Benowo Pabrik Listrik dari Sampah Terbesar di Indonesia

Sebentar lagi, Kota Surabaya memiliki unit Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang diklaim terbesar dan pertama di Indonesia.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 19 November 2019  |  10:15 WIB
Benowo Pabrik Listrik dari Sampah Terbesar di Indonesia
Seorang pekerja di PT Sumber Organik - PLTSa Benowo Surabaya tengah membuka valve atau katup pipa yang menyalurkan gas dari gunungan sampah TPA Benowo untuk diolah menjadi energi listrik melalui teknologi Landfill Gas (FLG) Power Plant. - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, SURABAYA - Panas terik mentari di TPA Benowo Surabaya tak menyurutkan semangat Eko Wahyudi (38), untuk mencari dan mendeteksi keberadaan potensi gas dari bau sampah untuk diproses menjadi energi listrik.

Setiap hari, setiap waktu Eko harus mengecek sumur gas (area penumpukan sampah), membuka atau menutup valve, yakni saluran gas yang dihasilkan dari bau sampah menuju gas engine melalui pipa header berukuran besar.

Terdapat 2 unit gas engine dalam area Landfill Gas (FLG) Power Plant milik PT Sumber Organik (SO) yang masing-masing memiliki kapasitas produksi listrik 1 MW sehingga totalnya 2 MW. Listrik yang dihasilkan dari gas sampah ini kemudian disimpan dalam generator dan siap untuk dijual ke PLN.

Operasional Sumber Organik, M. Ali Asyhar mengatakan FLG Power Plant yang telah dibangun sejak 2015 dengan teknologi dari Eropa ini telah memanfaatkan sampah organik dari warga Surabaya. Hingga kini, PT SO telah menjual listrik tersebut kepada PLN mencapai 1,65 MW/jam, dan sisanya untuk konsumsi sendiri.

“Harga listrik yang dijual kepada PLN ini sesuai dengan harga listrik PLN secara nasional saat ini, untuk nilainya dikalikan saja dengan jumlah listriknya,” katanya saat ditemui Bisnis, di kantor PT SO akhir pekan lalu.

Diketahui, jumlah pasokan sampah Kota Surabaya saat ini rerata mencapai 1.300 ton – 1.600 ton/hari. Sebanyak 55% merupakan sampah organik, dan sisanya non-organik. Keberadaan unit 1 FLG Power Plant ini telah mereduce sampah Surabaya hingga 40% lantaran hanya memanfaatkan gas dari bau sampah, dan fisik sampahnya masih tetap ada tetapi mudah terurai khusus sampah organik.

“FLG Power Plant ini memang hanya memanfaatkan gasnya, tapi sampahnya tetap ada di landfill. Tujuan utama kami bukan hanya gasnya, tapi juga sanitary landfill agar tidak bau bertebaran, dan bagaimana mengatasi masalah sampah yang terus berkembang, jadi sekali tendang kami dapat gasnya dan bisa mengurangi bau,” ujarnya.

Seorang petugas PT Sumber Organik sedang mengecek kondisi gas analyzer yang menghubungkan pipa header dari sumber gas menuju gas engine di unit 1 Landfill Gas (FLG) Power Plant – PLTSa Benowo Surabaya./Bisnis-Peni Widarti

Gasifikasi Power Plant

Sebentar lagi, Kota Surabaya memiliki unit Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang diklaim terbesar dan pertama di Indonesia. Rencananya, PLTSa Benowo ini akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Desember 2019.

PLTSa Benowo ini juga merupakan investasi dari PT SO yang menggunakan tenologi Gasifikasi Power Plant asal China dengan potensi menghasilkan listrik sekitar 12 MW, dan akan memanfaatkan sampah organik maupun non-organik di TPA Benowo sekitar 1.000 ton/hari.

Dari 12 MW yang dihasilkan, nantinya yang dijual kepada PLN sebanyak 9 MW, dan 3 MW akan dikonsumsi sendiri untuk kebutuhan operasional. Unit 2 ini nantinya akan mereduce sampah Surabaya hingga 95% karena semua jenis sampah dapat diolah, tetapi perseroan tetap harus memilah sampah seperti kaca dan besi agar tidak banyak terjadi kotoran pada tungku pembakaran.

“Gasifikasi ini proses pembakaran, atau diarangkan, tetapi bukan dibakar pakai api begitu saja. Disebut gasifikasi karena pembakarannya hanya menggunakan sedikit oksigen, sehingga uap panasnya yang dimanfaatkan menjadi listrik,” jelas Ali.

Dia menambahkan, selain untuk menghasilkan energi baru terbarukan (EBT), PLTSa Benowo ini juga mampu menyerap tenaga kerja terutama warga sekitar TPA Benowo. Pada unit 1 FLG Power Plant telah mempekerjakan sekitar 28 orang, sedangkan Gasifikasi Power Plant akan mempekerjakan 60 orang.

“Kami bangga karena yang bekerja di sini adalah anak Indonesia, mereka yang dulu bekas pemulung, masyarakat sekitar, tanpa kami review ijazahnya kami rekrut dan sekarang mereka sudah jadi ahli, karena tujuan kami adalah bagaimana TPA di sini ada manfaatnya,” imbuhnya.

Terpisah, Senior Manager General Affairs PLN UID Jatim, A. Rasyid Naja mengungkapkan, dari 1,65 MW/hari listrik PLTSa Benowo telah mampu memasok 740.000 kWh/bulan untuk 5.573 pelanggan dengan rerata pemakaian 132,78 kWh/bulan untuk daya 1.300 VA.

“PLN mendukung setiap program pemerintah untuk kepentingan masyarakat, termasuk melakukan pembelian listrik dari tenaga sampah,” katanya.

Tampak depan bangunan fisik unit 2 Gasifikasi Power Plant – PLTSa Benowo yang saat ini sedang dikebut pembangunannya dengan target peresmian pada Desember 2019. Pembangunan PLTSa unit 2 ini akan mampu mengolah 1.000 ton/hari sampah Kota Surabaya menjadi listrik 12 MW./Bisnis-Peni Widarti

Hampir Rampung

Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya, M. Iman Rachmadi mengatakan proses pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo untuk thermal power plant ini sudah mencapai 94%.

“Diperkirakan PLTSa thermal power plant ini akan diresmikan akhir November atau Desember, saat ini pengerjaannya terus kami kejar,” katanya kepada Bisnis, Rabu (13/11/2019).

Dia menjelaskan PLTSa dengan teknologi thermal ini akan menghasilkan 9 MW listrik, menambah jumlah produksi listrik tenaga sampah yang sebelumnya sudah berhasil dikelola dengan jumlah 2 MW yang menggunakan teknologi gas metan.

“Jadi TPA Benowo ini sebelumnya sudah mengolah sampah organik menjadi listrik menggunakan unit 1 power plant gas methan dan kapasitasnya hanya 2 MW. Sedangkan unit 2 power plant sampah non organik lah yang akan menyuplai thermal power plant,” jelasnya.

Berdasarkan data DKRTH Kota Surabaya, pasokan sampah di Surabaya rerata mencapai 1.300 – 1.600 ton/hari. Melalui investasi sekitar US$49,86 juta untuk pembangunan PLTSa, maka sampah Surabaya akan berkurang atau tereduksi dan berubah menjadi listrik yang bermanfaat sedikitnya 1.000 ton/hari.

“Selain itu, TPA Benowo ini juga akan memiliki umur yang panjang ketika sampahnya diolah dengan baik,” imbuh Iman.

Adapun pengelolaan PLTSa ini dilakukan oleh pihak kedua yakni PT Sumber Organik melalui kerja sama sewa aset lahan dan lainnya senilai Rp3 miliar/tahun. Nilai sewa pihak kedua kepada Pemkot Surabaya ini akan meningkat setiap tahun sesuai dengan perjanjian.

“Setelah diolah, Sumber Organik akan menjual listriknya kepada PLN dengan harga sesuai yang tertera dalam Perpres 35 Tahun 2018 tentang harga listrik,” imbuh Iman.

Melalui proyek PLTSa ini, Surabaya pun disebut menjadi kota pertama dan yang berhasil yang menerapkan pengelolaan sampah menjadi listrik dengan hasil produksi listrik yang besar.

Tampak belakang bangunan fisik unit 2 Gasifikasi Power Plant – PLTSa Benowo yang saat ini sedang dikebut pembangunannya dengan target peresmian pada Desember 2019. Pembangunan PLTSa akan mampu mengolah 1.000 ton/hari sampah Kota Surabaya menjadi listrik 12 MW./Bisnis-Peni Widarti

Tarik Investor

Sejumlah perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang waste circular economy tengah mencari peluang kerja sama dengan Jawa Timur.

Mario Lauw, Kepala Perwakilan Surabaya Netherlands Business Support Office (NBSO) – Kedutaan Besar Kerajaan Belanda menjelaskan akhir pekan lalu, NBSO membawa puluhan delegasi dari perusahaan-perusahaan Belanda untuk melakukan kunjungan ke Surabaya dan Malang.

“Kami berkunjung ke TPA Benowo, TPS Jambangan Surabaya dan juga Malang untuk melihat dan mencari opportunity apa saja yang bias dikerjasamakan dengan perusahaan Belanda,” katanya kepada Bisnis, Senin (18/11/2019).

Koordinator Delegasi Belanda, Bert Keesman mengatakan dalam 2 hari mengunjungi Jawa Timur, pihaknya baru sebatas melihat potensi yang ada.

Menurutnya, TPA Benowo yang sempat dikunjunginya juga sudah mengalami peningkatan dalam hal pengolahan masalah sampah yang mampu dijadikan sumber energi listrik.

"Namun, yang perlu dipikirkan pemerintah Jatim dalam waste and circular economy adalah pengolahan limbah yang berkelanjutan yakni memutus sumber limbah, misalnya di sebuah perusahaan yang menggunakan kertas, plastik, kaca dan sebagainya untuk melakukan daur ulang dengan kualitas yang tinggi," jelasnya.

Meski begitu, perusahaan Belanda yang berkunjung ke Surabaya ini memiliki sejumlah bidang yang mampu menangani masalah sampah yang berdampak pada kegiatan ekonomi antaranya sepertu Afvalzorg, perusahaan yang menspesialisasikan diri dalam desain, operasional, manajemen, dan pengurangan emisi lingkungan hidup.

Awect adalah perusahaan yang menyediakan layanan konsultasi dan teknologi limbah lingkungan untuk proyek terkait waste to energy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surabaya, sampah

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup