Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Deflasi di Malang per Agustus Dipengaruhi Mamin dan Tembakau

Penurunan harga komoditas hortikultura yang sebelumnya mengalami inflasi tinggi, seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah mengalami penyesuaian harga.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 07 September 2022  |  18:30 WIB
Deflasi di Malang per Agustus Dipengaruhi Mamin dan Tembakau
Ilustrasi cabai yang kerap mempengaruhi indeks pergerakan harga. - Bisnis/Eusebio Chysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, MALANG - Deflasi pada Agustus 2022 dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil -0,37 persen sedangkan kelompok lainnya seluruhnya mengalami inflasi dengan penyumbang terbesar antara lain kelompok pendidikan (0,10 persen), transportasi (0,09 persen), dan penyedia makanan dan minuman/restoran (0,05 persen).

Kepala Perwakilan BI Malang, Samsun Hadi, mengatakan berdasarkan komoditasnya, deflasi di Kota Malang terutama didorong oleh lima komoditas yang menjadi penyumbang deflasi terbesar, yakni cabai rawit (-0,18 persen), bawang merah (-0,14 persen), minyak goreng (-0,11 persen), daging ayam ras (-0,05 persen), dan cabai merah (-0,05 persen).

"Penurunan harga komoditas hortikultura yang sebelumnya mengalami inflasi tinggi, seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah mengalami penyesuaian harga seiring masuknya musim panen dan iklim yang mendukung sehingga hasil panen di sejumlah sentra produksi utama di Jawa Timur cukup melimpah,” ucapnya, Rabu (7/9/2022).

Minyak goreng juga mengalami penurunan harga tiga bulan berturut-turut sejalan dengan kebijakan intervensi Pemerintah untuk menekan harga melalui domestic market obligation.

Daging ayam ras, kata dia, juga tercatat mengalami penurunan sejak sebelumnya mengalami inflasi akibat kondisi peternak ayam yang sudah kembali normal dan harga pakan ternak yang mulai membaik.

Deflasi yang lebih dalam tertahan oleh inflasi pada berbagai komoditas, antara lain akademi/perguruan tinggi (0,10 persen), beras (0,08 persen), angkutan udara (0,06 persen), air kemasan (0,03 persen), dan celana panjang jeans pria (0,02 persen).

Naiknya tarif akademi/perguruan tinggi disebabkan sudah mulai masuknya tahun ajaran baru mengingat Kota Malang merupakan salah satu kota pendidikan dengan 59 perguruan tinggi.

Selain itu, beras juga tercatat mengalami inflasi dipicu oleh penurunan produktivitas penggilingan gabah dan adanya program Bantuan Pangan Non Tunai yang dirapel untuk kebutuhan tiga bulan kedepan sehingga permintaan beras meningkat sementara produksi cenderung stagnan.

Tarif angkutan udara juga tercatat mengalami kenaikan akibat tingginya mobilitas masyarakat ke Kota Malang, terutama mahasiswa dari luar pulau Jawa yang akan bersekolah sehingga menyebabkan permintaan tinggi.

Selain itu, terdapat regulasi pemerintah melalui Peraturan Menteri Perhubungan No 20/2019 yang mengizinkan maskapai nasional menerapkan biaya fuel surcharge hingga 10 persen di atas tarif batas atas.

Harga celana jeans pria juga tercatat mengalami kenaikan didorong oleh kenaikan harga bahan baku berupa kapas. Meskipun mengalami deflasi, faktor risiko pendorong kenaikan harga berbagai komoditas masih perlu diwaspadai mempertimbangkan berlanjutnya normalisasi mobilitas masyarakat.

Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai melimpahnya pasokan komoditas pangan, kecuali telur ayam ras berdampak besar pada deflasi di Kota Malang. Di sisi lain, Agustus merupakan masa pembayaran UKT/SPP perguruan tinggi di Malang sehingga pendidikan mengalami inflasi tinggi.

Dengan deflasi ini, kata dia, setidaknya mengerem tekanan inflasi sejak awal tahun 2022. Meskipun demikian, ancaman tekanan inflasi ke depan akan banyak dihantui oleh isu dan kebijakan pengurangan subsidi BBM yang ini berpotensi mendorong inflasi melesat pada kisaran 0,7-1 persen pada September.

Selain itu, kenaikan harga telur ras yang tidak segera diredam akan menambah tekanan inflasi pada September.

“Oleh karena itu, pemerintah daerah harus memperkuat bantalan daya beli bagi masyarakat miskin dan rentan miskin,” kata Joko yang juga Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya itu.(K24)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga BBM deflasi hortikultura malang komoditas
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top