Adapun perseroan mencatatkan kinerja penjualan hingga Oktober 2019 telah mencapai Rp2 triliun atau setara 83% dari total target penjualan tahun ini yang dipatok Rp2,5 triliun atau sekitar 212.000 MT.

Target penjualan tahun ini meningkat dibandingkan realisasi 2018 yang tercapai Rp2,3 triliun dengan volume 226.870 MT.

"Meski sampai Oktober masih 83%, tapi kami masih konsisten dengan target dan tidak melakukan koreksi. Kami masih optimistis bisa mengejar target penjualan sampai akhir tahun mengingat masih ada momen Natal dan Tahun Baru yang biasanya berdampak pada okupansi hotel dan restoran,”jelasnya.

Selain itu, lanjut Hendro, perseroan juga mulai agresif meningkatkan penjualan kertas laminasi atau bungkus cokelat yang bahan baku plastiknya terlah diganti dengan oxium sehingga lebih ramah lingkungan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jatim, tisu

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup