Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kota Malang Alami Inflasi 0,03 Persen pada Agustus

Sepuluh komoditas teratas andil terbesar inflasi yakni sabun detergen bubuk/cair, minyak goreng, rokok kretek filter, tomat, daging sapi, tahu mentah,cabai rawit,tempe, bayam, teh siap saji.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 01 September 2021  |  18:39 WIB
Tugu Kota Malang.
Tugu Kota Malang.

Bisnis.com, MALANG — Kota Malang mengalami inflasi 0,03 persen pada Agustus 2021 menunjukkan dampak PPKM Level 4 yang masih terasa, meski menunjukkan perkembangan ekonomi ke arah yang positif.

Kepala BPS Kota Malang Erny Fatma Setyoharini mengatakan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian indeks kelompok pengeluaran,yakni kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin sebesar 0,68 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,41 persen; serta kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan masing-masing sebesar 0,01 persen.

“Sepuluh komoditas teratas yang memberikan andil terbesar inflasi pada Agustus 2021, yakni sabun detergen bubuk/cair, minyak goreng, rokok kretek filter, tomat, daging sapi, tahu mentah,cabai rawit,tempe, bayam, teh siap saji,” katanya di Malang, Rabu (1/9/2021).

Kenaikan harga tomat dipicu oleh kelangkaan pasokan dari sentra produksi pertanian dampak musim kemarau.

Beberapa kelompok pengeluaran dengan indeks stabil, yakni kelompok rekreasi, olahraga dan budaya,kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran, kelompok pendidikan, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Sementara kelompok yang menahan laju inflasi, yakni kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,04 persen dan kelompok makanan-minuman, dan tembakau sebesar 0,19 persen.

Tingkat inflasi tahun kalender Agustus 2021 sebesar 0,58 persen dan tingkat inflasi tahun ketahun (Agustus 2021 terhadap Agustus 2020) sebesar 1,12 persen.

Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Wildan Syafitri menilai inflasi Kota Malang yang masih rendah menunjukkan dampak Covid masih terasa, namun trennya sudah ke arah arah positif meski di tengah pelaksanaan PPKM Level 4.

Inflasi yang rendah, menurut dia, disebabkan karena rendahnya permintaan karena pembatasan wilayah sehingga meningkatkan inflasi di sektor peralatan rumah tangga.

“Rendahnya mobilitas perlu dikompensasi dengan peningkatan transaksi digital,” ucapnya.(K24)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jatim kota malang PPKM Darurat
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top