Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kadin Jatim Desak Pemerintah Serius Kembangkan Kedelai 

Adanya defisit komoditas tanaman kedelai termasuk naiknya harga kedelai impor menjadi bukti bahwa pemerintah belum serius dalam mengejar swasembada kedelai.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 21 Februari 2022  |  17:54 WIB
Perajin menyiapkan kedelai impor sebagai bahan baku tahu takwa khas Kediri di sentra industri tahu, Kelurahan Tinalan, Kota Kediri, Jawa Timur, Senin (21/2/2022). Perajin terpaksa menaikkan harga jual tahu takwa dari sebelumnya Rp22.000 menjadi Rp23.000 per 10 potong akibat harga kedelai impor naik hingga Rp11.000 per kilogram. - Antara/Prasetia Fauzani.
Perajin menyiapkan kedelai impor sebagai bahan baku tahu takwa khas Kediri di sentra industri tahu, Kelurahan Tinalan, Kota Kediri, Jawa Timur, Senin (21/2/2022). Perajin terpaksa menaikkan harga jual tahu takwa dari sebelumnya Rp22.000 menjadi Rp23.000 per 10 potong akibat harga kedelai impor naik hingga Rp11.000 per kilogram. - Antara/Prasetia Fauzani.

Bisnis.com, SURABAYA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menilai pemerintah perlu mendorong pertanian di sektor tanaman kedelai termasuk melalui upaya kerja sama dengan berbagai perusahaan pengembangan varietas tanaman.

Ketua Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan adanya defisit komoditas tanaman kedelai termasuk naiknya harga kedelai impor saat ini menjadi bukti bahwa pemerintah belum serius dalam mengejar swasembada kedelai.

“Seharusnya, komitmen untuk mewujudkan swasembada kedelai diwujudkan dengan membuat peta besar peningkatan produksi kedelai nasional secara terukur. Namun sayangnya, data produksi kedelai kita semakin tahun semakin turun,” katanya, Senin (21/2/2022).

Adapun tingkat konsumsi kedelai di Jatim rerata mencapai 447.912 ton per tahun. Namun produksi tanaman kedelai lokal belum mampu mencukupi kebutuhan sendiri, bahkan semakin turun. 

Tercatat pada 2018 produksi kedelai Jatim mencapai sekitar 240.000 ton, kemudian pada 2019 menurun menjadi 120.000 ton, dan pada 2020 semakin anjlok menjadi 57.235 ton.

“Akibatnya kita sangat ketergantungan dengan kedelai impor yang harganya juga fluktuatif. Kondisi seperti ini terus berulang terjadi, yang saat ini harga kedelai impor sudah mencapai Rp11.000/kg naik dari harga normal Rp9.000/kg,” katanya.

Harga kedelai impor yang melambung ini pun, kata Adik, telah berdampak pada industri turunan lainnya terutama bagi usaha mikro kecil seperti perajin tahu dan tempe yang akhirnya mogok produksi.

Adik menambahkan, sebetulnya saat ini di Jember terdapat perusahaan pengembangan dan rekayasa benih varietas tanaman kedelai dengan tingkat produktivitas yang lumayan tinggi.

“Kalau di Amerika produktivitas tanaman kedelainya bisa mencapai 5 ton/ha, di Indonesia cuma bisa 1,3 ton - 1,5 ton/ha. Namun dengan rekayasa pembenihan yang dilakukan perusahaan di Jember ini, produktivitasnya bisa mencapai 3 ton - 3,2 ton/ha,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah perlu menggandeng perusahaan seperti ini dalam pengembangan tanaman kedelai termasuk membuat demplot kedelai di berbagai daerah serta memberikan pendampingan serius agar petani mau dan paham dalam menanam kedelai yang baik.

“Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan terus, dan swasembada pangan adalah hal mutlak yang harus dicapai oleh sebuah negara untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri,” imbuhnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hortikultura kedelai jatim
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top