Ekspor Alas Kaki, Jatim Butuh Industri Pendukung

Kalangan pengusaha alas kaki Jawa Timur berharap pemerintah daerah memberikan insetif bagi industri pendukung guna menggenjot pasar ekspor sekaligus meningkatkan daya saing.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  18:00 WIB
Ekspor Alas Kaki, Jatim Butuh Industri Pendukung
Ilustrasi pekerja menyelesaikan pembuatan sandal dan sepatu di PT Aggiomultimex, Sidoarjo, Jawa Timur - ANTARA/Umarul Faruq

Bisnis.com, SURABAYA – Kalangan pengusaha alas kaki Jawa Timur berharap pemerintah daerah memberikan insetif bagi industri pendukung guna menggenjot pasar ekspor sekaligus meningkatkan daya saing.

Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jatim, Winyoto Gunawan mengatakan kondisi industri sepatu di Jatim saat ini semakin tertekan akibat banyak faktor mulai dari tingkat produktivitas yang rendah dengan upah yang tinggi, persaingan di pasar global, hingga industri pendukungnya.

“Kebutuhan bahan baku dan bahan pendukung untuk industri alas kaki kita masih 65% disuplai dari impor atau rerata sekitar US$61,2 juta/tahun. Ketergantungan bahan baku impor ini mengakibatkan kurangnya daya saing industri,” jelasnya, Selasa (9/7/2019).

Bahkan, lanjutnya, industri komponen bahan baku dan bahan penolong seperti aksesoris dan penyamakan kulit tidak berkembang sehingga skala ekonomi dan jumlah industri penyedia bahan baku belum cukup mampu mendukung keberlanjuan produksi alas kaki.

Namun jika dibandingkan dengan kondisi impor bahan baku dengan Vietnam, Indonesia justru lebih unggul, lantaran Vietnam impor bahan pendukung sampai 70%, tetapi Indonesia kalah saing dari segi pengupahan tenaga kerjanya.

“Di Jatim ada 50 perusahaan menengah dengan tenaga kerja 100.000, kami berharap pemerintah dan dinas membantu memajukan industri. Misalnya dengan mempermudah izin agar menarik investor bahan baku, atau kemudahan izin saat melakukan relokasi dari ring 1 yang UMK nya tinggi ke ring 2 dan 3, atau ada insentif pajak bagi industri eksisting,” jelasnya.

Winyoto menambahkan, selain mendorong industri bahan baku,  pemerintah juga perlu melakukan match making antara industri alas kaki dengan industri tekstil, termasuk mendorong industri bahan baku skala UMKM untuk bisa menjadi suplier industri yang ada di Pusat Logistik Berikat (PLB) mengingat industri bahan baku lokal saat ini belum bisa memenuhi syarat perizinan.

Meski kinerja ekpor Jatim tetap tumbuh 6,4% pada, lanjut Winyoto, kondisi saat ini membuat industri alas kaki Jatim masih kalah dengan Vietnam. Dalam periode 1999 – 2018, ekspor alas kaki Indonesia cuma tumbuh 8,47% sedangkan Vietnam tumbuh 15,96%.

“Perdang dagang AS dan China cukup membawa berkah bagi Vietnam, banyak perusahaan China yang relokasi ke Vietnam. Bahkan brand Adidas berkomitmen untuk meningkatkan pembelian dari Vietnam karena harganya bersaing, sedangkan bagi Indonesia sedikit sekali manfaatnya,” jelasnya.

Adapun Indonesia merupakan eksportir terbesar ke-6 di dunia setelah China, Itali, Vietnam, India dan Brazil, dengan nilai ekspor tahun lalu US$5,1 miliar.  Industri yang menyumbang ekspor terbesar 84% adalah Banten (pengiriman dari DKI Jakarta) US$4,2 miliar, disusul Jatim US$491 juta, Jateng US$286 juta, dan Kepulauan Riau US$30 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jatim, alas kaki

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top