Indonesia Bakal Tarik Investasi Asing Lebih Besar, Begini Analisa HSBC

Indonesia pada tahun depan diperkirakan akan keciptratan investasi asing atau Foreign Direct Investment (FDI) yang lebih besar lagi.
Managing Director Head of Markets & Securities Services PT Bank HSBC Indonesia, Ali Setiawan saat memaparkan market & economy outlook dalam Bank Jatim Treasury Talk 2023 di Surabaya, Kamis (9/11/2023)./Bisnis - Syaharuddin Umngelo
Managing Director Head of Markets & Securities Services PT Bank HSBC Indonesia, Ali Setiawan saat memaparkan market & economy outlook dalam Bank Jatim Treasury Talk 2023 di Surabaya, Kamis (9/11/2023)./Bisnis - Syaharuddin Umngelo

Bisnis.com, SURABAYA - Indonesia pada tahun depan diperkirakan akan kecipratan investasi asing atau Foreign Direct Investment (FDI) yang lebih besar lagi karena dianggap masih memiliki potensi yang besar dan belum tergarap optimal.

Managing Director Head of Markets & Securities Services PT Bank HSBC Indonesia, Ali Setiawan mengatakan di tengah situasi global yang mengalami tekanan ekonomi, Indonesia justru masih mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih bagus.

“Di akhir tahun lalu banyak yang memprediksikan krisis atau resesi di 2023, tapi menurut kami, main engine Indonesia itu masih cukup bagus kalau pun tertekan pertumbuhan ekonomi masih bisa 3% - 4% serendah-rendahnya,” katanya dalam Market & Economy Outlook 2024 - Bank Jatim Treasury Talk 2023, Kamis (9/11/2023).

Menurutnya, tidak hanya di sektor market finansial, bahkan di sektor komoditas seperti besi/baja dan nikel saat ini punya potensi yang besar, jika dikelola maka akan menambah sekitar 0,5% - 0,8% GDP.

“Sekarang sudah mulai kelihatan orang berbondong-bondong berinvestasi di Indonesia, termasuk pabrik baterai sampai ke mobil listriknya bila perlu diproduksi di Indonesia,” ujarnya.

Dia mencontohkan, kondisi pasar kendaraan listrik di Jakarta saat ini sudah semakin berkembang baik dari jumlah penggunannya maupun infrastruktur chargingnya terpasang dimana saja.

Ali juga membandingkan penggunaan mobil konvensional seperti Alphard biasanya mengisi BBM 2 kali seminggu, sedangkan kendaraan hybrid butuh 3 kali sebulan pengisian BBM, sedangkan kendaraan listrik cuma butuh pengisian dengan biaya Rp70.000.

“Investor sedang melihat Indonesia untuk pasar otomotif yang besar dan ada potensi EV (electric vehicle) market,” imbuhnya.

Di sektor akomodasi dan pariwisata, lanjut Ali, Indonesia termasuk di Jawa Timur juga menunjukkan sinyal positif sehingga turut menjadi penopang ekonomi daerah.

“Jadi pada 2024 kita melihatnya positif dari finansial market dan sektor riil. Bahkan older companies sudah sangat nafsu dan kecanduan untuk berinvestasi di Indonesia, karena di mana lagi yang bisa memberikan return tinggi, lalu inflasi juga rendah. Dari sisi sektor riil, mereka sudah menunggu, siapapun nanti presidennya nanti akan kelihatan ada FDI yang kencang di Indonesia,” imbuhnya.

Selain faktor makro ekonomi, besarnya daya tarik FDI di Indonesia bagi investor yakni karena populasi market yang sangat besar dengan tingkat penetrasi yang masih rendah, sehingga potensinya untuk digarap masih tinggi.

“Jangankan banking market, di nonbanking pun penetrasi masih sangat rendah. Kita sangat positif di FDI ini, Indonesia akan kecipratan banyak, meski sebelumnya kalah dengan Vietnam, karena waktu itu kita tidak merespons dengan cepat. Vietnam saat itu berani beri tanah gratis 5 tahun, tax insentif gratis, tapi Indonesia sekarang sudah punya Omnibus law,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Peni Widarti
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper