Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peternak Ayam Blitar Berharap Gebrakan Jokowi Lagi

Pasokan ayam dan telur berlebih membuat harga telur tertekan selama pandemi, dan memaksa sebagian peternak merelakan aset disita bank karena gagal bayar utang.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 29 September 2021  |  06:33 WIB
Pekerja menimbang telur ayam hasil panen di sebuah peternakan ayam petelur di Wonokoyo, Malang, Jawa Timur, Selasa (21/9/2021). Tak kunjung naiknya harga telur ayam yang berada di kisaran Rp14.500 per kilogram dalam tiga bulan terakhir membuat peternak ayam petelur setempat terpaksa melakukan afkir (pemilihan ayam petelur yang sudah tidak produktif lagi) lebih awal untuk mengurangi kerugian sekaligus mengurangi pembengkakan biaya pakan. - Antara/Ari Bowo Sucipto.
Pekerja menimbang telur ayam hasil panen di sebuah peternakan ayam petelur di Wonokoyo, Malang, Jawa Timur, Selasa (21/9/2021). Tak kunjung naiknya harga telur ayam yang berada di kisaran Rp14.500 per kilogram dalam tiga bulan terakhir membuat peternak ayam petelur setempat terpaksa melakukan afkir (pemilihan ayam petelur yang sudah tidak produktif lagi) lebih awal untuk mengurangi kerugian sekaligus mengurangi pembengkakan biaya pakan. - Antara/Ari Bowo Sucipto.

Bisnis.com, BLITAR - Peternak ayam petelur/layer berharap selalu ada gebrakan dari pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo sehingga permasalahan yang dihadapi pembudi daya kecil menemukan solusi konkret.

Suyanto, peternak ayam petelur asal Gandusari, Kabupaten Blitar, mengatakan peternak hanya berharap harga acuan yang ditetapkan pemerintah terimplementasi. Selain itu, pasokan jagung di pasaran diharapkan lancar dan mudah didapatkan peternak.

"Seperti saat ada gebrakan Pak Jokowi soal jagung setelah bertemu peternak, harga jagung di pasaran turun Rp600 per kilogram," jelasnya di sela-sela aksi simpatik peternak ayam mandiri yang bergabung dalam Peternak Maju Bersama, di depan Kantor Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (28/9/2021).

Aksi peternak dari Blitar dan sekitarnya ini sempat menarik ribuan masyarakat. Pasalnya, ada rencana pelepasan ayam, bazar telur dan pembagian telur gratis. Meski sempat terjadi kerumunan massa, polisi mengurai konsentrasi orang dengan menyekat jalan menuju lokasi, sekaligus menggeser mobil komando aksi dan pikap pengangkut telur ke luar kawasan.

Akhirnya rencana bagi-bagi telur batal dilaksanakan. Rombongan pikup pengangkut telur dihalau menjauhi kawasan Kantor Bupati Blitar. Sedangkan rombongan yang menuju lokasi diminta putar balik ke kandang masing-masing. Telur yang hendak didonasikan langsung diberikan ke panti asuhan maupun lembaga sosial sekitar asal peternak.

Suyanto menjelaskan aksi yang didukung lebih dari 1.000 peternak mandiri itu bertujuan menarik simpati. Tidak ada agenda bertemu dengan pemegang kebijakan, termasuk bupati. "Istilahnya kami hanya mau bilang tolong peternak mandiri ini diperhatikan," kata peternak yang memelihara 4.000 ekor ayam ini.

Peternak ayam mandiri merupakan pembudi daya yang memelihara kurang dari 5.000 ekor ayam. Sedangkan di atas angka itu masuk peternak sedang maupun besar. Adapula peternak yang digandeng pabrikan/integrator. Problem yang kerap dihadapi semua skala pembudi daya itu harga telur di bawah ketetapan pemerintah dan jagung mahal.

Hanya saja bila diteliti lebih dalam ada problem hulu hingga hilir. Di sisi hulu, ada pabrikan yang menyiapkan bibit ayam (day old chick). Industri segmen ini hasil akhirnya bibit ayam, hasil sampingnya telur yang tidak ditetaskan.

Ketidakseimbangan pasokan dengan permintaan, dan rembesan hasil samping (telur tidak ditetaskan) ke pasar kerap dituding sebagai penyebab tekanan terhadap harga telur. Terlebih, industri besar juga punya bermitra dengan peternak (integrator) yang memiliki skala usaha besar.

"Pasokannya berlebih sekarang, ya ayamnya, ya telurnya," kata Sumardi, peternak yang memiliki 50.000 ekor ayam layer di Suruhwadang, Kabupaten Blitar.

Menurutnya pasokan berlebih ayam dan telur seiring dengan adanya rembesan telur yang tidak ditetaskan ke pasar. Kondisi ini diperparah serapan pasar rendah, sehingga sejak pandemi Covid-19 per Maret 2020 hingga September 2021 harga telur di bawah harga pokok produksi Rp18.000 per kilogram.

"Hanya beberapa hari saja sempat di atas itu," kata peternak yang sebelum pandemi mengelola 100.000 ekor ayam layer. Tekanan harga membuatnya mengurangi jumlah ayam yang dikelola plus merelakan sejumlah aset dilelang bank karena gagal bayar kredit usaha.

Pekerja memanen telur ayam di salah satu peternakan ayam petelur Desa Pagerwangi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Selasa (28/9/2021). Menurut peternak setempat, dua hari terakhir harga telur ayam di tingkat peternak naik kembali dari Rp15.000 menjadi Rp18.300 per kilogram karena permintaan pasar mulai meningkat./Antara-Oky Lukmansyah.

Sumardi sebenarnya termasuk peternak skala menengah dan tergabung ke koperasi. Kelompoknya juga memiliki akses order jagung impor ke Bulog. Akses tersebut tidak dimiliki peternak mandiri. Hanya saja, saat ini tidak ada alokasi jagung khusus peternak di perusahaan milik negara tersebut.

Sementara jagung di pasaran jadi rebutan perusahaan besar, distributor besar, bahkan sejak di sawah. Tanaman jagung di sawah bisa digolongkan menjadi dua, milik kemitraan perusahaan bibit dan petani. Tidak ada data riil seberapa banyak jagung kemitraan yang dimiliki pabrikan benih.

Seorang penyuluh pertanian di Garum, Kabupaten Blitar, menceritakan di wilayahnya luasan jagung milik perusahaan yang bermitra dengan petani lebih dari 75 persen dari total pertanaman jagung.

Dalam usaha peternakan ayam petelur, jagung memiliki porsi 50 persen biaya pemeliharaan ayam petelur, 30 persen konsentrat (pakan pabrikan) dan 20 persen dedak. Soal jagung ini, Presiden Jokowi memerintahkan bisa disediakan seharga Rp4.500 per kilogram. Harga di tingkat distributor saat ini Rp5.300 per kilogram, turun setelah sempat Rp6.100 per kilogram.

Penurunan harga jagung dipengaruhi faktor tindakan tegas kepada penimbun sesuai perintah Kepala Negara. "Bisa turun karena mereka (penimbun) tidak berani menyerap barang di pasar, sehingga stok ada. Meski mereka juga tidak berani mengeluarkan," jelas Sumardi.

Melihat anatomi permasalahan peternakan ayam petelur, setidaknya terlihat problem segmen industri yang produksinya berlebih. Ada tren integrasi skala usaha (berkelompok) untuk akses bahan baku, meski ada peternak yang tetap ingin mandiri meski skala kecil. Adapula penguasaan jagung sejak di lahan, sehingga neraca komoditas riil tidak terdata.

"Makanya, kalau gak gebrakan Presiden tidak bisa karena lintas kementerian," kata Sumardi yang setelah merelakan asetnya dilelang bank juga berencana mengurangi ternak yang dikelolanya untuk menekan kerugian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi telur jagung jatim peternak ayam blitar
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top