Rembesan Gula Rafinasi Dituding Sebabkan Harga Anjlok

Harga gula kristal petani tebu mitra PG Kebun Agung Malang turun tajam di kisaran Rp8.800/kg, terdampak a.l dugaan adanya peredaran gula rafinasi di pasar dan eks-impor penugasan.
Choirul Anam | 27 November 2018 16:52 WIB

Bisnis.com, MALANG — Harga gula kristal petani tebu mitra PG Kebun Agung Malang turun tajam di kisaran Rp8.800/kg, terdampak a.l dugaan adanya peredaran gula rafinasi di pasar dan eks-impor penugasan.

Ketua Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Dwi Irianto mengatakan meski sudah rendah, serapan juga tidak banyak karena di pasaran sudah penuh dengan gula penugasan eks-impor 1,1 juta ton serta rembesan gula rafinasi.

“PG-PG BUMN juga menjual murah gula mereka di pasar dengan harga di kisaran Rp8.500-Rp8.600/kg,” katanya di Malang, Selasa (27/11/2018).

Kondisi seperti itu berdampak merugikan petani, terutama petani-petani tebu yang memasok tebu ke PG swasta karena gulanya tidak dapat dibeli Bulog seperti petani yang memasok ke PG-PG BUMN.

Dengan harga sebesar itu, kata dia, jauh dari harga patokan produksi (HPP). HPP usulan Mentan sesuai hasil survei tim independen ke seluruh PG dan petani sebesar Rp 10.500, namun Kemendag justru menetapkan HPP Rp9.100/kg.

Perhitungan petani sendiri, HPP mencapai Rp10.600/kg. Dengan begitu, bila mengacu pada HPP saja, maka petani sudah tiga tahun mengalami kerugian.

“Petani yang memasok tebu ke PG-PG BUMN masih mending karena gulanya dapat dibeli Bulog dengan harga Rp9.700/kg, sedangkan petani yang tidak memasok ke PG BUMN seperti kami, gulanya tidak bisa dibeli Bulog. Padahal harga pasar masih rendah karena membanjirnya gula impor penugasan,” ujarnya.

Dengan harga gula yang rendah, kata dia, petani dihadapkan pada situasi dilematis. Di satu sisi enggan melepas gula karena harganya yang murah, di sisi lain membutuhkan dana segar untuk memenuhi cash flow.

Karena itulah, dengan alasan membutuhkan cash flow seperti untuk membayar penebang dan angkutan maka terpaksa melepas gula mereka ke pasar dengan harga yang rendah.

Sebagian lagi meminta dana talangan ke investor. Sampai saat ini gula di PG Kebon Agung masih tersisa 55.000 ton dan sebagian lagi di simpan di luar gudang PG karena kapasitas gudangnya tidak mencukupi.

Sejak pertengahan Oktober 2018, proses giling sudah selesai. Jumlah gula tersebut milik seluruh petani yang bermitra dgn PG Kebon Agung karena PG tidak punya lahan untuk menanam tebu.

“Jadi mengandalkan kemitraan dengan petani. Karena itulah, saat ada kebijakan hanya petani yang bermitra dengan PG BUMN gulanya dapat dibeli Bulog, kami benar-benar kecewa, karena merasa tidak adil,” ujarnya.

Karena itulah, petani tebu yang bermitra dengan PG swasta terus mendesak kesamaan perlakuan ke Kemendag bahkan ke Kemenko Perekonomian, namun sampai saat ini belum ada respons positif.

Petani juga mendesak agar dibersihkan dari gula-gula eks-impor dan rembesan gula rafinasi sehingga petani masih mempunya peluang untuk bisa menjual gulanya, tidak seperti saat ini.

Anggota APTRI Kebunagung mencapai sekitar 15.000 orang. Tahun ini, PG Kebun Agung menggiling tebu sebanyak 18.053.285 kuintal setara dengan gula sebayak 148.700 ton.

Tag : gula, gula rafinasi
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top