Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemkot Surabaya : Relaksasi PBB Tidak Mengganggu

Meski diintervensi pemerintah pusat, tetapi pemda masih diberi pilihan penentuan penghitungan tarif PBB antara 20 - 100 persen sehingga daerah masih dapat menentukan tarif yang fleksibel.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 20 Januari 2022  |  13:38 WIB
Pemkot Surabaya : Relaksasi PBB Tidak Mengganggu
Ilustrasi.
Bagikan

Bisnis.com, SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya menyebut adanya kebijakan relaksasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) oleh pemerintah pusat nantinya tidak akan mengganggu desentralisasi daerah.

Kepala Badan Pendapatan Daerah Kota Surabaya, Musdiq Ali Suhud, mengatakan meski mendapat intervensi dari pemerintah pusat, tetapi pemda masih diberi pilihan penentuan penghitungan tarif PBB antara 20 - 100 persen sehingga daerah masih dapat menentukan tarif yang fleksibel.

“Artinya daerah masih bisa menentukan tarif yang fleksibel, sama, lebih kecil atau lebih besar dari tarif semula. Jadi hal ini tidak akan menggangu desentralisasi daerah,” katanya kepada Bisnis, Kamis (20/1/2022).

Dia mengatakan jika melihat data realisasi penerimaan PBB pada 2020 dan 2021, maka relaksasi tarif PBB tahun ini pun belum bisa diprediksi mengingat kondisi pandemi yang masih juga belum bisa diprediksi. 

“Namun kami optimistis, adanya kebijakan itu masih tetap bisa menguntungkan daerah,” imbuhnya.

Adapun data Bapenda Kota Surabaya mencatat realisasi perolehan PBB pada 2020 tercatat mencapai Rp1,1 triliun. Kemudian pada 2021 meningkat tipis menjadi Rp1,2 triliun.

Musdiq menambahkan untuk menerapkan aturan baru soal relaksasi PBB tersebut, Pemkot Surabaya akan merivisi Perda PBB No.10 Tahun 2010 terlebih dahulu dengan membuat kajian-kajian mengenai potensi pajak yang dikaitkan dengan analisa perkembangan dan pertumbuhan kota di masa mendatang guna mendapatkan tarif final formulasi pajak yang akan ditetapkan. 

“Dalam kajian penentuan tarif final PBB, tentunya juga membuat simulasi penghitungan yang mempertimbangkan dampak positif bagi potensi penerimaan khusus dari beberapa sektor strategis termasuk yang berasal dari kawasan-kawasan industri,” imbuhnya.

Diketahui kebijakan relaksasi tersebut telah diakomodir dalam UU Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah (HKPD) yang ditetapkan pada 5 Januari 2022. 

Sebelumnya, tarif PBB adalah 0,1 - 0,3 persen dikalikan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP), sedangkan tarif dalam UU HKPD adalah 0,5 persen dikalikan 20 - 100 persen dari NJOP yang ditetapkan oleh daerah, dan pemda pun boleh menentukan tarif dari pengalian antara 20 - 100 persen yang berarti tarif PBB akan lebih rendah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pajak jatim surabaya pajak bumi dan bangunan relaksasi aturan
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top