Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Hotel Jatim : Potensi Bukber & Staycation Masih Terbuka

Meskipun saat ini masih dalam kondisi pandemi bahkan pemerintah melarang adanya mudik Lebaran, tetapi situasi Ramadan kali ini sudah cukup berbeda dengan tahun lalu.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 13 April 2021  |  14:11 WIB
Industri Hotel Jatim : Potensi Bukber & Staycation Masih Terbuka
Ilustrasi.
Bagikan

Bisnis.com, SURABAYA — Pengusaha perhotelan dan restoran di Jawa Timur optimistis momen Ramadan dan Lebaran tahun ini akan mendongkrak kinerja okupansi kamar maupun food and beverage (F&B) untuk kegiatan buka bersama (bukber).

Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim, Sugito Adhi mengatakan meskipun saat ini masih dalam kondisi pandemi bahkan pemerintah melarang adanya mudik Lebaran, tetapi situasi Ramadan saat ini sudah cukup berbeda dengan tahun lalu.

“Kalau awal pandemi tahun lalu kan orang masih takut untuk keluar, dan sekarang kondisi sudah mulai membaik walaupun tetap harus melakukan prokes, ditambah dengan gencarnya vaksinasi membuat pengusaha hotel lebih confindence,” katanya kepada Bisnis, Selasa (13/4/2021).

Dia mengatakan perkiraan masih adanya pasar perhotelan ini juga berdasarkan kebijakan dibukanya tempat-tempat wisata daerah. Namun, pasar terbatas hanya dari dalam provinsi yang kemungkinan masyarakat bisa berwisata di jarak yang dekat.

“Walau mudik dilarang tapi potensi orang menginap pasti ada, karena boleh berwisata tapi tidak jauh-jauh seperti dari Jakarta ke Surabaya. Mungkin yang di Surabaya berwisata ke Malang, atau Banyuwangi. Kalau dibilang berkurang, pasti pergerakkanya berkurang tapi tidak sejelek tahun lalu,” jelasnya.

Dia mengungkapkan kondisi rata-rata okupansi hotel di Jatim pada akhir 2020 cukup drop karena aturan larangan bepergian yakni sekitar 10 - 25 persen. Kondisi inipun turut berdampak pada rate harga hotel yang drop, misalnya untuk hotel bintang 2 - 3 di Surabaya yang biasanya dijual Rp300.000 - Rp400.000 sampai banting harga menjadi Rp150.000.

Namun, lanjutnya, di awal tahun ini perlahan okupansi sudah meningkat sekitar 30 - 40 persen bahkan ada yang mencapai 60 persen bergantung daerah dan kapasitasnya, dan harga menginap perlahan naik seusai pasar.

“Di awal tahun ini sudah cukup baik terutama untuk segmen MICE, banyak kegiatan meeting yang dilakukan di hotel, lalu di akhir pekan banyak orang menginap. Saya melihat seperti di Malang jalanan sudah macet lagi,” imbuhnya.

Sugito menambahkan, meski di awal puasa umumnya okupansi turun menjadi rerata 20 persen. Namun, setidaknya sudah ada beberapa hotel yang melaporkan adanya booking restoran untuk buka bersama.

“Saya cek beberapa hotel di Surabaya dan Malang kelihatan sudah ada yang booking buffe untuk bukber tapi masih sekitar 5 - 6 bookingan karena mungkin masih awal puasa,” imbuhnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perhotelan jatim malang Ramadan
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top