Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Desa Wisata Edelweiss Wonokitri, Konservasi dan Edukasi Berbasis Komunitas

Di taman tersebut, ditanam sekitar 1.250 bunga dengan tiga jenis, di lahan seluas sekitar 1.196 m².
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 08 November 2021  |  20:05 WIB
Desa Wisata Edelweiss Wonokitri, Konservasi dan Edukasi Berbasis Komunitas
Seorang wisatawan asyik mendokumentasikan keindahan bunga edelweiss di Desa Wisata Edelweiss Wonokitri, Kec. Tosari, Kab. Pasuruan, Minggu (7/11/2021). - Bisnis/Choirul Anam

Bisnis.com, MALANG — Bunga edelweiss, bunga keabadian, sering ditemukan diperjualbelikan secara ilegal di kawasan wisata Bromo.

Wisatawan yang ke Bromo dengan mudahnya membeli bunga edelweiss secara ilegal. Padahal, membeli bunga edelweiss dilarang karena dapat mengancam kelestarian bunga yang dilindungi itu. Larangan juga berlaku dalam menangkar dan menanam bunga tersebut tanpa izin Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Kehadiran Desa Wisata Edelweiss, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, yang melakukan penangkaran, penanaman sebagai upaya konservasi bunga tersebut sejak 2016, dapat menjadi solusi bagi wisatawan untuk menikmati keindahan bunga, sekaligus mengetahui cara merawat dan membudidayakannya.

Di taman tersebut, ditanam sekitar 1.250 bunga dengan tiga jenis, yakni Anaphalis Javanica (Edelweis Jawa), Leontopodium Alpinum (Edelweis Eropa), dan Leucogenes Grandiceps (New Zealand Edelweis) di lahan seluas sekitar 1.196 m².

Ketua Kelompok Tani Hulun Hyang Desa Wisata Edelweiss Wonokitri, Teguh Wibowo, menjelaskan bunga edelweiss harus dilestarikan karena maknanya penting bagi kehidupan keagamaan masyarakat Bromo.

Bunga edelweiss merupakan bunga yang dipersembahkan masyarakat Bromo kepada Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, dirinya bersama teman-teman yang tergabung dalam Kelompok Tani Hulun Hyang Desa Wisata Edelweiss berinisiasi untuk mendirikan Desa Wisata tersebut dengan memanfaatkan tanah milik desa.

Lewat Desa Wisata, masyarakat bisa memanfaatkan bibit secara gratis untuk dijadikan benih dan ditanam di rumah masing-masing dengan supervisi dari kelompok tani. Dengan cara itu, masyarakat dapat mencukupi kebutuhan bunga edelweiss untuk persembahan dari tanaman yang mereka tanam sendiri.

Masyarakat umum juga bisa membeli bibit seharga Rp20.000-Rp50.000. Jika ditanam di rumah masing-masing, mereka akan mendapatkan supervisi dari kelompok tani.

Untuk bunga, masyarakat juga dapat membeli di desa wisata seharga Rp35.000/ikat. “Pertimbangannya karena bunga itu tidak digunakan. Untuk penangkaran sudah ada. Daripada dibuang, lebih baik dijual dan dapat dinikmati masyarakat,” ucapnya dihubungi, Senin (9/11/2021).

Perkembangan Desa Wisata tersebut, kata dia, perlahan. Mulanya hanya diperuntukkan untuk warga sekitar.

Namun pada 2019, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, ikut terlibat dengan membantu pembangunan prasarana dan sarana lewat Program Sosial BI. BI ingin Desa Wisata tidak semata untuk kepentingan konservasi, melainkan juga mempunyai sisi ekonomis, memberdayakan masyarakat desa lewat desa wisata.

“Desa Wisata Taman Edelweiss unik, karena baru kali pertama di Indonesia ada taman konservasi edelweiss yang dikelola komunitas, warga desa,” katanya.

Bentuk bantuan PSBI berupa pembangunan sarana dan prasarana Taman Edelweiss seperti rumah tiket, gapura selamat datang, pembangunan tempat pembibitan edelweiss, tempat penyapihan bibit, toilet, musala, kafe dan peralatannya.

“Untuk pelatihan seperti pelatihan Gastronomi yang meliputi pembuatan makanan khas dan oleh-oleh, pelatihan Manajemen Kafe hingga pelatihan Art and Culture Tourism yang meliputi photo booth, photo spot dan time choice,” katanya.

Setelah bekerja keras bertahun-tahun, upaya menjadikan Desa Wisata Edelweiss semakin dikenal masyarakat. Bahkan saat pandemi, saat wisatawan dilarang ke kawasan wisata Bromo, mereka bisa beralih ke taman tersebut.

Dengan pelonggaran PPKM Level, Taman Wisata Edelweiss telah semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan baik warga umum hingga dari luar daerah. Pada Oktober 2021, jumlah pengunjung mencapai 3.319 orang. Keberadaan kafe juga mendorong jumlah kunjungan ke Taman Edelweiss serta menumbuhkan aktivitas ekonomi baru bagi Poktan Hulun Hyang.

Teguh Winarto juga mengembangkan program adopsi. Lewat program itu, masyarakat bisa membantu pengembangan kegiatan konservasi itu lewat adopsi tanaman bunga edelweiss mulai dari bibit sampai berbunga dengan nilai Rp250.000. “Mudah-mudahan program ini berkembang karena dapat menjadi solusi pendanaan taman ini secara lebih berkelanjutan,” ucapnya.(K24)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata pasuruan jatim gunung bromo
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top