KISAH HIDUP, Parmi 3 Kali Sepekan Naik Puncak Lawu

Warung Mbok Yem yang menjual berbagai makanan dan minuman merupakan ikon yang mudah ditemui pendaki saat menuju puncak Gunung Lawu via Cemoro Sewu.
Abdul Jalil | 13 September 2018 12:53 WIB
Parmi, 63, warga Magetan yang memiliki pekerjaan membawa barang logistik ke warung yang ada di puncak Lawu, Rabu (12/9/2018). - JIBI/Abdul Jalil

Bisnis.com, MAGETAN – Warung Mbok Yem yang menjual berbagai makanan dan minuman merupakan ikon yang mudah ditemui pendaki saat menuju puncak Gunung Lawu via Cemoro Sewu.

Warung ini memang khusus menyediakan makanan dan minuman untuk para pendaki dan warga yang ingin melakukan ritual di puncak Lawu.

Lalu, bagaimana bahan-bahan makanan, air minum kemasan, dan makanan instan ini dibawa ke puncak Lawu. Ternyata bahan makanan dan minuman yang dijual di warung Mbok Yem ini dibawa secara manual dengan jalan kaki sampai ke puncak.

Sepeda motor ataupun kendaraan tidak mungkin menembus jalur pendakian yang dipenuhi pohon besar dan jalan curam.

Salah satu yang berjasa dalam menyediakan logistik untuk warung Mbok Yem yaitu Parmi. Perempuan berusia 63 tahun itu naik turun Gunung Lawu dua kali dalam sepekan. Bahkan bisa sampai tiga kali naik turun gurun dalam sepekan kalau puncak Lawu ramai didatangi pendaki.

Ditemui Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) di pos masuk jalur pendakian Cemoro Sewu, Magetan, Rabu (12/9/2018) sore, Parmi mengaku baru selesai mengantar barang dagangan ke puncak Lawu. Barang dagangan yang dibawa pun tidak main-main yakni 45 kg dalam sekali naik ke puncak Lawu.

Saat naik ke puncak pun, Parmi hanya mengenakan pakaian ala kadarnya. Tidak memakai jaket tebal dan celana khusus mendaki, hanya menggunakan sandal, dan berkerudung.

Dia menceritakan order berbelanja untuk memasok kebutuhan logistik di warung Mbok Yem di puncak Lawu biasanya disampaikan melalui ponsel. Kemudian ia berbelanja berbagai barang kebutuhan di Pasar Plaosan. Barang yang dibeli biasanya gula, beras, air mineral botolan, mieinstan, dan lainnya.

Parmi lantas mengemas barang dagangan itu dalam satu karung. "Biasanya yang saya bawa ya beras, gula, air mineral, mie instan, dan barang lainnya. Itu beratnya mencapai 45 kg," kata dia yang tak terlihat lelah meski selepas naik turun puncak Lawu.

Parmi kemudian bersiap untuk menuju ke warung Mbok Yem di puncak Lawu sekitar pukul 08.00 WIB. Pagi menjadi waktu terbaik untuk mengantar logistik. Supaya nanti saat turun tidak sampai malam hari.

Warga Poncol, Kabupaten Magetan ini menggendong karung berisi logistik di punggungnya. Meski usianya sudah tidak muda lagi, kekuatan wanita ini justru melampaui dari usianya. Dengan beban seberat itu dan jalur menanjak serta curam, Parmi tidak nampak takut dan khawatir. Sudah menjadi risiko pekerjaan, jawabnya.

Meski badannya cukup dikatakan kurus, ia mampu mengangkut beban yang mungkin hampir sama dengan berat badannya itu. Satu per satu langkahnya secara pasti menyusuri jalur curam gunung yang memiliki ketinggian 3.100 meter di atas permukaan laut itu.

Untuk sampai ke warung Mbok Yem yang ada di puncak Lawu, Parmi membutuhkan waktu sekitar enam jam. Selama perjalanan, ia berhenti tiga kali untuk beristirahat. Biasanya Parmi istirahat di pos 1, pos 2, dan pos 3.

Setibanya di warung Mbok Yem, seluruh barang yang dibawa langsung dimasukkan ke warung. Parmi yang masih keponakan Mbok Yem itu pun diberi upah senilai Rp400.000 dalam sekali angkut. Istirahat sebentar kemudian menyusuri jalanan terjal Gunung Lawu untuk turun.

"Saya tidak sendirian. Ada empat orang yang membawa barang dagangan ke puncak. Ada saya, Batul, Senen, dan Miyem. Mereka juga membawa barang dagangan yang sama beratnya," ujar dia.

Parmi mengaku sudah menjalani pekerjaan sebagai pengangkut logistik sejak warung Mbok Yem berdiri, tahun 1995. Selama menjalani pekerjaan yang cukup ekstrem, bagi sebagian orang, ini Parmi tidak pernah mengalami kendala berarti. Dia pun mengaku tidak lelah saat naik dan turun gunung dalam sehari. "Sampuan biasa mas," ucap Parmi.

Mbok Yem yang merupakan pemilik warung di puncak Lawu sebenarnya usianya lebih tua yaitu lebih dari 100 tahun. Sejak berjualan di puncak Lawu, Mbok Yem turun gunung minimal sekali dalam setahun yaitu saat Lebaran. Selain itu, saat ada hajatan keluarga Mbok Yem juga mengusahakan untuk turun gunung.

"Mbok Yem tinggalnya ya di warung sana sama keponakannya, Muis. Hanya saat Lebaran kalau turun gunung. Mbok Yem ya orangnya sehat, meski sudah sepuh. Di warung sana ada listrik dari tenaga surya. Dulu dikasih orang Jakarta," terang dia.

Parmi menuturkan warung Mbok Yem memang menyediakan kebutuhan hidup bagi para pendaki dan warga yang akan melaksanakan ritual di puncak Lawu. Pada saat bulan Sura seperti sekarang, biasanya ada ribuan orang yang mendaki dan melakukan ritual. Namun, untuk tahun ini kondisinya sepi karena jalur pendakian Cemoro Sewu ditutup.

Sumber : JIBI/Solopos

Tag : Gunung Lawu, Features
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top