Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Yanaprima Hastapersada (YPAS) Bakal Bermain di Dua Segmen Pasar

Selama ini perseroan mengandalkan produk kantong/kemasan untuk semen dan beras atau tepung. Namun memperluas segmentasi pasar.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 14 Agustus 2020  |  14:53 WIB
Direktur Utama YPAS Irwan Susanto (tengah), Direktur Keuangan YPAS, Rinawati (ketiga kanan) dan Manager Marketing YPAS, Bernard (ketiga kiri) bersama jajaran PT Yanaprima Hastapersada Tbk. (YPAS) seusai menggelar RUPS di Pabrik Sidoarjo, Jumat (14/8/2020). - Bisnis/Peni Widarti
Direktur Utama YPAS Irwan Susanto (tengah), Direktur Keuangan YPAS, Rinawati (ketiga kanan) dan Manager Marketing YPAS, Bernard (ketiga kiri) bersama jajaran PT Yanaprima Hastapersada Tbk. (YPAS) seusai menggelar RUPS di Pabrik Sidoarjo, Jumat (14/8/2020). - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, SIDOARJO - PT Yanaprima Hastapersada Tbk. (YPAS), produsen karung/kantong beras dan semen akan mencoba bermain di pasar bebas maupun proyek pemerintah guna meningkatkan kinerja utilitas pabrik setidaknya bisa mencapai 75 persen.

Manager Marketing YPAS, Bernard mengatakan selama ini perseroan mengandalkan produk kantong/kemasan untuk semen dan beras atau tepung. Namun dengan semakin ketatnya persaingan, maka perseroan perlu memperluas segmentasi pasar.

"Jadi kita akan alihkan kapasitas produksi kantong semen ke produk karung industri dan pasar bebas yang masih berjalan dan potensi lebih luas," jelasnya dalam RUPS, Jumat (14/8/2020).

Dia menjelaskan pasar bebas yang dimaksud adalah memproduksi kantong/karung sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini misalnya seperti kemasan produk makanan dan minuman, beras, tepung dan lainnya.

"Untuk karung beras sampai pasarnya masih bagus, apalagi banyak kegiatan bansos dan beras subsidi. Makanya kami mau cari kesempatan membuat karung beras kemasan 5 kg dan 10 kg untuk Bulog, kita coba ikut tender," imbuhnya.

Direktur Utama YPAS, Irwan Susanto mengatakan kondisi pasar sejak tahun lalu sudah sangat sulit ditambah dengan adanya pandemi Covid-19 di awal tahun. Kondisi tersebut membuat banyak konsumen yang melakukan penundaan pengiriman terutama untuk pasar ekspor di Asean yang kontribusinya hanya 10 persen.

"Tentu pandemi ini adalah beban berat bagi global. Di semester I kita banyak pembatalan/penundaan kontrak pembelian dari luar negeri sehingga berakibat pada penurunan pendapatan," katanya.

Meskipun begitu, tambah Irwan, perseroan berharap dapat meraih pasar di semester II minimal pendapatan hingga akhir tahun bisa sama seperti tahun lalu.

Direktur Keuangan YPAS, Rinawati menjelaskan pada 2019, kinerja pendapatan perseroan tercapai Rp388 miliar atau turun 6 persen dibandingkan capaian 2018 yakni Rp412 miliar.

"Sedangkan kinerja pendapatan semester I/2020 tercapai Rp136 miliar atau turun 27 persen dibandingkan semester I/2019 yang mencapai Rp187,8 miliar. Kami berharap bisa mengejar pendapatan sampai akhir tahun minimal seperti 2019," katanya.

Menurut Rinawati, industri kantong/karung sejak tahun lalu menghadapi pasar yang lebih kompetitif, di samping ada biaya produksi tinggi salah satunya upah minimum pekerja yang sangat tinggi di Surabaya dan Sidoarjo.

"Persaingan harga juga menjadi lebih ketat karena over suplai di pasar, serta permintaan melemah akibat pandemi," imbuhnya.

Dia menambahkan kondisi harga bahan baku yang cenderung turun dan stabil yakni sekitar US$740 - US$1.070 per ton saat ini setidaknya bisa menjaga kondisi keuangan perseroan. Perseroan juga akan terus melakukan efisiensi agar kinerja laba bisa maksimal.

Adapun produk karung/kantong yang selama ini diproduksi YPAS yakni berupa woven, karung laminasi, kantong semen, dan block bottom.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri jatim jawa timur
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top