Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penjualan Eceran di Wilayah BI Malang Terkontraksi

Penjualan eceran di wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Malang terkontraksi pada Februari 2024.
Ilustrasi penjualan eceran./Ist
Ilustrasi penjualan eceran./Ist

Bisnis.com, MALANG — Penjualan eceran di wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Malang terkontraksi pada Februari 2024 yang dipicu naiknya beberapa bahan kebutuhan pokok sehingga masyarakat mengerem konsumsi.

Kepala Perwakilan BI Malang, Febrina, mengatakan berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia Malang, penjualan eceran pada Februari 2024 diprakirakan terkontraksi sebesar -4,66% (mtm), menurun lebih dalam jika dibandingkan dengan realisasi Januari 2024 yang terkontraksi sebesar -2,32% (mtm).

"Prakiraan penurunan omzet penjualan secara bulanan terjadi pada beberapa kelompok komoditas," katanya, Jumat (15/2/2024).

Menurut dia, tiga kelompok yang mengalami kontraksi terdalam, yakni kelompok barang budaya dan rekreasi yang terkontraksi sebesar -8,46% (mtm), kelompok kendaraan -7,85% (mtm) dan kelompok makanan, minuman dan tembakau -2,71% (mtm).

Kelompok barang budaya dan rekreasi terkontraksi sebesar -8,46% (mtm), menurun lebih dalam jika dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -6,55% (mtm).

Penurunan tersebut disumbang oleh subkelompok mainan anak–anak yang terkontraksi sebesar -14,84% (mtm). Hal tersebut dipengaruhi oleh masyarakat menahan konsumsi produk sekunder maupun tersier dan memprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan primer.

Selanjutnya, kategori kelompok kendaraan terkontraksi sebesar -7,85% (mtm), menurun jika dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,22% (mtm). Subkelompok mobil mengalami penurunan terdalam sebesar -8,29% (mtm).

Responden SPE menyampaikan bahwa penurunan penjualan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni diperketatnya leasing approval, konsumen cenderung wait and see untuk membelanjakan konsumsinya seiring dengan kepastian hasil pemilu serta konsumen menunggu peluncuran mobil tipe baru.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau, kata dia, diprakirakan terkontraksi sebesar -2,71% (mtm), lebih baik meskipun masih dalam kondisi terkontraksi jika dibandingkan dengan realisasi di bulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -6,73% (mtm).

Penurunan terdalam pada kelompok komoditas ini, Febrina menjelaskan, disumbang oleh sub sektor bahan makanan sebesar -6,11% (mtm). Hal tersebut dipengaruhi oleh isu menipisnya pasokan beras yang memicu kenaikan harga beras dan berdampak pada penurunan omzet penjualan.

Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai SPE Februari mengindikasikan sebagian besar masyarakat masih menahan konsumsinya dan lebih prioritas pada kebutuhan primer.

Selain karena faktor kenaikan beberapa komoditas bahan pokok, masyarakat menahan konsumsinya sebagai upaya menghimpun amunisi untuk memasuki bulan Ramadan dan Idulfitri, dimana di momen tersebut pengeluaran konsumsi lebih tinggi dari biasanya.

Namun situasi Februari  akan membaik seiring dengan peningkatan konsumsi pada Maret dan April. Hal ini dapat bersumber dari jaring pengaman sosial dan penguatan daya beli melalui program stabilisasi harga pangan. Disamping itu, kata dia, gelontoran THR akan mendorong konsumsi meningkat, khususnya untuk fashion, makan minum, transportasi dan wisata.

“Fakta ini juga akan diperkuat dengan peluncuran produk baru di sektor otomotif maupun gadget yang diiringi dengan berbagai paket diskon yang menarik.” Ucap Joko yang juga Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi FEB UB itu. (K24)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Choirul Anam
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper