Program 10 Bali Baru : Jatim Ingin Kembangkan Bromo hingga Sumenep

Pemerintah Provinsi Jawa Timur merencanakan pengembangan kawasan pariwisata terintegrasi mulai dari selingkar Bromo Tengger Semeru (BTS), Gunung Wilis, Gunung Ijen hingga Pulau Sumenep guna mencapai target Jatim sebagai satu dari 10 daerah destinasi Bali baru.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  17:23 WIB
 Program 10 Bali Baru : Jatim Ingin Kembangkan Bromo hingga Sumenep
Suasana pemandangan Gunung Bromo, Jawa Timur - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur merencanakan pengembangan kawasan pariwisata terintegrasi mulai dari selingkar Bromo Tengger Semeru (BTS), Gunung Wilis, Gunung Ijen hingga Pulau Sumenep guna mencapai target Jatim sebagai satu dari 10 daerah destinasi Bali baru.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan pengembangan infstrastruktur BTS sudah masuk dalam proyek strategi nasional (PNS). Namun, Pemprov Jatim menginginkan agar akselerasi percepatan pembangunan kawasan wisata tidak hanya di selingkar BTS melainkan langsung untuk Semenep.

“Dua minggu lalu ada rapat terbatas dengan presiden, saya sampaikan BTS sudah masuk PSN, tapi saya ingin percepatan enggak sekedar di BTS tapi juga Sumenep, karena kalau dari Bromo kemudian ambil sisi pantainya maka wisatawan akan mendapatkan Gili Labak dan Gili Iyang, termasuk konservasi mangrove di Kota Probolinggo nya,” jelasnya seusai acara konsultasi regional se-Jawa Bali dalam penyusunan rancangan awal RPJMN 2020- 2024, Senin (29/7/2019).

Dia mengatakan dalam pengembangan kawasan pariwisata tersebut, Pemprov Jatim akan menggunakan skema pendanaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) sesuai dengan arahan Bappenas, khususnya untuk pengembangan Bromo Tengger Semeru yang menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Swiss.

“Kita sudah sampai skema itu (investor Swiss), nah sekarang kita dalam perencanaan pengembangan Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojoerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) melului Program Investasi Non APBN (PINA), itu akan jadi opsi strategis selain KPBU yang skemanya relatif terkomunikasikan,” jelasnya.

Menurut Khofifah, untuk mendatangkan investor yang mau berinvestasi, Pemprov Jatim berharap pembangunan Gerbangkertosusila ini menjadi prioritas untuk mendongkrak pertumbuhan Jatim dalam jangka panjang.

“Di saat yang sama, bukan sekedar infrastruktur jalan untuk bangun koneksi public transport, tapi juga butuh dukungan pendidikan vokasi untuk peningkatan SDM,” imbuhnya.

Dalam paparannya, Direktur Perencanaan Makro Bappenas, Eka Candra Buana mengatakan target pemerintah sendiri pada 2020 secara nasional bisa mendatangkan 26 juta wisatawan mancanegara, dengan target devisa yang masuk US$28 miliar.

“Target untuk pariwisata tinggi tapi kita harus optimistis dan realistis, dengan harapan dalam 5 tahun ke depan bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 6%, serta defisit transaksi berjalan kita diharapkan turun 1,7%,” katanya.

Menurutnya, apabila pemerintah tidak melakukan sesuatu dari berbagai sektor usaha baik pariwisata, industri, pertanian, hingga tambang, Indonesia hanya akan tumbuh 5,5% bahkan bisa turun 5,3%.

Direktur Alokasi Pendaaan Pembangunan Bappenas, Erwin Dimas mengatakan dalam RPJMN 2020-2024, terdapat 38 mayor project yang akan digarap pemerintah.

Sebanyak 35% proyek ada di wilayah Jawa-Bali, dan yang ada di Jatim misalnya kawasan wisata BTS, pengembangan kereta cepat Surabaya-Jakarta, pembangunan KA akses bandara Juanda dan pengembangan hub Tol Laut.

“Indikasi kebutuhan investasi untuk agenda pembangunan sepanjang 5 tahun tersebut sekitar Rp24.214,5 triliun. Namun diperkirakan belanja kementerian/lembaga (KL) hanya mampu 20% - 25% dari total kebutuhan,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, jatim

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top