Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha Sektor Pariwisata di Jatim Minta Bantuan Pemerintah

Kami masih berharap penghujung tahun ada harapan pemasukan kembali, ada harapan bisnis bangkit, tetapi ternyata ada peraturan rapid antigen, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 05 Januari 2021  |  13:25 WIB
Wisatawan menikmati pemandangan matahari terbit di Gunung Bromo, Jawa Timur, sebelum pandemi memukul bisnis pelesiran. - Bisnis/Abdullah Azzam
Wisatawan menikmati pemandangan matahari terbit di Gunung Bromo, Jawa Timur, sebelum pandemi memukul bisnis pelesiran. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, SURABAYA - Kalangan pengusaha perjalanan tour di Jawa Timur meminta pemerintah untuk memberikan solusi yang terbaik bagi usaha pariwisata di tengah pandemi agar tidak mati dan berdampak panjang pada perekonomian.

Nanik Sutaningtyas, Kabid Komunikasi Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) ’71 Jatim, mengatakan sejak pandemi Covid-19 terjadi, pengusaha agen travel seketika mati suri karena tidak ada pemasukan. Bahkan di akhir tahun pengusaha memiliki harapan dari adanya libur Natal dan Tahun Baru, termasuk upaya pemerintah yang membuka wisata era new normal.

“Kami masih berharap penghujung tahun ada harapan pemasukan kembali, ada harapan bisnis bangkit, tetapi ternyata ada peraturan rapid antigen, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga,” katanya, Selasa (5/1/2021).

Namun, lanjutnya, pengusaha juga menyadari pandemi Covid-19 kembali meningkat kasusnya sehingga pemerintah pun membuat strategi dan antisipasi penyebaran virus. Hanya saja, industri pariwisata harus tetap dibangkitkan karena dianggap menyangkut nasib para tenaga kerja di bidang ini.

“Kita harus ada solusi, berkompromi dengan keadaan dan bagaimana bisnis bisa jalan tapi aman dari penularan wabah Covid-19. Untuk itu, vaksin harus segera didistribusikan ke masyarakat termasuk di sektor pariwisata, karena bisnis pariwisata ini ada multiplier effect,” jelasnya.

Nanik menambahkan pemerintah diharapkan tidak hanya membantu perhotelan tetapi juga bisnis travel yang selama ini sudah berkiprah mendatangkan wisatawan dalam dan luar negeri untuk mendatangkan devisa negara.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Dadang Hardiwan mengatakan tak dipungkiri tren kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jatim melalui Bandara Internasional Juanda Surabaya pada 2020 anjlok sampai 83,32 persen.

“Pada periode Januari - November 2020, jumlah wisman yang datang hanya 37.257 kunjungan, sedangkan Januari - November 2019 mampu mencapai 223.353 kunjungan,” katanya.

Dia mengatakan melihat tren kunjungan wisman dalam 5 tahun terakhir, kunjungan terendah memang 2020 karena dampak pandemi di seluruh dunia. Tercatat pada periode sama 2016 mencapai 199.155 kunjungan, pada 2017 mencapai 223.958 kunjungan, pada 2018 tembus 293.920 kunjungan.

“Kunjungan setiap tahun tertinggi berada di Juli dan Agustus, contohnya pada 2018 bisa di atas 33.000 kunjungan/bulan,” imbuhnya.

Adapun sepanjang 2020 terdapat 2.434 kunjungan wisman yang berasal dari Malaysia sebanyak 11 kunjungn, Singapura 11 kunjungan, China 5 kunjungan, Amerika Serikat 3 kunjungan, dan negara lain 18 kunjungan. Sisanya sebanyak 2.386 kunjungan adalah penduduk Indonesia yang di luar negeri (Pendul) yang statusnya WNI.

“Kondisi pandemi juga mempengaruhi Tingkat Penghunian Kamar (TPK). Pada November TPK nya 45,47 persen naik 38 poin dari Oktober 42,09 persen karena ada momen liburan, tapi TPK ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan periode sama 2018 mencapai 61,14 persen, pada 2019 bisa mencapai 64,25 persen,” imbuh Dadang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata jatim travel agent
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top