INSA Minta YOR Lapangan Penumpukan Dimaksimalkan

Kalangan pengusaha kapal yang tergabung dalam Indonesian National Shipowners Association (INSA) Surabaya meminta pemerintah untuk memaksimalkan kapasitas Container Yard (CY) atau lapangan penumpukan di pelabuhan Tanjung Perak terutama di pelayanan petikemas ekspor impor.
Peni Widarti | 20 Februari 2018 09:28 WIB
Ilustrasi.

Bisnis.com, SURABAYA—Kalangan pengusaha kapal yang tergabung dalam Indonesian National Shipowners Association (INSA) Surabaya meminta pemerintah untuk memaksimalkan kapasitas Container Yard (CY) atau lapangan penumpukan di pelabuhan Tanjung Perak terutama di pelayanan petikemas ekspor impor.

Ketua INSA Surabaya Stenvens H Lesawengan mengatakan hal itu perlu dilakukan mengingat Yard Occupancy Ratio (YOR) di pelabuhan Terminal Petikemas Surabaya masih sekitar 50%. Sehingga masih ada ruang bagi pemilik barang impor atau ekspor untuk mengisi.

"Seharusnya YOR itu 70% seusai aturan yang dikeluarkan pemerintah. Sehingga barang di petikemas bisa dikeluarkan dari CY ketika kapasitas lapangan penumpukan sudah penuh atau mencapai 70%," jelasnya kepada Bisnis, Senin (19/2/2018).

Berdasarkan data Terminal Petikemas Surabaya (TPS)yang diperoleh INSA, YOR TPS sejak 2010 hingga saat ini belum pernah mencapai 70%. Tercatat YOR pada 2010 yakni 47,7%, 2011 mencapai 56,69%, 2012 mencapai 55,63%, 2013 mencapai 54,58%, 2014 mencapai 43,39%, 2015 mencapai 37,97% (sejak ada Permentan soal hortikultura), lalu pada 2016 mencapai 34,65% dan 2017 mencapai 35%.

Dia mengungkapkan belum maksimalnya YOR di lapangan penumpukan karena adanya target dwelling time 2-3 hari, di mana barang yang sudah turun dari kapal hingga berhenti di CY hanya boleh 2-3 hari setelah itu harus keluar dari CY atau dipindah ke tempat penitipan sementara.

"Nah, akibatnya cost para importir ini jadi semakin membengkak karena setelah keluar dari CY harus membayar biaya lift on, tracking, lift off, lalu bayar sewa gudang lalu lift on lagi," jelasnya.

Stenvens mencontohkan, biaya menginap barang di lapangan penumpukan sekitar Rp25.000/kontainer/hari. Dibandingkan dengan biaya memindahkan kontainer ke depo lain bisa mencapai Rp155.000/kontainer untuk biaya lift on, Rp500.000-Rp1 juta untuk tracking, Rp200.000/kontaner untuk lift off ditambah biaya sewa depo per hari.

"Itu kisaran biaya-biayanya. Menurut kami, tidak perlu memikirkan yang namanya dwelling time karena akan menambah beban biaya pemilik barang, selain itu kalau pemerintah memaksimalkan CY, ini akan menguntungkan negara," jelasnya.

Menurut Stenvens, soal pelayanan di pelabuhan atau dari sisi Pelindo III sendiri sudah sangat bagus, termasuk kecepatan pelayanan saat kapal akan sandar hingga petikemas berhenti di lapangan penumpukan.

"Kalaupun terjadi masalah di lapangan penumpukan, bisa jadi karena kelengkapan dokumen," imbuhnya.

Wiwit, salah seorang importir biji plastik di Surabaya mengaku kondisi pembengkakan biaya sewa depo sudah dialami sejak lama. Akibatnya, produsen barang-barang dari plastik itu kerap menaikkan harga jual di pasaran untuk menutupi tingginya biasa logistik.

"Biasanya kan barang datang duluan dan sambil menunggu dokumen selesai, tapi dalam 2 hari kontainer saya sudah dipindah ke tempat penitipan sementara tanpa sepengetahuan, akhirnya kita harus bayar biaya-biaya itu tadi," ungkap Wiwit yang enggan menyebut nama perusahaannya.

 

Tag : vaksin difteri, vaksin difteri
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top