Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Blak-Blakan Dokter soal Bobroknya Penanganan Covid-19 di Surabaya

Seorang dokter bernama Aditya C. Janottama yang bekerja di salah satu rumah sakit (RS)  rujukan Covid-19 di Surabaya mengeluhkan dukungan pemerintah kota yang sangat minim terhadap para tenaga kesehatan.
Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  13:28 WIB
Petugas medis di RS Kilisuci Kediri, Jawa Timur, yang khusus menangani pasien Covid-19. - Antara
Petugas medis di RS Kilisuci Kediri, Jawa Timur, yang khusus menangani pasien Covid-19. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Seorang dokter bernama Aditya C. Janottama yang bekerja di salah satu rumah sakit (RS)  rujukan Covid-19 di Surabaya, Jawa Timur mengeluhkan dukungan pemerintah kota yang sangat minim terhadap para tenaga kesehatan.

Aditya menumpahkan keluh kesahnya melalui akun Twitter @cakasana pada Selasa (26/5/2020).

Pertama, dia mengeluhkan kondisi sebagian besar RS rujukan di Surabaya yang minim fasilitas medis seperti ruang ICU dan ventilator yang sangat dibutuhkan dalam menangani pasien Covid-19.

"Nah, apes-apesnya pasien aja kalau ini. Kalau ke RS yang ga ada ventilatornya, ya kalau [terjadi] perburukan, ga ada yang bisa dilakukan," cuitnya lewat akun Twitter @.

Lebih lanjut, upaya Pemkot Surabaya dalam membangun beberapa RS tambahan juga dinilainya kurang maksimal dari sisi kesiapan fasilitas medis. Walhasil, RS 'dadakan' ini jelas tidak mampu menampung pasien Covid-19 dengan kondisi berat.

Kemudian, Aditya juga mengkritisi keberadaan laboratorium pemeriksaan spesimen di Surabaya.

Informasi yang dia ketahui, hanya 3 laboratorium di Surabaya yang bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan.

Laboratorium lainnya merupakan milik swasta dan diperlukan biaya relatif mahal jika masyarakat ingin memeriksakan diri terkait Covid-19.

Paling disayangkannya adalah tiga laboratorium yang bekerja sama dengan Kemenkes tersebut ternyata tidak menerima sampel baru selama Hari Raya Idulfitri yakni pada 21-24 Mei 2020.

Walhasil ada banyak pasien yang harusnya dites swab harus tertunda. Jika ditambah dengan penumpulan sampel pemeriksaan selama 3-5 hari maka kemungkinan ada pasien yang meninggal sebelum hasil tesnya diketahui.

Jika melihat fakta yang dibeberkan Aditya, tidak salah jika Provinsi Jawa Timur (Jatim) menjadi wilayah dengan penularan infeksi Covid-19 paling tinggi dibandingkan daerah lain di Pulau Jawa.

Berdasarkan reproduksi efektif atau Rt yang diolah oleh platform analisis big data Bonza menunjukkan bahwa Jawa Timur masih mengalami fluktuasi penularan virus corona cukup tinggi.

Dari lima provinsi di Pulau Jawa, hanya Jawa Timur dan Banten yang belum pernah menyentuh angka Rt di bawah 1. Selebihnya yaitu Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah beberapa kali menyentuh angka Rt di bawah 1.

Rt di bawah 1,0 atau Rt<1 berarti setiap satu infeksi akan menyebabkan kurang dari satu infeksi lainnya. Angka tersebut mengartikan bahwa virus berpotensi berhenti menyebar.

Pada 26 Mei 2020, Jatim masih mencatatkan Rt 1,10. Ini merupakan angka yang paling rendah di wilayah itu selama mulai meluasnya penyebaran Covid-19.

Grafik Rt Jawa Timur terus mengalami fluktuasi termasuk selama Mei 2020. Angka Rt menyentuh 1,36 pada 1 Mei, kemudian turun menjadi 1,17 pada 5 Mei.

Sempat turun, angka Rt naik kembali pada 11 Mei menjadi 1,45. Angka penularan perlahan menurun kembali 1,34 pada 17 Mei dan melonjak drastis pada 21 Mei menjadi 1,81.

Kendati begitu sejak lonjakan tersebut angka reproduksi efektif mulai turun satu hari berselang menjadi 1,76 pada 22 Mei, 1,59 (23 Mei), 1,41 (24 Mei), 1,19 (25 Mei) dan hingga 1,10 pada 26 Mei.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jawa timur covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top