Gabut dan OVT, Begini Cara Menemukan Passion Berbisnis

Bisnis yang melekat di tubuh kita itu yang sustain. Potensinya tidak hanya Indonesia, tapi di luar.
Eksportir kopi Anggri Sartika Wiguna bercerita kerap memanfaatkan teknologi untuk mendukung bisnis, memperluas jaringan sekaligus mencari informasi yang mendorong pengembangan diri saat di acara Bisnis Indonesia Goes to Campus 2023 di Universitas Brawijaya, Rabu (24/5/2023)./Bisnis-Syaharuddin U.
Eksportir kopi Anggri Sartika Wiguna bercerita kerap memanfaatkan teknologi untuk mendukung bisnis, memperluas jaringan sekaligus mencari informasi yang mendorong pengembangan diri saat di acara Bisnis Indonesia Goes to Campus 2023 di Universitas Brawijaya, Rabu (24/5/2023)./Bisnis-Syaharuddin U.

Bisnis.com, MALANG - Sebuah unggahan di media sosial melampirkan curahan hati (curhat) seorang mahasiswa tingkat akhir yang telah merampungkan skripsi dan menunggu wisuda. Permasalahannya, pengirim kisah itu tidak punya kesibukan produktif sehingga muncul gejala berpikir berlebih mengenai banyak hal alias overthinking.

Gabut sendiri bahasa slang dari gaji buta atau bisa juga diartikan tidak ada kegiatan apapun dan bingung hendak melakukan apa. Sedangkan overthinking (OVT) adalah menggunakan terlalu banyak waktu untuk memikirkan suatu dengan cara merugikan. Kondisi ini bisa mengarah ke kecenderungan memikirkan hal yang telah berlalu (ruminasi) atau khawatir akan hal yang bakal terjadi.

Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengatasi problem gabut dan overthinking. Beberapa di antaranya dimulai dengan mengidentifikasi kondisi diri, merencanakan apa yang hendak dicapai dan melihat daya dukung lingkungan sekitar.

Dalam rangkaian acara Bisnis Indonesia Goes to Campus 2023 di Universitas Brawijaya, Rabu (24/5/2023), tiga narasumber kompeten memaparkan kunci bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan dan sukses mencapai tujuan yang diinginkan.

Sis Apik Wijayanto, Direktur Enterprise dan Commercial Banking BNI, menegaskan mencari lingkungan positif dan produktif bisa membantu membentuk landasan untuk meraih cita-cita. "Untuk maju harus punya keinganan kuat, sebagai entrepreuner misalnya, keinginan harus tinggi, berani risk taking [ambil risiko]," jelasnya memotivasi mahasiswa.

Menurutnya untuk maju, diri sendiri harus didorong memiliki nilai lebih dibandikan orang lain, caranya dengan meningkatkan skill/keterampilan yang dimiliki. Bila belum bisa harus belajar bila sudah bisa harus ditingkatkan.

Sementara untuk memastikan langkah di jalur yang benar, Perencana Keuangan Dwi Wulandari menegaskan perlu untuk merumuskan dan menentukan apa yang hendak dicapai dalam periode tertentu. Semisal dalam dua tiga tahun mau mendapat apa, lima tahun ke depan ingin bagaimana dan 15 tahun ke depan hendak meraih apa.

"Harus direncanakan dulu," katanya di acara yang diikuti sekitar 200 mahasiswa itu. Sebab, kata dia, godaan untuk salah mengalokasikan dana itu terjadi dalam 365 hari alias setahun. Bilamana salah menaruh uang (modal) atau salah membelanjakan maka ada risiko kerugian.

Senada dengan saran itu, eksportir kopi Anggri Sartika Wiguna membagikan tips bagaimana memulai usaha. Salah satunya dengan mengidentifikasi rencana yang saat ini sedang dipikirkan. Apa yang hendak dilakukan harus dikritisi.

"Posisinya adik-adik membikin perencanaan, pengetahuan next [nanti] mau bangun apa," jelasnya dalam acara yang sama.

Secara teknis rencana itu bisa dibagi ketiga ide pokok. Masing-masing ide yang hendak dituju harus dikritisi, mengapa memilih itu, dan bagaimana cara mencapainya. Bila gairah (passion) mewujudkan ide bertahan dalam tiga bulan maka layak untuk dieksekusi alias dijalankan.

"Harus tanya ke diri sendiri, kenapa memilih rencana ini, kenapa harus melakukan ini dan bagaimana mencapainya," tuturnya.

Secara lebih singkat, Dia memberi gambaran bisnis paling layak dijalankan itu yang melekat di tubuh manusia. Segala sesuatu yang terkait pemenuhan tubuh manusia memiliki masa keberlanjutan panjang. Beberapa contohnya sektor pangan/pertanian, pakaian, kerajinan, macam-macam digital dan sektor kreatif.

"Bisnis yang melekat di tubuh kita itu yang sustain. Potensinya tidak hanya Indonesia, tapi di luar," imbuhnya.

Oleh karenanya, Anggri Sartika mendorong wirausahawan membangun jejaring produktif melalui media sosial, semisal mengikuti akun-akun resmi pemerintah agar mendapat pemberitahuan pertama saat ada program produktif. Selain itu juga harus membangun jejaring dengan pelaku usaha serupa di luar negeri untuk memperluas relasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Miftahul Ulum
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper