Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bulog Jatim & BUMN Diminta Ikut Menyerap Beras Petani

Penyerapan gabah ataupun beras petani jangan sampai harganya di bawah HPP sehingga petani tetap sejahtera dan akan terus bersemangat dalam memproduksi beras sebagai makanan pokok.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 25 Maret 2021  |  15:48 WIB
Gubernur Jawa Timur Khofifah I. saat meninjau gudang Bulog di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (25/3/2021). - dok, Pemprov Jatim
Gubernur Jawa Timur Khofifah I. saat meninjau gudang Bulog di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (25/3/2021). - dok, Pemprov Jatim

Bisnis.com, SURABAYA - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta Bulog maupun BUMN untuk ikut berkontribusi dalam menyerap beras petani menjelang puncak musim panen setidaknya terserap sekitar 2.000 ton/hari.

Khofifah mengatakan saat ini Bulog Divre Jatim telah menyerap beras petani sebanyak 1.500 ton per hari. Namun menjelang puncak panen, diharapkan penyerapan beras petani bisa ditingkatkan menjadi 2.000 ton per hari.

“Jika belum bisa optimal penyerapannya, mungkin BUMN bisa ikut menyerap atas penugasan Menteri BUMN, seperti yang pernah dilakukan bank Himbara yang tahun lalu ikut menyerap beras petani saat puncak panen terjadi,” jelasnya, Kamis (25/3/2021).

Selain itu, lanjutnya, penyerapan gabah ataupun beras petani jangan sampai harganya di bawah HPP sehingga petani tetap sejahtera dan akan terus bersemangat dalam memproduksi beras sebagai makanan pokok.

“Saya juga sudah usul ke pemerintah pusat, kalau ada beras yang harus diserap jangan sampai harga di bawah HPP, selain itu saya juga minta tambahan dukungan Kementerian BUMn dan Kementerian Pertanian untuk penyediaan mesin pengering padi bagi petani,” imbuhnya.

Adapun Jatim sendiri menduduki peringkat pertama sebagai daerah penghasil padi terbesar yakni produksinya mencapai 9.944.538 ton Gabah Keirng Giling (GKG) atau setara 5.712.597 ton beras dari luas panen 1.754.380 ha. Jumlah produksi tahun lalu itu meningkat dibandingkan 2019 yakni dengan luas panen 1,7 juta hektare. 

Dari produksi itu, daerah yang berkontribusi besar sebagai produsen padi yakni Lamongan dengan produksi sebesar 886.060,99 ton atau setara beras sebesar 508.993,90 ton. Disusul, Ngawi dengan produksi sebesar 837.773,15 ton atau setara beras sebesar 481.255,17 ton. 

Selanjutnya, Bojonegoro dengan produksi sebesar 728.915,12 ton atau setara beras 418.722,13 ton. Kemudian, Jember dengan produksi sebesar 590.263,37 ton atau setara beras sebesar 339.074,24 ton, Tuban dengan produksi sebesar 507.053,88 atau setara beras sebesar  291.274,90 ton.

“Peningkatan produksi ini membuktikan bahwa program yang dijalankan semua kelompok tani tepat sasaran dan dapat terlaksana dengan baik. Selama ini Jatim menjadi barometer ketahanan pangan nasional karena Jatim telah menyuplai logistik ke 16 provinsi,” kata Khofifah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Beras jatim
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top