Malang Jadi Kluster Pengembangan Kopi Nasional pada 2020

Kopi bisa menjadi alternatif bagi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 01 Desember 2019  |  16:56 WIB
Malang Jadi Kluster Pengembangan Kopi Nasional pada 2020
Pekerja meratakan biji kopi robusta usai disangrai. - Antara/Syifa Yulinnas

Bisnis.com, MALANG — Malang menjadi kluster pengembangan kopi nasional pada 2020 sehingga perlu didukung sinergi antarstakeholder agar program tersebut dapat berjalan dengan baik, yakni pengembangan kopi dari hulu dari hingga hilir.

Anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo mengatakan Malang cocok sebagai salah satu kluster pengembangan kopi nasional karena potensinya memang ada. Selain kebun tanaman kopi di Ampelgading, Tirtoyudo, dan Dampit, juga ada di Karangploso di lereng Gunung Arjuno, Kab. Malang. Di Kab. Malang, lahan kebun kopi jenis Robusta mencapai 16.000 hektar, sedangkan Arabika ada 6.000 hektare.

“Begitu juga dengan sisi hilirnya, di Malang banyak berdiri coffee shop dan pelaku bisnis kopi, bahkan eksporter,” ungkapnya di Malang, Minggu (1/12/2019).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim Difi Ahmad Johansyah mengatakan apa yang menjadi perhatian BI dalam pengembangan kopi, terutama di Jatim, terkait dengan perbaikan kualitas produksi.

Oleh karena itulah, proses mulai dari dari budi daya hingga penanganan pascapanen menjadi penting. Dengan produk yang baik, maka otomatis pasar akan melirik, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Pelatihan kepada petani tentu dikonsentrasikan kepada key person maupun kelompok tani unggulan sehingga dapat menjadi model pengembangan bagi budi daya dan proses pascapanen kopi di daerah.

“Kopi bisa menjadi alternatif bagi penopang pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya di sela-sela pembukaan Artcofest: Festival Kopi Malang 2019 di Malang, Sabtu (30/11/2019) malam.

Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho mengatakan pengembangan kopi di wilayah kerja BI setempat difokuskan di wilayah Malang dan Pasuruan.

Oleh karena itulah, nanti jumlah petani dan luasan kebun yang akan diikutkan program PSBI kluster akan lebih banyak dan luas cakupannya. Dengan begitu nantinya dampak peningkatan kualitas produk kopi bisa terealisasi, begitu juga sisi pengemasannya sehingga lebih mudah diterima pasar.

Kopi di berbagai daerah, kata Difi, dapat menjadi komoditas yang menjadi kebanggaan daerah. Orang Aceh dengan bangga menyebut Kopi Gayo menjadi terbaik di dunia, begitu juga orang Jatim dengan Kopi Ijen Bondowoso, dan Jawa Barat dengan Kopi Malabar dan lainnya.

Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof. Nuhfil Hanani menjelaskan intinya pengembangan sektor pertanian bisa didekati dari sisi demand, permintaan, yakni agroindustri dan konsumsi.

Adapun Artcofest 2019, kata Azka, merupakan event kolaborasi kopi yang diinisiasi oleh BI bekerja sama dengan UB dan Penggiat Kopi Malang Raya (Petani kopi, Coffee Shop, Roastery,danPemerintah Daerah).(k24)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi, malang

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup