Industri Perhiasan Minta Pemerintah Bantu Permudah Ekspor ke Dubai

Asosiasi Pengusaha Emas Perhiasan Indonesia (Apepi) berharap pemerintah periode baru ini bisa membantu kemudahan ekspor perhiasan ke Dubai.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  20:47 WIB
Industri Perhiasan Minta Pemerintah Bantu Permudah Ekspor ke Dubai
Pengunjung mengamati perhiasan di salah satu stan Surabaya International Jewellery Fair 2019 di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (17/10/2019). Pameran yang berlangsung hingga 20 Oktober tersebut diikuti sedikitnya 100 pengusaha perhiasan. - Antara/Zabur Karuru

Bisnis.com, SURABAYA – Asosiasi Pengusaha Emas Perhiasan Indonesia (Apepi) berharap pemerintah periode baru ini bisa membantu kemudahan ekspor perhiasan ke Dubai agar mampu meningkatkan pertumbuhan industri.

Sekjen Apepi Iskandar Husein mengatakan komoditas perhiasan dari Indonesia, terutama Jawa Timur sudah bisa menembus pasar Uni Emirat Arab (UEA). Hanya saja ekspor tersebut harus melalui Singapura lantara ketika Singapura mengekspor ke Dubai dikenai bea masuk 0%.

“Sementara kalau kita ekspor langsung ke Dubai dikenai bea masuk 5%, kalau kirim ke Singapura 2,5%, sehingga produk perhiasan kita kalah daya saing,” katanya dalam rilis pameran 24th Surabaya International Jewellerty Fair 2019.

Dia mengatakan saat ini industri perhiasan juga harus menghadapi kendala bahan baku yang harganya terus meningkat. Hal yang bisa dilakukan oleh perajin saat ini adalah mengkombinasikan dan mengkreasikan bahan baku yang mahal dengan bahan baku murah lainnya.

“Selain itu, pengusaha berusaha untuk memilah market yang potensi dan karakter di negara tersebut, misalnya pasar di Thailand menyukai perhiasan jenis bebatuan. Sehingga pengusaha akan banyakmengekspor pehiasan dari batu-batuan ke Thailand dibanding ke Singapura,” jelasnya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam pembukaan pameran perhiasan di Surabaya mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan kepada Menko Perekonomian, Gubernur BI, Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian agar Indonesia bisa mengirimkan produk emas periasan secara langsung ke Dubai.

“Permintaan ekspor langsung ke UEA karena pasar terbanyak perhiasan asal Jatim adalah ke negara UEA, bukan ke Singapura.

Mantan menteri sosial ini mengatakan, pemerintah perlu bernegoisasi kepada pihak UEA agar mengenakan bea masuk sama seperti Singapura ke UEA yakni 0 persen, sedangkan Indonesia kalau langsung kirim ke UEA terkena bea masuk 5 persen.

“Permasalahan bea masuk merupakan pekerjaan rumah pemerintah pusat karena banyak produk ekspor nasional yang selalu lewat Singapura. Perlu ada fasilitas yang diberikan UEA ke Indonesia, termasuk Jatim seperti yang didapat oleh Singapura,” katanya.

Khofifah mengatakan, kontribusi ekspor emas perhiasan di Jatim cukup tinggi mencapai 50% dari nasional. Menurutnya, dengan adanya kemudahan ekspor langsung ke Dubai, diyakini dapat meningkatkan komoditas emas perhiasan Indonesia di dunia , yang saat ini masih di posisi 9 besar.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kemenperin, Gati Wibawaningsih menambahkan industri emas Indonesia bisa masuk dalam 5 besar dunia tahun depan. Saat ini ekspor perhiasan Indonesia mencapai US$1,4 miliar, jumlah tersebut naik 13% dari tahun sebelumnya yang mencapai US$1,3 miliar yang kebanyakan diekspor ke Singapura, Swiss, Hong Kong, Amerika Serikat dan UEA.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perhiasan

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup