Jatim Potensial Kembangkan Industri Perhiasan

Oleh: Peni Widarti 25 Oktober 2018 | 17:37 WIB
Jatim Potensial Kembangkan Industri Perhiasan
Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat meninjau pameran Surabaya International Jewellery Fair 2018 di Hotel Shangri-La Surabaya, Kamis (25/10/2018).

Bisnis.com, SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan wilayahnya memiliki potensi besar untuk pengembangan industri emas dan perhiasan mengingat luasnya area tambang dan bahan baku yang bisa diolah.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo menjelaskan Jatim saat ini memiliki tambang emas di Tumpang Pitu Banyuwangi yang sudah beroperasi, dan masih memiliki area tambang yang belum digali seperti tambang Silo di Jember, pasir besi di Malang dan Lumajang yang luasnya sampai 26.000 ha, di Tulungagung hingga perbatasan Trenggalek seluas 56.000 ha serta yang terbesar di Pacitan 96.000 ha.

"Tambang emas ini masih tahap FS (feasibility study) di Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian," ujarnya seusai membuka acara Surabaya International Jewellery Fair 2018, Kamis (25/10/2018).

Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo mengatakan potensi tambang yang ada tersebut bukan hanya menghasilkan emas tapi juga diikuti oleh tembaga, berlian dan batu-batuan lainnya sehingga industri perhiasan Jatim bisa memenuhi kebutuhan bahan baku dalam negeri sendiri.

Dia menambahkan, industri perhiasan di Jatim juga mengalami pertumbuhan yang positif. Pada 2016 tercatat mengalami pertumbuhan 12% dan tahun ini diperkirakan masih berada di angka dua digit.

"Tahun lalu di Jatim hanya ada 11 unit usaha industri perhiasan skala besar dan menengah dan tahun ini menjadi 26 perusahaan. Belum yang skala kecil ada 1.854 unit usaha," ujarnya.

Artinya, kata Pakde Karwo, sekitar 50% industri perhiasan memang sudah ada di Jatim. Setidaknya ada 11 kota/kabupaten yang berpotensi dalam pengembangan industri perhiasan dan aksesoris seperti Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Lamongan, Pasuruan, Lumajang dan Pacitan.

Pakde Karwo menambahkan industri emas dan perhiasan Jatim selama ini pun telah menyumbang kinerja ekspor Jatim. Sampai September 2018, nilai ekspor perhiasan/permata dari Jatim sudah mencapai Rp45 triliun.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat, ekspor Jatim pada September 2018 tercatat perhiasan/permata (HS 71) menjadi komoditas ekspor non migas utama Jatim dengan transaksi US$193,88 juta atau menyumbang 12,83% dari total ekspor non migas.

"Komoditas perhiasan Jatim ini sudah dikirim ke Jepang, Amerika Serikat lewat Boston, bahkan Swiss, dan negara-negara Asean serta China," imbuh Pakde Karwo.

Dia mengakui, memang saat ini industri perhiasan ini menghadapi tantangan perekonomian global yang sedang lesu sehingg mempengaruhi konsumen untuk menahan dalam belanja.

"Orang di dunia yang beli agak turun pendapatannya karena krisis ekonomi global kan turun, kemampuan buyer ikut turun," imbuhnya.

Bea Ekspor Perhiasan

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih mengatakan saat ini pemerintah pusat sedang melakukan evaluasi tentang jumlah ekspor dan impor komoditi dari dan ke Dubai serta Tukri yang masih menjadi hambatan.

"Memang ekspor perhiasan kita banyak ke Dubai dan Turki tapi kita dikenakan bea masuk ke sana 5%. Sedangkan Singapura dikenakan bea masuk 0% ke Dubai sehingga membuat daya saing kita lemah," katanya.

Menurutnya, Singapura bisa mendapatkan bea masuk 0% ke Dubai karena antara kedua negara memiliki perjanjian Free Trade Agreement. Sedangkan Indonesia dengan Dubai belum ada FTA.

"Nah kita nanti akan bicara dengan Kemenkeu, Kemenperin, Kemendag soal bea masuk ini. Supaya bisa 0% harus FTA dan itu bukan hanya berlaku untuk perhiasan tapi juga komoditas lain, maka harus dibicarakan agar saat FTA dengan Dubai kita tidak rugi dikemudian hari," jelasnya.

Dia menambahkan, sementara ini untuk bisa masuk ke Dubai dan Turki, komoditas perhiasan dari Indonesia diekspor ke Singapura dulu dengan bea masuk 0%, setelah itu produk Indonesia diekspor oleh Singapura ke Dubai.

Sekjen Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI), Iskandar Husein menambahkan, sejauh ini pemerintah sudah mendorong industri perhiasan untuk lebih maju melalui kebijakan-kebijakannya seperti bea masuk 0% untuk bahan baku intan dan gemstone.

Bahkan, lanjutnya, industri perhiasan Indonesia saat ini lebih diminati karena produknya merupakan handmade dan berunsur budaya.

"Berbeda dengan produk luar yang dibuat oleh mesin sehingga tidak ada nilai estetikanya," imbuhnya.

Adapun dalam gelaran Surabaya International Jewellery Fair 2018 yang berlangsung di Hotel Shangri-La selama 25-28 Oktober 2018 itu menghadirkan 107 peserta, yang terdiri dari 29 peserta swasta, 15 peserta mesin dan perangkat industri perhiasan, dan 63 perajin IKM.

Peserta bukan hanya pengusaha perhiasan dari Jatim tapi juga berbagai daerah di Indonesia.

Editor: Rustam Agus

Berita Terkini Lainnya