PVMBG Tegaskan Banjir Bandang Banyuwangi Murni Peristiwa Alam

Oleh: JIBI 25 Juni 2018 | 09:30 WIB
PVMBG Tegaskan Banjir Bandang Banyuwangi Murni Peristiwa Alam
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (tengah) meninjau bangunan yang rusak akibat banjir bandang yang melanda Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (22/6/2018)./ANTARA-Tulus Harjono

Bisnis.com, JAKARTA -- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan banjir bandang di Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) pada akhir pekan lalu sebagai peristiwa alam. 

Kepala Bidang Mitigasi Pergerakan Tanah PVMBG Agus Budianto menerangkan pihaknya telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan kajian. Seperti diketahui, empat dusun di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi dilanda banjir bandang pada Jumat (22/6/2018).

"Kami telah lakukan kajian, ini murni peristiwa alam," paparnya seperti dilansir Tempo, Senin (25/6).

Banjir terjadi akibat longsor di puncak Gunung Pendil, yang merupakan gunung api tertua di kompleks Gunung Raung. Berdasarkan pantauan satelit dan kajian PVMBG, hutan di kompleks Gunung Raung masih lebat.

"Hutannya masih sangat lebat. Kami tegaskan ini karena peristiwa alam," tegas Agus.

Ketinggian Gunung Pendil sekitar 2.350 meter di atas permukaan laut. Adapun titik tertinggi longsor ada di ketinggian 2.245 mdpl.

Gunung Pendil memiliki penampang kerucut yang curam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Agus menerangkan mahkota longsor terjadi di kerucut Gunung Pendil.

Longsor di Gunung Pendil terjadi akibat banyaknya pelapukan material vulkanik karena gunung ini merupakan gunung api tertua yang tumbuh di kaldera besar.

Saat kemarau, terjadi rekahan tanah. Pada musim hujan, air masuk ke rekahan-rekahan ini hingga terjadi kejenuhan air.

Ketika curah hujan sangat tinggi, air makin susah masuk sampai akhirnya tidak mampu tertahan. Longsor pun terjadi. 

"Kejadian kemarin kan curah hujan meningkat sekitar empat hari, menggenangi tanah di sana. Akhirnya tidak tertampung lalu mendobrak sisa material yang ada di atas," jelasnya.

Saat longsor, air membawa material vulkanik yang mengalami pelapukan dan mendesak material lainnya termasuk pohon-pohon besar. Meski pohon-pohon di kawasan itu besar, tapi karena tanah di bawahnya mengalami pelapukan maka pohon pun tumbang hingga ke akarnya.

Ditambah dengan kombinasi ketinggian, kemiringan tanah, akumulasi air, dan pelapukan, longsor pun tidak terelakkan.

Berdasarkan kajian PVMBG, longsor di Gunung Pendil membawa material vulkanik yang mengalir ke Sungai Badeng. Ini merupakan jalur wilayah tangkapan air Gunung Pendil, sehingga menyebabkan banjir bandang.

"Sejak kejadian banjir pada Mei 2018 di lokasi yang sama, kami langsung kaji dan hasilnya sudah disosialisasikan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat tentang potensi bencana geologi dari Raung. Sebenarnya kesiapan sudah dibangun sejak dini oleh Pemkab dan warga. Ini sebabnya tidak ada korban jiwa karena peringatan sudah ada," papar Agus.

PVMBG sudah kembali ke Banyuwangi untuk melanjutkan kajian mengenai berapa banyak material yang mengalami pelapukan di Gunung Pendil serta potensi terjadinya longsor.

Warga diimbau untuk tetap waspada. Pasalnya, kondisi pelapukan di Gunung Pendil dan anomali curah hujan yang tinggi harus tetap diperhatikan.

Pemkab serta warga setempat diminta untuk terus memantau peningkatan aliran air. 

"Antisipasinya bisa dengan segera membersihkan penghalang-penghalang di aliran sungai. Yang penting, tetap antisipasi dan waspada, khususnya rumah-rumah yang ada di sempadan sungai," ucapnya.

Sumber : Tempo

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya