Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tren Penarikan Uang di Jatim Turun Meski Ada Momen Liburan

Posisi net-outflow Rp8,4 triliun, yang berarti jumlah penarikan dari bank lebih banyak dibandingkan uang yang disetorkan.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 19 Januari 2021  |  09:43 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Bisnis.com, SURABAYA - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur (BI Jatim) mencatat tren perputaran uang, terutama arus uang yang keluar/penarikan di Jawa Timur pada kuartal IV/2020 atau pada saat ada momen liburan panjang akhir tahun mengalami penurunan dibandingkan periode sama 2019.

Pada kuartal IV/2020 arus uang yang keluar/penarikan (outflow) tercatat mencapai Rp15 triliun, sedangkan arus uang yang masuk/penyetoran (inflow) tercatat mencapai Rp6,5 triliun sehingga pada kuartal terakhir tahun lalu itu arus uang (netflow) di Jatim pada posisi net-outflow Rp8,4 triliun, yang berarti jumlah penarikan dari bank lebih banyak dibandingkan uang yang disetorkan.

Namun, jika melihat kuartal IV/2019, jumlah penarikan uang oleh masyarakat sekitar Rp18 triliun atau lebih tinggi dibandingkan kondisi 2020 yang hanya Rp15 triliun. Sedangkan arus uang yang masuk/penyetoran juga lebih tinggi dari 2020 mencapai sekitar Rp12,5 triliun sehingga saat itu Jatim juga sama pada posisi net-outflow Rp5,45 triliun.

Sementara jika melihat kondisi perputaran uang di Jatim pada kuartal III/2020, jumlah penarikan uang lebih sedikit dibandingkan kuartal IV/2020, yakni dengan outflow Rp8,4 triliun dan uang yang masuk atau inflow sekitar Rp6,7 triliun, sehingga net-outflow kuartal III di Jatim besar Rp1,8 triliun.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jatim, Difi Ahmad Johansyah mengatakan meski berdasarkan kondisi arus uang kas keluar (outflow) mengalami penurunan, tetapi netflow Jatim pada periode itu tetap meningkat dari Rp5,45 triliun pada kuartal IV/2019 menjadi Rp8,4 triliun pada kuartal IV/2020, bahkan dibandingkan kuartal III/2020 netflow nya Rp1,8 triliun.

“Kenaikan netflow uang di Jatim ini mengindikasikan adanya perbaikan ekonomi dengan adanya peningkatan aktivitas masyarakat pada akhir tahun, meskipun terdapat beberapa kebijakan pembatasan kegiatan oleh pemerintah dalam rangka menjaga protokol kesehatan,” jelasnya kepada Bisnis, Senin (18/1/2021).

Difi mengatakan peningkatan net-outflow yang terjadi di Jatim ini juga sejalan dengan meningkatnya kebutuhan Uang Layak Edar (ULE), baik uang kertas dan logam dan dalam bentuk uang pecahan kecil maupun pecahan besar.

“Hal tersebut juga dikonfirmasi dengan membaiknya PDRB Jatim di kuartal III/2020 yang masih terkontraksi -3,75 persen, kontraksi yang lebih kecil dari kuartal sebelumnya sebesar -5,09 persen,” imbuhnya.

Dia menambahkan dalam perputaran uang ini juga didapati adanya Uang Tidak Layak Edar (UTLE) di Jatim yang mencapai Rp7,8 triliun pada kuartal III/2020. Jumlah UTLE itu meningkat 63,48 persen dibandingkan kuartal II/2020 yang mencapai Rp4,8 triliun.

“Dalam rangka memelihara uang layak edar kepada masyarakat, kami pun melakukan kegiatan pemusnahan uang tidak layak secara rutin. Dengan tingginya UTLE ini mencerminkan bahwa uang yang beredar di masyarakat kurang layak sehingga perlu ditingkatkan dan dijaga kualitasnya,” imbuhnya.

Dalam perkembangan berbeda, dilaporkan terjadi penurunan mobilitas masyarakat ke beberapa lokasi aktivitas. Merujuk pada data yang dirilis Google per 15 Januari, terjadi penurunan mobilitas pada periode 4 Desember 2020-15 Januari 2021 pada sektor retail dan rekreasi (-30 persen), toko bahan makanan dan apotek (-18 persen), taman (-13 persen), pusat transportasi umum (-45 persen), dan tempat kerja (-34 persen). Sedangkan mobilitas di area permukiman naik (+10 persen) dari dasar pengukuran.

Dasar pengukuran adalah nilai median untuk hari yang seusai selama periode 5 minggu, yaitu 3 Januari-6 Februari 2020. Google menghitung analisis ini berdasarkan data dari pengguna yang memilih untuk mengaktifkan histori lokasi untuk akun Google mereka.

Khusus wilayah Jawa Timur, mobilitas sektor ritel dan rekreasi -30 persen, toko bahan makanan dan apotek -30 persen, taman -35 persen, pusat transportasi umum -49 persen, tempat kerja -34 persen, area permukiman +10 persen.

Google dalam laporan menjelaskan data ditujukan untuk membantu proses remediasi dampak Covid-19. Set data ini tidak boleh digunakan untuk tujuan diagnosis, prognosis, atau perawatan kesehatan.

Tangkapan layar analisa pergerakan masyarakat di Jatim.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia jatim uang elektronik
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top