Produksi Gula PTPN X Meningkat 20 Persen, Target 340.000 Ton Dikejar

Jika jumlah tebu giling mampu menembus di atas 4 juta ton berarti telah memecahkan rekor jumlah tebu digiling PTPN X dalam kurun waktu empat tahun terakhir. 
Truk pengangkut Bahan Baku Tebu (BBT) mengantre di salah satu Pabrik Gula (PG) milik PTPN X./Dok. PTPN X
Truk pengangkut Bahan Baku Tebu (BBT) mengantre di salah satu Pabrik Gula (PG) milik PTPN X./Dok. PTPN X

Bisnis.com, SURABAYA — Produksi gula dari sembilan pabrik milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X hingga 3 Oktober 2022 tercatat telah mencapai 280.824 ton atau mengalami peningkatan 20 persen dibandingkan masa giling tebu yang sama tahun lalu.

Direktur PTPN X, Tuhu Bangun mengatakan pada musim giling 2022 ini selama 126 hari tersebut PTPN X telah menggiling sebanyak 4,09 juta ton tebu, dengan rendemen yang diproyeksikan di atas 7 persen.

“Kinerja tahun ini jauh lebih membaik jika dibandingkan giling tahun lalu. Hal ini merupakan hasil dari evaluasi dan monitoring yang ketat, serta penerapan dan pembenahan strategi giling baik dari sisi on farm maupun off farm,” ujarnya, Rabu (5/10/2022).

Dia mengatakan jika jumlah tebu giling mampu menembus di atas 4 juta ton berarti telah memecahkan rekor jumlah tebu digiling PTPN X dalam kurun waktu empat tahun terakhir. 

Selain itu, lanjutnya, angka produktivitas giling tahun ini juga mampu mencapai 83 ton/ha. Angka tersebut juga merupakan tertinggi dibandingkan empat tahun terakhir.

“Jika dibandingkan dengan hari giling yang sama tahun lalu, jumlah tebu giling yang digiling ini telah meningkat 26 persen. Peningkatan ini diharapkan dapat berdampak pada kinerja operasional dan keuangan perseroan secara menyeluruh,” ujarnya.

Dia menambahkan, pada musim giling yang akan berakhir hingga awal November 2022 ini PTPN X akan mengejar capaian target yang sudah dicanangkan yakni mampu menggiling sebanyak 4,2 juta ton tebu dan memproduksi 340.000 ton gula.

Tuhu pun optimistis di sisa musim giling sekitar 30 hari ini masih akan terus terjadi peningkatan kinerja dengan cara menjaga pasokan Bahan Baku Tebu (BBT) ke dalam pabrik gula melalui koordinasi dan bersinergi dengan para petani.

“Monitoring secara intensif juga kita lakukan untuk menekan jam berhenti dan angka losses/kehilangan. Angka jam berhenti tahun ini 9,1 persen, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 19,21 persen,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Peni Widarti
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper