Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelajah Kopi Jatim 2022, Takut Promosi Menghindari Order

Permintaan terhadap kopi spesial, yang memiliki varian rasa beragam, cukup tinggi. Pemesannya kedai kopi. Banyaknya pesanan menyebabkan perajin kopi enggan promosi berlebih.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 08 Juli 2022  |  16:22 WIB
Jelajah Kopi Jatim 2022, Takut Promosi Menghindari Order
Petani mengeringkan biji kopi di Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Rabu (6/7/2022). Proses dan metode pengeringan kopi bisa menghasilkan cita rasa berbeda. - Bisnis/Andik Susanto.
Bagikan

Bisnis.com, BLITAR - Lazimnya orang berbisnis melakukan promosi dengan harapan ada peningkatan pesanan sehingga kapasitas usaha bisa terdongkrak. Namun kebiasaan itu tidak berlaku di Kelompok Tani Arabika Lestari (Arbilest).

"Dulu kami promosi lewat media sosial, sekarang tidak, karena takut order," kata Aris Setyono, pelopor peningkatan nilai tambah kopi di Arbilest, saat ditemui Tim Jelajah Kopi Jatim 2022, Rabu (6/7/2022).

Kelompok tani Arbiliest berada di Desa Rasapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, memiliki anggota 36 orang dengan lahan yang dikelola 350 ha. Sebagian kecil lahan tersebut milik pribadi petani, sedangkan lainnya kerja sama memanfaatkan lahan Perhutani.

Lahan pertanaman kopi kelompok ini berada di lereng Gunung Butak, dengan ketinggian 600-1200 mdpl. Variasi ketinggian tersebut membuat 80 persen tanaman kopi yang dikelola kelompok berjenis robusta, dan 20 persen arabica.

Biji kopi dari kelompok ini mulanya dijual ke pasar melalui pola perdagangan konvensional. Petani menjual grean beans ose ke pedagang di pasar atau pengepul. Namun, berkat tangan dingin Aris, pola tersebut mulai bergeser, meski tidak hilang sepenuhnya.

Biji kopi kini dipilah sejak dari petik di lahan. Petik harus merah. Diseleksi saat dirambang. Metode dan pola pengeringan berbeda berdasar hasil yang dihendak dicapai. Hingga ada perlakuan khusus pada grean beans untuk kopi spesial. Akhirnya muncul pembeli khusus pula, yang berani membayar kopi berkualitas dengan harga layak.

"Ada cafe-cafe yang pesan kontinu sekarang. Mereka bayar di muka baru diproseskan," ujarnya.

Basuki, Bendahara Kelompok Tani Arabika Lestari (Arbilest), menunjukkan seleksi biji kopi di pohon. Untuk menghasilkan kopi berkualitas biji kopi yang dipetik harus sudah matang/merah./Bisnis-Andik Susanto.

Bermula dari Bangkrut

Aris, pria yang lahir 1985 ini, sebenarnya bukan berlatarbelakang pendidikan pertanian. Bahkan, tidak menggeluti bidang tersebut. Bisnis memasok bahan bangunan ke proyek perumahan yang ditekuni pada mulanya.

Lantas ada mitra bisnis yang tidak memenuhi janji. "Jaman sakmono utang empat meter," ujarnya menggambarkan kejatuhan bisnisnya. Ukuran meter dalam percakapan di sela-sela berjalan ke kebun kopi itu bermakna empat miliar rupiah.

"Kabeh didoli [dijual] untuk menutupi itu," ujar pria dengan perawakan langsing dengan tinggi sekitar 170 cm ini. Aris juga menggambarkan bagaimana dirinya kalut saat itu. Hingga ada orang yang memberi modal dirinya Rp400.000 pada 2016 dan mendorongnya untuk berjualan kopi.

Aris menuturkan, saat berjualan kopi luwak pada pameran di komples Kantor Bupati Blitar, respons pengunjung luar biasa. Segelas kopi dibanderol Rp10.000 kala itu. Pembeli sampai antre berbaris.

"Sejak itulah terjun ke kopi, khususnya kopi luwak. Dan, 2017 jadi mitra Bank Indonesia," tuturnya.

Sampai saat ini, Aris memproduksi kopi luwak, dengan pembeli rutin dari Jepang dan California. Pasar asing berani membeli kopi luwak Rp3,5 juta per kilogram, sedangkan pasar lokal Rp1,2 juta per kilogram.

Proses pemanenan kopi luwak./Bisnis-Andik Susanto.

Tak Berhenti Eksperimen

Pengolahan kopi dalam bayangan kebanyakan orang hanya berupa aktivitas mulai kopi dipetik dari pohon, dijemur, disangrai, lalu diseduh. Ternyata kopi spesial lahir dari proses tambahan lain yang spesifik. Teknisnya bisa berupa pengeringan dengan beberapa cara berbeda, durasi pengeringan sekian waktu tertentu, fermentasi, penyimpanan dengan suhu khusus, sangrai dengan panas berapa derajat, dsb.

Termasuk kopi luwak yang diproduksi Arbilitest, perlakuan khusus pada luwak/musang dilakukan, biji yang diproduksi luwak juga diproses dengan berbeda. "Itu untuk menghasilkan citarasa yang diinginkan juga lain," katanya.

Aris melakukan puluhan ragam uji coba, dan puluhan kali gagal saat eksperimen menghasilkan citarasa tersebut. Bahkan pernah, uji cobanya gagal, sehingga biji kopi yang didapatnya beraroma seperti bambu direndam.

"Persis pring [bambu] direndem. Kecing," ujarnya sembari tergelak.

Tapi kegagalan tidak menyurutkan semangat percobaan perlakuan terhadap biji kopi. Alhasil sekarang ada 48 varian rasa yang sudah bisa didapatkan, dari mengolah lebih lanjut biji kopi ose. Beberapa rasa di antaranya arabica yang ada rasa guava saat diseduh, robusta nangka atau sawo, ada juga rasa madu/honey.

Permintaan terhadap kopi spesial, yang memiliki varian rasa beragam, membuatnya kewalahan. Untuk menghasilkan satu varian rasa tertentu memerlukan waktu tambahan proses beberapa pekan, hingga beberapa bulan.

"Jadi sekarang enggak pernah posting kopi, takut diorder. Kewalahan karena pesanan yang ada sudah banyak," jelasnya sembari menunjukkan beberapa bukti transaksi pembayaran kopi, nilainya bervariasi ada Rp20 juta per slip, bahkan ada yang lebih.

Ingin Wilayah Berkembang

Keberhasilkan meningkatkan nilai tambah ose, menjadikan kopi dengan rasa spesial, membuat Aris ingin mengajak petani di kawasan tersebut berbenah. Bersama kelompok tani Arbilest, juga petani yang bergabung dengan Koperasi Produsen Petani Lerang Gunung Butak, dan beberapa kelompok lain di kawasan tersebut untuk membuat wisata sistem edukasi kopi.

"Mulai dari pola di hulu (pertanaman) sampai hilir (penyajian)," ujar pria yang memiliki keinginan diikutkan kelas barista agar punya bekal lebih untuk membangun wisata edukasi kopi dari hulu ke hilir lengkap.

Harapannya dengan adanya edukasi kopi yang dikemas dalam aktivitas wisata, pergerakan ekonomi di Desa Resapombo, Kecamatan Doko bertambah. Edukasi kopi tidak hanya untuk orang luar yang ingin belajar, tetapi antarpetani juga bisa saling berlajar, bagaimana teknis budi daya hingga pemrosesan kopi yang benar sehingga bisa menghasilkan produk bernilai tinggi.

Bisnis Indonesia didukung, Bank Jatim, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, PT Perkebunan Nusantara XII, MPM Honda Jatim, Indosat, Honda Surabaya Center, Perkebunan Kopi Tugu Kawisari Blitar dan Hotel Tugu Malang, Hotel Luminor Sidoarjo dan Banyuwangi, PLN Unit Induk Distribusi Jawa Timur, menggelar Jelajah Kopi Jatim 2022 dengan berkunjung ke sentra pengembangan kopi di Jawa Timur, 5-7 Juli. Reportase tim diharapkan bisa menambah informasi dan inspirasi bagi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jelajah Kopi kopi blitar jatim Bank Indonesia
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top