Bisnis.com, DENPASAR—Keberadaan rumpon yang tersebar di wilayah penangkapan perikanan Indonesia selama ini dinilai tidak memberikan kontribusi nyata kepada negara, karena tidak ada satupun yang didaftarkan oleh pemiliknya.
Kepala Pusat Riset Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Roni Ruchimat menilai keberadaan rumpon yang dioperasikan di wilayah perairan terbatas memberikan peluang nelayan asing untuk melakukan pencurian, dan penangkapan ikan disekitar rumpon.
"Pengoperasian rumpon dan pukat cincin juga memberikan komposisi tangkapan juvenile dan bycatch [tangkapan yang tidak diinginkan] cukup besar," jelasnya dalam lokakarya tuna di Denpasar, Selasa (21/2/2017).
Toni menjelaskan rumpon saat ini hampir semuanya tidak dilengkapi dengan tanda kepemilikan, sehingga sulit ditelusuri apabila sudah tidak difungsikan, hilang atau sengaja dibuang. Alhasil data dan informasi serta posisi rumpon yang dipasang sangat sulit diperoleh data.
Dijelaskan keberadaan rumpon harus dikelola untuk mempertimbangkan aspek keberlanjutan atau sustainable. Tanpa ada pengelolaan, maka dalam jangka panjang perikanan di Indonesia tidak dapat dimanfaatkan untuk jangka panjang.
"Apabila praktik seperti ini, 50 tahun dari 2007 kita enggak akan punya ikan ekonomis," tegasnya.