Ekonom Unair: Ekonomi Jatim Tumbuh 5,34 Persen, Komponen Ekspor Perlu Dijaga

Pemerintah Provinsi Jawa Timur perlu menjaga kinerja ekspor agar tidak jatuh tahun ini agar ekonomi 2023 dapat terjaga bahkan tumbuh dengan baik.
Ilustrasi/Bisnis
Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, SURABAYA - Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya menilai Pemerintah Provinsi Jawa Timur perlu menjaga kinerja ekspor agar tidak jatuh tahun ini agar ekonomi 2023 dapat terjaga bahkan tumbuh dengan baik di tengah tantangan situasi global.

Ekonom Unair, Wisnu Wibowo mengatakan pertumbuhan ekonomi Jatim kuartal IV/2022 memang masih lebih rendah -0,71 persen dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2022. Namun secara menyeluruh selama 2022, pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 5,34 persen sudah lebih baik dibandingkan 2021 yang hanya tumbuh 3,56 persen.

“Ini menunjukkan bahwa ekonomi Jatim sudah bergerak maju ke arah recovery. Nah recovery itu secara historis ekonomi Jatim biasanya akan lebih tinggi dari ekonomi nasional. Sehingga ini diharapkan pola ekonomi Jatim ini akan kembali pada seperti sebelum pandemi Covid-19,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (7/2/2023).

Dia mengatakan Jatim sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional jika dilihat dari sisi pertumbuhan di wilayah Pulau jawa, Jatim merupakan tertinggi kedua setelah Jawa Barat. 

“Tapi situasi ini juga masih menjadi sinyal yang bagus bagi pertumbuhan ekonomi berikutnya di tahun ini,” ujarnya.

Wisnu mengatakan memang jika dilihat dari karakteristik dan transformasi satu daerah, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh 2 sisi yakni dari sisi lapangan usaha dan sisi pengeluaran.

“Konsumsi atau pengeluaran memang telah menggerakkan ekonomi di suatu daerah, terutama di Jatim karena kontribusinya yang lebih besar. Namun justru pertumbuhan tertinggi terjadi sektor lapangan usaha khususnya komponen ekspor luar negeri yang mencapai 9,23 persen,” ujarnya.

Meskipun kontribusi terhadap PDRB Jatim bahkan di daerah lain maupun negara lain masih didominasi sektor konsumtif, tetapi di level lapangan usaha yakni ekspor luar negeri yang tumbuh bagus telah menunjukkan bahwa sesungguhnya daya saing produk Jatim meningkat.

“Ini pertanda bagus, tapi juga menyimpan potensi tantangan yang harus diantisipasi. Ketika misalnya pasar dari produk Jatim di pasar global itu terpengaruh disrupsi supplay chain akibat geopolitik, ini harus diantisipasi. Walaupun harapanya di 2023 konflik bisa mereda, tetapi faktanya masih  menunjukan eskalasi tinggi,” jelasnya.

Dekan 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair itu juga menambahkan, jika pertumbuhan tertinggi di Jatim adalah ekspor, maka peran pasar internasional itu sangat besar. Sebab ketika negara-negara di dunia mengalami perlambatan dan ancaman resesi itu bisa berdampak hingga ke Indonesia.

“Oleh karena itu, pemerintah daerah harus bisa mengantisipasi ini, bagaimana momentum yang bagus, bagaimana ekspor luar negeri ini bisa mengalami pertumbuhan, setidaknya jangan sampai drop akibat ancaman resesi dunia dan memanasnya Ukraina - Rusia yang bisa juga menyeret Amerika Serikat dan Eropa,” imbuh Wisnu.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Peni Widarti
Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper