Persediaan PT Garam Berlebih Akibat Serapan Pasar Rendah

PT Garam mengatakan pasokan garam dari hasil produksi tahun lalu hingga saat ini masih banyak dan belum terserap pasar dengan maksimal.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  18:20 WIB
Persediaan PT Garam Berlebih Akibat Serapan Pasar Rendah
Kantor Produksi PT Garam. Jl. Raya Kalianget 9 Kalianget, Sumenep - Madura (69471)Sumenep - 69471 - ptgaram

Bisnis.com, SURABAYA – PT Garam mengatakan pasokan garam dari hasil produksi tahun lalu hingga saat ini masih banyak dan belum terserap pasar dengan maksimal.

Direktur Utama PT Garam, Budi Sasongko mengatakan dalam anggaran tahun ini perseroan merencanakan penyerapan garam rakyat sekitar 135.000 ton atau meningkat dibandingkan tahun lalu yang mencapai 120.000 ton.

“Namun, masalahnya garam yang kami serap tahun lalu sebanyak 120.000 ton itu terjadi idle stock di gudang, belum ditambah produksi sendiri 15.000 ton. Tahun lalu kita menyerap dengan harga Rp1.400 – Rp1.500/kg, dengan harga seperti sekarang yang anjlok, kalau saya jual siapa yang beli,” katanya saat FGD Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Jatim, Selasa (16/7/2019).

Belum terjualnya garam di gudang tersebut, membuat perseroan tidak bisa menyerap garam rakyat sesuai rencana lantaran tidak ada dana bergulir. Untuk itu, PT Garam tahun ini akan menyerap garam petani dengan menggunakan sisa dana Penyertaan Modal Negara (PMN) 2015 yang saat ini nilainya sekitar Rp30 miliar.

“Dari sisa dana PMN itu, kami hanya akan menyerap garam petambak sekitar 30.000 ton dengan asumsi harga garam Rp1.000/kg. Memang secara PSO kita sudah persero, kalau dana habis ya memang sudah tidak ada kewajiban untuk menyerap,” imbuhnya.

Meski begitu, lanjutnya, penyerapan garam petani oleh industri saat ini sudah cukup besar. selain PT Garam, sejumlah perusahaan lain juga telah menyerap garam rakyat misalnya seperti PT Unichem Candi Indonesia sekitar 40.000 ton, dan juga PT Susanti Megah sekitar 40.000 ton an.

Budi berharap, dari revolving fund penjualan garam tahun ini bisa digunakan untuk menyerap garam rakyat tahun depan setidaknya dengan jumlah yang sama seperti tahun ini.

Dia menambahkan, petambak garam maupun industri juga diharapkan agar meningkatkan kualitas produksi garamnya agar dapat diserap oleh industri olahan mengingat kebutuhan garam yang berkualitas sangat beragam. Misalnya garam untuk industri makanan minuman, garam untuk olahan kertas, dan water treatment memiliki kebutuhan kualitas yang berbeda-beda.

Sementara itu, Ketua HMPG Jatim, M. Hasan menambahkan saat ini petambak garam di Jatim sedang berjuang untuk menyuarakan kondisi kerugian petambak akibat anjloknya harga garam yang mencapai Rp500/kg.

“Kami akan berjuang agar harga garam petani ini tidak jatuh terus, setidaknya dengan harga ideal Rp1.500/kg. Dalam FDG ini kami akan mencari solusi bersama pemerintah dan industri bagaimana ke depannya,” imbuhnya.

Selain itu, petambak meminta pemerintah untuk membantu meningkatkan kualitas produksi garam rakyat dengan menghadirkan teknologi terkini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garam

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top