PBB Sangkal Beri Penghargaan Ipda Rochmat

Oleh: Abdul Jalil 19 Oktober 2018 | 06:57 WIB
PBB Sangkal Beri Penghargaan Ipda Rochmat
Anggota Brimob Detasemen C Pelopor Polda Jawa Timur, Ipda Rochmat Tru Marwoto menerima penghargaan dari perwakilan PBB di rumahnya di Jiwan, Kabupaten Madiun, Senin (15/10/2018). PBB dalam perkembangannya, Kamis (18/10/2018) menjelaskan penghargaan tersebut atas nama pribadi, tidak mewakili PBB./JIBI-Abdul Jalil

Bisnis.com, MADIUN – United Nations Information Centre (UNIC) perwakilan Indonesia menyatakan penghargaan yang diserahkan kepada anggota Brimob Polda Jawa Timur, Ipda Rochmat Tri Marwoto, bukan penghargaan dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau organisasi di bawahnya.

Pernyataan ini merespons adanya seseorang yang mengaku sebagai anggota dari UNIC yang memberikan penghargaan kepada Ipda Rochmat. Ipda Rochmat diberi penghargaan atas karya sosial yang dilakukan yaitu merawat 79 anak yatim dan duafa di rumahnya di Jiwan, Kabupaten Madiun.

Penghargaan itu diberikan kepada Ipda Rochmat oleh seseorang yang mengaku sebagai perwakilan dari PBB bernama Loedewyk Pasulatan pada Senin (15/10/2018) di Dusun Jati, Desa Klagen, Kecamatan Jiwan.

Dalam penyerahan penghargaan ini, hadir Kapolda Jatim, Inspektur Jenderal Polisi Luki Hermawan, Kapolres Madiun Kota AKBP Nasrun Pasaribu, Dandim 0803 Letnan Kolonel Czi Nur Alam Sucipto, Kajari Madiun Sugeng Sumaro, Bupati Madiun Ahmad Dawami Ragil Saputro, Sekda Kota Madiun Rusdiyanto, dan sejumlah pejabat lainnya.

Dalam acara penyerahaan penghargaan itu digelar, ada logo United Nations berwarna biru dalam baliho acara. Penghargaan yang diberikan berupa plakat dari batu marmer. Di plakat itu terdapat tulisan ucapan "Selamat atas Jiwa Sosial Kemanusiaan Rochmat Tri Marwoto mengasuh puluhan Yatim Piatu dan Anak Terlantar". Di bagian bawah plakat itu ada tulisan United Nation of Information Center Perwakilan Indonesia.

Dalam pernyataan resmi yang diterima JIBI, Kamis (18/10/2018), disebutkan bahwa Pasultan bukan anggota staf PBB.

Dalam pemberian penghargaan itu, Pasultan bertindak dalam kapasitasnya sendiri. PBB tidak terlibat dalam acara pemberian penghargaan itu. PBB juga tidak mengizinkan penggunaan logo/nama PBB untuk kegiatan tersebut.

Ipda Rochmat menceritakan awal pemberian penghargaan tersebut. Saat itu, ia sedang mengikuti sekolah pembentukan perwira di Sukabumi dan mendapatkan kabar bahwa tanggal 15 Oktober 2018 akan ada kunjungan dari PBB. Atas informasi itu, dirinya pun senang dan mengurus segala persiapan untuk kegiatan pemberian penghargaan tersebut.

Kerja Keras

Pada 21 November 2017, JIBI melaporkan kisah Rochmat memulai membiayai dan mengurus seluruh kebutuhan anak-anak kurang beruntung itu tahun 2007. Saat itu, dia dan istrinya Helmiyah, 38, merawat beberapa anak kurang mampu. Anak-anak itu kemudian bertempat tinggal di rumahnya dan disekolahkannya.

Tahun demi tahun, Rochmat terus mencari anak-anak yang kurang mampu untuk disekolahkan. Seluruh biaya hidup dan pendidikan ditanggungnya secara penuh dan tanpa syarat apapun.

Hingga tahun ini, Rochmat telah memiliki anak asuh sebanyak 64 orang. Lima belas anak di antaranya masih menjadi anak asuh dan bersekolah. Sedangkan lainnya, sudah lulus sekolah dan kerja. Ada anak asuhnya yang telah menjadi polisi dan saat ini berdinas di luar Jawa.

Kelima belas anak asuhnya itu terdiri dari satu anak di TK, satu anak di SMP, tujuh anak duduk di bangku SMA, dan enam anak kuliah di STAIM Magetan.

Rochmat mengatakan anak-anak itu tidur dan belajar di rumah yang sama yang digunakan anaknya yaitu di Dusun Jati. Rumah yang memiliki tiga kamar ini dihuni anak-anak itu.

"Saya sama suami tidur di kamar. Terus yang dua kamar digunakan untuk bareng-bareng, khususnya yang perempuan. Sedangkan yang laki-laki tidur di luar kamar ada juga yang tidur di rumah di Kecamatan Kare," jelas Helmiyah.

Suasana rumah memang didesain seperti rumah sendiri sehingga anak-anak asuh berasa hidup di rumahnya sendiri. Makanan dan minuman yang dimakan di rumah tersebut sama dan tidak ada yang berbeda.

"Kami tidak membuat sistem seperti di pondok pesantren maupun asrama. Kami membuat rumah itu seperti rumah mereka dan untuk belajar pun seperti belajar di rumah," kata Rochmat.

Mengenai biaya untuk menghidupi seluruh anak asuh dan keluarganya, Rochmat bercerita semua kebutuhan dipenuhi dengan hasil kerja kerasnya.

Dia sadar dengan gaji sebagai anggota Polri senilai Rp4,6 juta per bulan tidak akan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup dan pendidikan anak tersebut. Untuk itu, Rochmat mencoba peruntungan lain dengan membuka toko sembako dan konter pulsa di depan rumahnya.

Usaha tersebut semakin lancar dan berkembang hingga akhirnya membeli sepetak tanah di pegunungan Wilis di Kecamatan Kare. Tanah tersebut kini ditanami pohon durian dan cukup produktif. Selain itu, tanah sepetak di kawasan Sarangan juga mampu dibeli dan digunakan untuk perkebunan.

Dari hasil berbisnis dan berkebun itu yang selama ini menggerakkan roda perekonomian keluarganya. Biaya makan dan uang saku yang mencapai Rp8 juta per bulan mampu dipenuhi Rochmat.

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya