Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Implementasi SRG di Jatim Perlu Kerja Sama Lintas Dinas

untuk menghimpun aset-aset pertanian yang lebih dekat ya dengan dinas pertanian dan perdagangan
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 10 Juni 2021  |  01:35 WIB
Ilustrasi gudang.  - mmproperty.com
Ilustrasi gudang. - mmproperty.com

Bisnis.com, SURABAYA — Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Imron Mawardi menilai bahwa program pemerintah dalam menjaga stabilitas dan kesejahteraan petani melalui Sistem Regi Gudang (SRG) perlu ada kerja sama yang kompak antar lintas dinas.

Belum optimalnya implementasi SRG di Jatim, menurut Imron, salah satunya adalah faktor kepemilikan lahan petani yang kecil-kecil sehingga membutuhkan model kelompok tani untuk bisa melakukan resi gudang.

“Kemudian memang tidak banyak gudang di Jatim yang punya standar yang baik. Biasanya standar begini dimiliki oleh Bulog,” katanya kepada Bisnis, Rabu (9/6/2021)

Namun yang paling penting, lanjutnya, upaya optimalisasi SRG perlu ada kerja sama lintas dinas, dalam hal ini adalah Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan. Pemerintah daerah harus mendorong dan memfasilitasi pembiayaan resi gudang ini misalnya melalui Bank Jatim.

“Harus ada lintas dinas, karena SRG ini kan produknya Kemendag, tetapi untuk menghimpun aset-aset pertanian yang lebih dekat ya dengan dinas pertanian dan perdagangan. Nah ini peran lintas dinas, pemda harus mensupport,” imbuhnya.

Imron menambahkan, sebenarnya SRG sangat bermanfaat bagi komoditas pertanian terutama gabah atau beras. Sebab saat musim panen yang biasanya harga gabah jatuh, tapi di sisi lain petani membutuhkan uang untuk pembiayaan musim tanam kembali, kemudian resi gudang bisa menjadi jaminan untuk perbankan.

“Jadi hasil gabah petani ini dilindungi menjadi aset keuangan seperti ada sertifikasi kepemilikan sehingga bisa dijaminkan di bank. Kemudian, ketika harga gabah sudah mulai bagus, bisa dijual di ke pembelinya,” imbuhnya.

Diketahui, saat ini di Jatim terdapat 23 gudang SRG yang dibangun oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan. Hanya saja sampai saat ini keberadaan SRG belum dijalankan secara optimal sehingga pemda-pemda di Jatim didorong untuk mengoptimalkannya.

Di wilayah Jatim, gudang SRG tersebar di 17 kabupaten. Dari 23 gudang di Jatim, sebanyak 15 gudang di antaranya telah beroperasi dengan menerbitkan sebanyak 364 resi gudang senilai Rp96,61 miliar, serta telah mendapatkan pembiayaan dari bank atau lembaga non bank sebesar Rp56 miliar.

Hingga saat ini sudah ada 20 komoditas yang bisa disimpan di gudang SRG, yaitu, gabah, garam, beras, gambir, jagung, teh, kopi, kopra, kakao, timah, lada, bawang merah, karet, ikan, rumput laut, pala, kedelai, gula kristal, rotan, dan ayam beku karkas.  


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik pergudangan sistem resi gudang
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top