BI Kediri Inisiasi Pendirian Desa Wisata di Lereng Gunung Wilis

Oleh: Choirul Anam 08 November 2018 | 20:38 WIB
BI Kediri Inisiasi Pendirian Desa Wisata di Lereng Gunung Wilis
Kepala KPw BI Kediri Djoko Raharto (kanan) bersama petani menanam kopi Arabika jenis Komasti sebanyak 25.000 pohon di Tulungagung, Kamis (8/11/2018)./Istimewa

Bisnis.com, MALANG — Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kediri menginisiasi pendirian Desa Wisata di Lereng Gunung Wilis, Tulungagung.

Lokasi ini memiliki pemandangan kebun serta kegiatan hulu–hilir budidaya dan produk kopi yang dikombinasikan dengan produk unggulan setempat, yaitu susu sapi, teh, dan cokelat.

Kepala KPw BI Kediri Djoko Raharto mengatakan dalam pendirian desa wisata, BI menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Podarwis) di Desa Sendang dan Pager Wojo, Kec. Sendang, Kab. Tulungagung, untuk menggarap dan mempromosikan pariwisata di lokasi penanaman kopi yang memang layak jual sebagai objek pariwisata.

“Di samping mempromosikan keindahan alam dan budaya setempat, juga kegiatan hulu–hilir budi daya dan produk kopi, pemerahan susu sapi, teh, dan cokelat,” ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (8/11/2018).

Dengan terintegrasinya pengembangan potensi produk, budaya dan di dukung potensi alam yang indah, dia berharap, pengembangan ekonomi yang partisipatif dan inklusif dapat terwujud.

Selain peresmian dua desa wisata itu, KPw BI Kediri bersama dengan Kelompok Usaha Bersama Omah Kopi, Petani, Pokdarwis, dan Perum Perhutani melaksanakan tanam Kopi Arabika jenis Komasti sebanyak 25.000 batang, Kamis (8/11/2018).

Saat ini sudah tersedia bibit kopi sebanyak 100.000 batang pohon, namun pada tahap ini yang akan ditanam adalah sebanyak 25.000 pohon yang melibatkan sekitar 100 petani dengan luas lahan sekitar 10 hektare.

Lahan yang akan ditanami adalah lahan milik petani dan sebagian ditanam di lahan milik Perhutani. Dengan demikian sampai saat ini bibit Kopi Arabika di wilayah tersebut sudah tertanam lebih kurang 45.000 pohon, 20.000 pohon di antaranya sudah mulai berbuah.

Petani juga disosialisasi terkait Gerakan Peduli Lingkungan melalui pengolahan dan pemanfaatan pupuk organik limbah ternak yang difermentasi, serta melakukan gerakan pengembangan pariwisata bekerjasama dengan Pokdarwis.

Petani mulai memanfaatkan limbah padat dan cair ternak yang sudah difermentasi dengan MA 11 menjadi pupuk organik. Selama ini mereka membuang limbah padat dan cair ternak di sungai atau di kebun tanpa dilakukan fermentasi sehingga mencemari lingkungan dan kontra produktif.

“Melalui edukasi dan pelatihan, petani berhasil dibuka pola pikirnya, bahwa limbah ternak apabila diolah dengan benar akan menjadi produk bernilai tambah yang ramah lingkungan,” ucapnya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya