Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ikan Dewa Telaga Sarangan, Ini Mitos dan Faktanya

Pemkab Magetan pun menebar sekitar 15.000 benih ikan dewa di Telaga Sarangan.
Chelin Indra Sushmita
Chelin Indra Sushmita - Bisnis.com 12 Oktober 2021  |  13:36 WIB
Ikan dewa. - Youtube.
Ikan dewa. - Youtube.

Bisnis.com, MAGETAN — Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, merupakan salah satu tempat untuk mengembangbiakkan spesies ikan dewa yang mulai langka. Keberadaan ikan asli Indonesia ini diharapkan dapat meningkatkan sektor pariwisata di sana.

Pemkab Magetan pun menebar sekitar 15.000 benih ikan dewa di Telaga Sarangan. Mereka juga melarang warga setempat untuk memancing ikan tersebut.

Penebaran bibit ikan dewa dilakukan karena hewan air tawar yang satu ini mulai sulit ditemukan di habitat aslinya, yaitu perairan berarus deras dan bersih. Pemkab Magetan pun berupaya membudidayakan ikan tersebut di Telaga Sarangan yang masih alami.

Selama ini banyak mitos serta fakta unik yang berkembang terkait ikan dewa. Berikut ulasannya:

Muncul Ajaib

Dihimpun dari berbagai sumber, Selasa (12/10/2021), menurut cerita yang berkembang di masyarakat, ikan dewa sering kali muncul secara ajaib di suatu wilayah. Salah satunya seperti di pemandian Cibulan, Kuningan, Jawa Barat, yang dianggap sebagai jelmaan pasukan Prabu Siliwangi.

Jelmaan Dewa

Peneliti ikan asal Wonogiri, Jawa Tengah, Rikho Jerikho, 26, mengatakan beberapa daerah di Jawa masih menganggap ikan dewa sebagai hewan keramat.

“Banyak yang percaya kalau ikan ini adalah representasi dari jiwa jiwa tentara kerajaan jaman dahulu. Makanya harus disucikan dan dikeramatkan,” katanya saat berbincang dengan JIBI, Senin (11/10/2021) malam.

Dalam perkembangan agama Hindhu atau Budha dianggap sebagai representasi dewa. “Beberapa disebutkan jika ikan ini adalah bentuk representasi dewa mereka. Mungkin dari sana disebut sebagai ikan dewa,” lanjut dia.

Tidak Boleh Dimakan

Anggapan keramat yang melekat membuat ikan dewa tidak begitu familiar dikonsumsi. Padahal, ikan ini dulunya merupakan makanan kaum bangsawan.

“Enggak sembarangan orang bisa makan ikan ini dan hanya untuk kalangan raja. Di beberapa daerah di Sumatra masih menyisakan buktinya, dengan ikan ini menjadi lambang prestige dalam upacara pernikahan. Semakin besar dan banyak ikan semah/batak/dewa yang diberikan, maka kasta orang tersebut akan dinilai kasta tinggi,” jelas Rikho.

Ikan ini kerap dicari menjelang perayaan Imlek sebagai sajian spesial. Ikan ini dianggap memiliki energi positif yang membawa keberuntungan. Tidak heran jika menjelang perayaan Imlek, harga ikan ini pun melambung tinggi mencapai jutaan rupiah per ekor.

Asli Indonesia

Sejumlah literatur menyebutkan bahwa ikan dewa merupakan hewan asli Indonesia yang biasa ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Ikan ini pun memiliki sebutan berbeda di setiap daerah, seperti semah di Kalimantan, batak di Sumatra, serta dewa di Jawa.

Langka

Meski asli Indonesia, ikan ini ternyata termasuk hewan langka. Secara umum habitat ikan dewa adalah perairan berarus deras. Ikan ini bisa tumbuh besar mencapai panjang tubuh 75-100 cm. Namun saat ini semakin sulit menemukan keberadaannya di alam liar. Hal ini disebabkan habitat alaminya berkurang akibat berbagai faktor, mulai dari polusi, pengalihan lahan, fragmentasi, hingga penurunan kualitas air.

Meskipun sudah banyak orang yang membudidayakan bahkan berhasil melakukan pemijahan, spesies ikan ini dikategorikan sebagai hewan langka.

“Tapi ikan ini ada yang masuk ke dalam Peraturan Mentri dan dilindungi. Tapi memang sudah susah banget buat cari ikan ini di alamnya. Cepat besar ataupun banyak yang membiakan bukan berarti enggak langka juga, karena di alam liar sudah susah banget ditemui,” sambung Rikho.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim ikan hias Magetan

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top