Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penelitian : Kepercayaan Publik Terhadap Ideologi Pancasila Menurun

Dalam kurun 13 tahun, publik yang pro-Pancasila mengalami penurunan sebanyak 10 persen.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 04 Agustus 2020  |  20:07 WIB
Nurbani Yusuf. - Istimewa
Nurbani Yusuf. - Istimewa

Bisnis.com, MALANG — Diskursus Pancasila perlu dihidupkan secara proporsional dan kontekstual sesuai dengan semangat zaman agar tingkat kepercayaan publik menjadi tinggi.

Dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nurbani Yusuf, mengatakan terjadi penurunan kepercayaan publik terhadap ideologi Pancasila.

“Pada 2005 publik yang pro-Pancasila angkanya mencapai 85,2 persen, 2010 angkanya menurun menjadi 79,4 persen, tahun 2015 angkanya menjadi 79,4 persen, dan di 2018 berada di angka 75,3 persen,” katanya dalam keterangan resminya, Selasa (4/8/2020).

Dengan demikian, dalam kurun 13 tahun, publik yang pro-Pancasila mengalami penurunan sebanyak 10 persen.

Pernyataan di atas merupakan intisari dari disertasi Nurbani yang berhasil dipertahankan dengan judul “Restorasi Ideologi Pancasila Dalam Pemikiran Tokoh Nasional (Studi Hermeneutika Fenomenologi Terhadap Ahmad Syafii Ma’arif, Yudi Latif, dan Yudian Wahyudi)” di hadapan para Dewan Penguji yang digelar secara daring, Kamis (30/7/2020).

Menurut dia, tokoh-tokoh nasional yang ditelitinya memiliki empat dimensi penting dalam dirinya yang membuat ideologi Pancasila dapat memelihara relevansinya di tengah perkembangan aspirasi masyarakatnya dan tuntutan perubahan zaman, yakni dimensi idealitas, dimensi fleksibilitas, dimensi realitas, dan dimensi relatif-spekulatif.

Dimensi idealitas, kata dia, intinya suatu ideologi perlu mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dimensi fleksibilitas mengacu pada ideologi yang demokratis, yang meletakkan kekuatannya pada keberhasilannya merangsang masyarakat untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran baru tentang nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya.

Melalui pemikiran-pemikiran baru tentang dirinya ideologi itu mempersegar dirinya, memelihara dan memperkuat relevansinya dari waktu ke waktu. Dari situ barangkali dapat menyimpulkan bahwa suatu ideologi terbuka, karena bersifat demokratis, memiliki apa yang mungkin dapat kita sebut sebagai dinamika internal.

"Ini mengundang dan merangsang mereka yang meyakininya untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran baru tentang dirinya tanpa khawatir atau menaruh curiga akan kehilangan hakikat dirinya,” katanya.

Dimensi realitas berarti ideologi itu memiliki nilai-nilai dasar yang bersumber dari nilai-nilai yang riil hidup di dalam masyarakatnya, terutama pada waktu ideologi tersebut lahir, sehingga mereka betul-betul merasakan dan menghayati bahwa nilai-nilai dasar itu adalah milik mereka bersama.

Adapun dimensi relatif-spekulatif merupakan interpretasi para tokoh berdasarkan hasil perenungan panjang dalam rangka memberikan solusi masyarakat pada ideologi yang telah disepakatinya.

Atas temuan-temuan dalam disertasinya tersebut, para dewan penguji memberikan apresiasi yang tinggi. Hal ini dikarenakan penelitian yang dilakukan oleh Nurbani sangat relevan bila disandingkan dengan keadaan kontekstual kekinian seperti kegaduhan beberapa waktu lalu yang menyoal urgensitas Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila.

“Penelitian yang dilakukan oleh Pak Nurbani ini bagus sekali. Mengapa? Karena penelitian ini sangat relevan bila disandingkan dengan keadaan kontekstual kekinian seperti kegaduhan beberapa waktu lalu menyoal urgensitas Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila,” ucap Tri Suryaningsih, salah satu Dewan Penguji disertasi Nurbani.(K24)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top