Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

APBD Anjlok 13,95 Persen, Pemkot Surabaya Didorong Atur Ulang Strategi

Justru obyek pendapatan yang terkait langsung dengan rakyat ini harus direlaksasi. Jadi kejar yang tidak berdampak langsung.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 18 September 2020  |  14:39 WIB
Ikon Kota Surabaya.
Ikon Kota Surabaya.

Bisnis.com, SURABAYA – Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti mendorong Pemkot Surabaya untuk mengoptimalkan potensi-potensi pendapatan yang masih bisa digali mengingat adanya penurunan APBD sebesar 13,95 persen karena imbas dari pandemi Covid-19.

Namun menurutnya, dalam mengoptimalkan potensi pendapatan lain, Pemkot Surabaya diharapkan mencari obyek pendapatan yang tidak terkait langsung dengan rakyat.

“Justru obyek pendapatan yang terkait langsung dengan rakyat ini harus direlaksasi. Jadi kejar yang tidak berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat,” katanya dikutip dalam rilis, Jumat (18/9/2020).

Dia menjelaskan saat ini DPRD Kota Surabaya tengah melakukan pembahasan terkait APBD perubahan tahun anggaran 2020. Pembahasan APBD ini dinilai penting mengingat APBD murni 2020 akan banyak dilakukan penyesuaian, realokasi, refokusing akibat pandemi covid-19.

Adapun dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Perubahan APBD Tahun 2020, kekuatan APBD Surabaya turun Rp1,4 triliun atau 13,95 persen dari Rp10,3 triliun pada APBD murni menjadi Rp8,88 triliun pada rencana perubahan APBD 2020.

Penurunan terjadi pada sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Rp5,58 triliun menjadi Rp5 triliun, artinya terdapat penurunan sebesar Rp543 miliar atau turun 9,73 persen.

Dana perimbangan pada APBD murni Rp2,26 triliun turun menjadi Rp2 triliun selisih Rp242 miliar atau 10,67 persen, lalu pendapatan lain yang sah dari Rp1,23 triliun menjadi Rp1 triliun terdapat selisih sebesar Rp208 miliar atau turun 16,92 persen.

Sementara pada sektor belanja, terdapat belanja tidak langsung mengalami penurunan dari Rp2,64 triliun menjadi Rp2,49 triliun turun sebesar Rp157 miliar atau turun 5,94 persen. Belanja langsung ini terdiri dari belanja pegawai turun dari Rp470 miliar menjadi Rp406 miliar.

Sedangkan belanja barang dan jasa dari Rp4,121 triliun menjadi Rp4,127 triliun artinya terjadi penambahan sebesar Rp5,1 miliar (0,125 persen). Sektor Belanja langsung yang paling banyak mengalami penurunan yaitu belanja modal.

“Dari gambaran kondisi keuangan di atas, saya memandang bahwa performa fiskal Surabaya di masa pandemi masih cukup aman, tetapi kebutuhan dasar tetap harus terjamin,” imbuh Reni.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surabaya pendapatan daerah
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top